"...buku adalah perpanjangan ingatan dan imajinasi." - Jorge Luis Borges

Bibliosida kurang lebih memiliki makna pembunuhan atau pemusnahan buku. Aksi bibliosida, seingat saya, muncul sebagai tema utama pada novel karangan Ray Bradbury berjudul Fahrenheit 451. Di situ, Bradbury menuliskan kisah Guy Montag, seorang pemadam kebakaran yang tiba-tiba merasa risau.

Ia risau pada profesinya sendiri lantaran di suatu masa di mana kisah itu diceritakan, peran seorang pemadam kebakaran terbilang amat aneh. Alih-alih memadamkan kobaran api, Montag sebagai seorang pemadam kebakaran justru mesti membakar habis buku-buku yang ia temui.

Kerisauan yang serupa juga menghantui Fernando Báez, seorang pakar perbukuan dan perpustakaan asal Venezuela. Sekitar tahun 2003, museum-museum dan perpustakaan-perpustakaan di Baghdad dihancurkan. Jutaan buku dan arsip berharga lenyap bersama kobaran api. Kepada Báez, seorang mahasiswa Baghdad melempar sebuah pertanyaan sederhana yang sekaligus begitu mengusik: mengapa orang menghancurkan buku-buku.

Pertanyaan itu begitu menusuk, sehingga melalui karyanya yang berjudul "Penghancuran Buku Dari Masa ke Masa", Baez berusaha menjawab. Dengan segenap rasa penasaran dan mungkin juga ngeri, Baez pun memasuki peradaban-peradaban paling kelam di masa lampau, di mana pada saat itu buku menghadapi episode-episode kematian yang mengenaskan.

Buku menyimpan ingatan-ingatan. Dalam lembar-lembar kertas berjilid itu, ia mampu merangkum ingatan-ingatan bahkan dari masa yang amat jauh. Sebagai perangkat ingatan, di dalamnya tersimpan manfaat sekaligus dampak bahaya dalam waktu bersamaan.

Anak perempuan yang terkurung di tempat persembunyian akibat perang, misalnya, bisa saja menulis sebuah memoar selama masa-masa suram itu sebelum pada akhirnya ia meninggal akibat typhus di kamp konsentrasi. Kita lantas mengenal gadis itu dengan nama Anne Frank.

Catatan harian gadis itupun menjadi fenomena. Selang pasca catatan harian itu akhirnya ditemukan dan dipublikasi, nama Anne Frank menjadi legenda baru. Berjuta-juta kopi buku diary itupun terjual di mana-mana, beragam karya visual pun dibuat berdasarkan adaptasi kisahnya.

The Diary Of A Young Girl, judul buku harian gadis remaja itu, dengan amat luar biasa mampu menjadi inspirasi sekaligus mengundang rasa simpati jutaan orang di seluruh dunia. Keluguan Anne Frank yang tertulis di buku diary itupun pada akhirnya sudah lebih dari cukup untuk membikin seluruh dunia kian geram terhadap kekejian Jerman pada masa perang dan mengutuk tragedi Holocaust hingga saat ini.

Di lain sisi, buku juga mengandung ingatan-ingatan berbahaya. Buku adalah musuh dan ancaman serius bagi sistem yang tengah berjalan. Ia kerap dianggap terlalu rusuh merecoki kepentingan-kepentingan mereka yang sedang duduk di kursi kekuasaan.

Ibarat kokok ayam di kala fajar, ingatan-ingatan yang tertulis di dalam sebuah buku bisa teramat gaduh sampai-sampai mampu membangunkan mereka para penguasa yang telah nyenyak dalam tidurnya, sekaligus menyadarkan mereka kelompok yang selama ini dicekik segala macam penindasan.

Melalui skema bibliosida, masa lalu atau sejarah coba dihapus untuk selanjutnya bisa ditulis ulang sesuai kepentingan sang penguasa. Dengan demikian, penguasa yang totaliter akan lebih mudah mengontrol persepsi dan pola pikir masyarakat yang berada di bawah ketiak kekuasaannya sesuai dengan apa yang diinginkan. George Orwell menggambarkan skema mengerikan semacam ini dalam novelnya yang fenomenal berjudul "1984". 

Pendeknya, dari kasus-kasus pembunuhan buku yang pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia, latar belakang di balik itu semua nyaris serupa, yaitu paranoia akan ingatan. Peraih nobel sastra Milan Kundera dalam bukunya “The Book Of Laughter And Forgetting" sampai tak lupa mewanti-wanti kita bahwa,

“Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan ingatan melawan lupa."

Kekejian terhadap buku nyatanya tak usai sampai di situ saja. Di Indonesia sendiri, belakangan kekerasan terhadap buku memiliki bentuk yang cukup berbeda, yaitu berupa pelarangan ataupun pencekalan. Pada pertengahan 2017, setidaknya tercatat ada dua kali pelarangan terhadap acara kajian buku.

Yang pertama, yaitu penolakan terhadap acara bedah buku berjudul "Islam Tuhan Islam Manusia" karya Haidar Bagir di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta. Sekelompok massa yang menamai diri sebagai Perhimpunan Pecinta Keluarga Nabi (PPKN) itu melakukan pelarangan lantaran menilai Haidar Bagir sebagai penganut Syiah. 

Tak jauh berbeda dengan itu, acara kajian buku bertajuk “Bedah Buku Salju di Aleppo" bersama penulis Dina Sulaeman yang diselenggarakan oleh Laboratorium Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya terpaksa dibatalkan. Pembatalan itu dilakukan lantaran adanya desakan dari kelompok Ormas yang menamai diri Jama’ah Ansharusy Syari’ah. Alasannya lagi-lagi serupa, pemateri acara bedah buku itu dianggap menganut paham Syiah.

