Penulis
2 minggu lalu · 1819 view · 3 min baca menit baca · Politik 33519_39874.jpg
Foto: Tempo

Rizieq Shihab dan Prabowo bagai Pisah Ranjang

Prabowo dan juru bicaranya dengan terang benderang telah mengimbau pendukungnya untuk tidak demo ke gedung Mahkamah Konstitusi. 

Kalau kita mundur ke belakang, di dalam pendukung Prabowo-Sandi ada FPI yang dikomandoi Habib Rizieq Shihab. Melalui ijtimak ulama, Prabowo diusulkan sebagai capres. 

Sebagaimana kita ketahui bersama, Rizieq sangat mendukung setiap langkah politik Prabowo. Namun, setelah rekapitulasi hasil Pilpres 2019, ia tak banyak bicara. 

Ulama-ulama yang mendukung Prabowo juga tak lagi nyaring bersuara. Hanya segelintir yang masih bersuara dan mendukung Prabowo. Bahkan ketika Prabowo menyeru pendukungnya tidak aksi lagi, Rizieq Shihab banyak diam. Ada indikasi dirinya tak sepakat dengan langkah konstitusional Prabowo.

Jelang pembacaan hasil musyawarah hakim MK, FPI dan Prabowo juga tak sejalan. Apakah benar bahwa selama ini Prabowo ditunggangi kelompok tertentu, kelompok yang kini menggunakan halalbihalal untuk aksi ke gedung MK? Menarik kita telusuri kebenaran perpecahan antara Rizieq Shihab dan Prabowo Subianto. Perbedaan mereka terletak pada terima dan tidak terima putusan MK.

Bisa jadi mereka telah 'berpisah' meski belum resmi. Bisa jadi ada kelompok yang tidak peduli dengan siapa capres asalkan aspirasi terakomodasi maka akan didukung. Segala kemungkinan bisa terjadi. Yang pasti, Prabowo mulai tak didengar atau sebaiknya Prabowo yang mendengar aspirasi pendukungnya.

Soal perpecahan Rizieq dan Prabowo, menurut saya, hal yang wajar. Politik memang begitu. Bila kepentingan sudah berbeda, maka 'cerai' atau 'pisah ranjang' akan terjadi. Ibarat kentut, bau perpecahan sangat terasa, namun bisa saja itu bagian skenario. Mengingat mudahnya selama ini gerakan oposisi dibaca pemerintah, maka pura-pura beda itu muslihat baru. Who knows?


Bila terjadi kaos karena keputusan MK tidak sesuai hasrat, tentu akan sulit bagi rezim untuk mengatakan siapa dalangnya. Tuduhan Prabowo sebagai dalang akan terbantahkan karena ia telah melarang aksi di seputaran gedung MK. Bisa jadi gerakan tersebut gerakan nurani rakyat. Bila benar, tentu Indonesia dalam situasi darurat.

Meski secara teori sulit bahkan bisa dikatakan mustahil sebuah gerakan massa tanpa dalang, tapi satu hal yang pasti, Rizieq Shihab dan Prabowo kini sudah tak sejalan. Buktinya, pasca rekapitulasi hasil pilpres oleh KPU, mereka tidak melakukan konsolidasi sebagaimana sebelumnya. 

Gerakan 'liar' yang tak jelas narasinya di depan gedung MK makin membuktikan bahwa arahan Rizieq dan Prabowo jelas beda. Nantinya Prabowo-Sandi akan menerima apa pun hasil keputusan MK sementara Rizieq belum ada tanda-tanda begitu. Apakah ini pertanda Prabowo meninggalkan Rizieq dan memilih bersama Jokowi?

Menarik pula dinanti jika pemulangan Rizieq Shihab menjadi salah satu syarat rekonsiliasi Prabowo-Jokowi. Segala kemungkinan terus berjalan. Manuver elite politik sedang dipantau rakyat. Drama politik pilpres belum ada tanda-tanda berakhir. 

Jika benar Rizieq dan Prabowo sudah berseberangan, maka publik, terutama pendukung Prabowo, akan bertanya, "siapa khianati siapa?"

Jika Prabowo lebih memilih Jokowi ketimbang Rizieq Shihab, tentu saja drama pilpres selesai. Rizieq tidak memiliki parpol yang bisa dikendalikannya. 

Tentu saja ini kemenangan besar Jokowi dengan pecah kongsinya Rizieq dan Prabowo. Rizieq akan menjadi musuh bersama. Toh selama ini tidak jelas, apakah Prabowo yang menunggangi Rizieq atau sebaliknya.

Prabowo mulai berpikir rasional dan realistis. Demi keutuhan negara dan masa depan partai, harusnya ia memilih bersama Jokowi. 

Selama ini sudah didukung Rizieq dan menjadi oposisi, namun selalu gagal. Mencoba strategi baru bukanlah kehinaan. Menjadi mitra pemerintah juga bukan kesalahan. Tidak mungkin terus-terusan menjadi mitra Rizieq Shihab. 

Prabowo tampaknya mulai sadar, Rizieq bukanlah tokoh sentral umat Islam. Pluralnya Islam di Indonesia, termasuk pola pikirnya, telah terbukti. Kelompok Islam yang silent tak tampak dalam kampanye, malah menjadi penentu pilpres. Mereka hanya memantau. Mereka memilih, namun bertindak tegas di bilik suara.


Fakta tersebut yang mulai disadari Prabowo. Muhammadiyah-NU, pemilik suara umat Islam terbesar, tidak hadir ke lapangan kampanye. Namun suara mereka sangat jelas ke mana saat pilpres yang lalu. 

Simbol politik identitas bukanlah ciri umat Islam berpolitik. Faktanya, partai Islam tidak pernah menang di Indonesia. Meski telat, namun Prabowo tak mau lebih telat lagi sadar.

Kini Prabowo sadar bahwa mengusung bendera Islam tidak akan menang di Indonesia. Islam di Indonesia bukan Islam di Timur Tengah; Islam di Indonesia masih menyelaraskan kultur dengan nilai-nilai Islam. 

Sejauh ini, Rizieq Shihab pasti sudah paham maksud Prabowo. Jalan mereka kini beda. "Jalanmu untukmu dan jalanku untukku".

Umat Islam harus memilih berdamai dengan diri sendiri atau terus beragitasi dengan utopia. Menjaga persatuan atau terurai seperti buih di lautan. Menjadi bangsa tercerahkan atau menjadi bangsa terbodohi. 

Setiap pilihan memiliki konsekuensi: mengaku yang kentut dan siap di-bully atau diam sehingga yang lain saling tuding. Rizieq dan Prabowo beda pendapat. Terserah ikut arahan yang mana. Pastinya sama-sama memiliki risiko.

Artikel Terkait