Kalau anda banyak menghabiskan waktu di dunia maya, anda mesti sudah terbiasa disuguhi banyak berita online yang disebarkan atau ditulis tentang segala hal. Sebagaimana halnya di pasar, seringkali informasi yang ditawarkan tak begitu berguna untuk kita, bahkan lebih banyak informasi yang menyesatkan.

Terkadang ada berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat. Juga selebaran yang anakronis dengan slogannya. Aksi Damai untuk Menjatuhkan Seseorang. Damai dan Menjatuhkan, seperti dua kata yang lahir di kutub berbeda. Tapi mereka yang mengusungnya merasa punya legitimasi karena mengaku memiliki taraf keagamaan paripurna.

Misalnya Ahok yang kelanjur dicap sebagai “Kafir, Cina dan Mulut comberan” itu, disebar-sebarkan sebagai koruptor Bus TransJakarta, Proyek Pengadaan UPS dan kini yang lagi heboh: RS Sumber Waras. Meski KPK sudah beberapa kali mengumumkan bahwa tak ada indikasi korupsi yang dilakukan Ahok di kasus RS Sumber Waras itu, tapi para tukang fitnah ini tetap ngeyel menuduh Ahok sebagai koruptor sambil berencana membuat aksi “damai” sejuta umat beragama tertentu untuk – errr, dengan kata-kata damai – menyeret dan memenjarakan Ahok? Belum lagi teriakan hujatan mereka bahwa KPK sudah dikuasai para pendukung Ahok sehingga lagi-lagi mereka meneriakkan untuk “membersihkan” KPK juga.

Nalar yang dangkal terkadang mudah begitu saja menerima informasi yang menyesatkan itu. Apa guna informasi menyesatkan disebar-sebar? Saya juga sama bingungnya, tapi dugaan awal saya bahwa pihak penyebar itu berkepentingan untuk membentuk opini tertentu agar menguntungkan kelompoknya. Tak ada yang berdagang tanpa mengharapkan keuntungan.

Jualan-jualan kampanye hitam semasa Pilpres 2014 sebentar lagi akan kembali dimasukkan ke tungku masak jelang Pilkada DKI 2017 nanti. Issue-issue lama akan kembali didaur ulang, soal keterlibatan cukong asing, soal kepentingan untuk menjual kekayaan negeri ke pihak tertentu, soal proyek memperkenalkan aqidah sesat ke ibukota dan konon akan mengganti keyakinan seluruh penduduk negeri dan sebagainya.

Untuk memperkuat perkabaran itu, penyebar berita busuk itu menampilkan gambar-gambar yang seakan-akan itulah obyek berita, tak lupa pula terkadang melampirkan link berita dari sumbernya yang tak lain hanya tautan ke blog atau media yang tak bisa diverifikasi kemampuannya mengolah produk jurnalistik. Apa yang terjadi, para pengguna dunia maya yang bersemangat segera menyebarkan berita itu.

Menyebarkan berita pada intinya setuju dengan isi berita, kecuali memberi pengantar negatif bagaimana sikapnya terhadap itu. Menyebarkan berita di dunia maya memang murah meriah, karena hanya bermodalkan jempol dan jaringan sekadarnya.

Orang yang punya pemikiran sama dangkalnya, segera memberikan pujian dan dukungan dan tak lupa ikut menyebarkan. Maka tersebarlah kebodohan. Tadinya hanya berseliweran di dunia maya, kemudian membentuk pola pikir serupa di dunia nyata.

Walhasil, sekelompok manusia dengan pemikiran yang sederhana teracuni dan mungkin saja melakukan kerusakan yang tak kalah rusuhnya di dunia nyata. Meski belum begitu masif terjadi, namun beberapa demonstrasi dan diskusi di masyarakat kadang terpicu oleh issue yang tak jelas di dunia maya.

Dulu kearifan lokal dan agama menasehati kita bahwa “fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”. Tapi kini, sejak pilpres hingga kini jelang pilkada DKI, sayangnya justru banyak fitnah malah disemburkan oleh mereka yang mengaku bijak sambil membawa busana agama.

Lama-kelamaan, orang akan semakin sentimen kepada agama sekira wajah yang ditampilkan penganutnya justru wajah yang gemar memfitnah, mencaci maki, mengkafirkan sesamanya, dan semacamnya.

Ada yang mulai menghilang dari masyarakat kita kini. Yakni ketelitian dan kehati-hatian mengelola berita. Berita yang kemudian dijadikan wacana membutuhkan klarifikasi yang tak mudah. Mengolah berita itu sama halnya dengan mengolah produk ilmiah, selalu mesti melalui riset dan mengambil sumber dari segala matra.

Apalagi yang menceritakan tentang orang, kelompok atau keyakinan tertentu, mesti juga menyertakan keterangan dan penjelasan dari mereka yang dijadikan obyek berita. Perbedaan pandangan politik, aliran keagamaan, dan segalanya meniscayakan adanya gesekan yang bisa saja menimbulkan kebencian.

Kebencian, apalagi didasarkan “hanya” pada informasi yang berseliweran di dunia maya tentu terlalu murah untuk ditanamkan ke kepala kita, membentuk waham yang sayangnya dikemudian hari sulit untuk dikoreksi.

Mulai kini, mari mempersenjatai nalar kita dengan riset. Ada baiknya menanamkan sikap skeptis, atau kurang percaya kepada sebuah berita, terutama berita yang luar biasa anehnya dan memperdaya akal sehat, sebelum melakukan klarifikasi.

Kadang-kadang sikap bersabar menunggu perkembangan beirta sampai 3-5 hari kemudian juga diperlukan. Karena dalam rentang waktu itu, ketika issue sudah menjadi umum dan dibicarakan banyak orang, obyek berita terkadang sudah muncul menyampaikan klarifikasi.

Nalar yang membusuk, kadang mengabaikan klarifikasi. Untuk yang nalarnya membusuk itu, tak ada cara bijak lain selain kita “remove” atau “delete” dari dunia maya kita.