Meski gerakan pelarangan tidak termasuk ke dalam gerakan kelompok bibliokas (sebutan untuk penghancur buku), namun dilihat dari motifnya gerakan mereka nyaris serupa. Menurut Umberto Eco, seorang bibliokas fundamentalis tidak membenci buku sebagai objek, mereka takut akan isinya dan tidak mau orang lain membacanya. Gerakan penghancuran itu dilakukan atas dasar fanatisme, motif yang juga seringkali ditemui pada gerakan pelarangan.

Apabila kita membahas satu demi satu tragedi yang pernah dihadapi oleh buku rasanya tidak akan selesai, sementara persoalan lain di dunia buku terus bergulir. Setelah kita tahu bahwa konsekuensi logis atas kematian buku di antaranya yaitu risiko akan hancurnya ingatan, gagasan, pengetahuan, sejarah, identitas, ideologi, budaya, dan lainnya.

Manusia kini dihadapkan oleh realitas baru yang tak kalah pelik, yaitu perubahan iklim. Realitas baru ini hadir layaknya kotak pandora, memunculkan persoalan baru nan dilematis di dunia buku, utamanya di dunia kertas. 

Pohon-pohon, yang menurut para ahli berperan menjaga kestabilan iklim, selama ini ditebang dan dikorbankan salah satunya demi keperluan pemenuhan produksi kertas, pemenuhan kebutuhan manusia. Buku, di satu sisi membawa manfaat literasi dan lain-lain, sementara di sisi lainnya ia mengorbankan banyak hal. Satu kutipan ironis ini barangkali tepat: 

"Every time you open a book and read it, a tree smiles knowing there's life after death."

Manusia menghadapi dilema. Perubahan iklim sama sekali bukanlah wacana propagandis yang digaung-gaungkan oleh para politikus, melainkan realitas alami yang kelak menantang eksistensi manusia juga pada akhirnya. Tetapi bukankah di lain sisi manusia juga toh tak bisa diam saja membiarkan ingatan-ingatan berserakan lenyap belaka sementara para penguasa amat mudahnya lupa. Lantas bagaimana?

Revolusi pun coba dilakukan. Manusia beramai-ramai menciptakan peradaban baru, yaitu peradaban dunia tanpa kertas (paperless society). Konsep buku yang semula adalah kertas-kertas yang dijilid rapi, berisi tulisan dan memiliki ketebalan tertentu, kini manusia harus mampu beradaptasi dengan konsep yang sama sekali baru. 

Persepsi tentang buku pun coba digeser. Di mana semula buku dianggap memiliki format fisik, sekarang ia berbentuk nir-kertas atau digital, yang mana mesti dibaca dengan menggunakan gawai pintar. Karenanya orang-orang pun menambahkan istilah "elektronik" setelah kata "buku" sebagai sebutan baru untuk perangkat buku tanpa kertas ini. Istilah "buku elektronik" atau dalam bahasa Inggris "ebook" muncul.

Tak hanya buku, aspek-aspek hidup manusia yang lain juga terkena imbas revolusi peradaban ini. Hampir segalanya coba dibiasakan untuk mampu beradaptasi tanpa kertas. Sebut saja tiket elektronik, undangan elektronik, surat elektronik, uang elektronik, dan lain-lain.

Meski ebook sebagai alternatif perangkat bacaan tampaknya cukup menjanjikan, namun nyatanya itu tidak serta-merta berjalan semulus layar gawai pintar. Dari data Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) yang terangkum dalam "Industri Penerbitan Buku Indonesia: Dalam Data dan Fakta" (2015), kita lantas mengetahui bahwa penjualan ebook di Indonesia baru mencapai 2 persen saja. Tentu saja banyak faktor yang menjadi penyebab mengapa si buku elektronik ini tidak lantas menjadi pilihan. Tetapi saya menduga keras romantika kertas adalah salah satu biang keladinya.

Tak dapat dipungkiri, aroma kertas yang khas dan pengalaman ketika membolak-balik halaman buku memiliki rasa tersendiri, yang mana itu tak dapat ditemui pada saat membaca buku elektronikRomantika bersama kertas tampaknya telah menjadi satu kebiasaan yang terlanjur melekat pada hidup manusia hingga kehadiran buku elektronik yang coba menawarkan segala kepraktisan pun tidak cukup berhasil.

Romantisme semacam inilah yang lantas mampu mengikat manusia untuk tetap merasa nyaman berlama-lama membaca buku fisik ketimbang buku elektronik. Nyatanya, demikianlah peradaban bekerja. Manusia sekali lagi dihadapkan dengan zaman transisi, sebagaimana para pendahulu kita mesti menghadapi transisi dari yang semula tablet kuno ke gulungan perkamen, dan dari gulungan perkamen ke buku.

Kini, kita mesti siap berhadapan dengan buku elektronik, spesies baru buku tanpa kertas itu. Akan tetapi, jika memang kita belum benar-benar siap menjadi bagian masyarakat tanpa kertas (paperless society), maka kita mesti bergegas mencari alternatif lain bagaimana supaya buku tetap hidup sementara pohon-pohon tidak menemui kematian.

Dengan demikian, di satu sore di masa-masa yang akan datang orang-orang dapat membaca buku sembari berteduh di bawah pohon rindang, bukan hanya mengurung diri di dalam kamar lantaran bumi sudah terlalu gersang. Akhirnya, kutipan ironis tentang buku dan pohon yang saya sebut di atas barangkali dapat kita revisi menjadi begini: "Every time you open a book and read it, a tree smiles knowing himself still alive."