Setiap suku bangsa memiliki budaya, adat (tradisi) atau kebiasaan yang berbeda-beda. Hal ini juga berlaku pada negera Indonesia. Indonesia adalah negara yang terdiri dari berbagai pulau yang dihuni oleh berbagai macam bangsa. Maka demikian, situasi dan kondisi lingkungan tempat dimana mereka tinggal mempunyai peran yang baik untuk melahirkan ide-ide dalam proses penciptaan suatu kebudayaan dan tradisi. Adapun istilah kebudayaan atau culture pada dasarnya berasal dari kata kerja bahasa Latin,  colere  yang  berarti bercocok tanam (cultivation). 

Kemudian pada perkembangan selanjutnya, arti cultivation dalam bahasa Indonesia memiliki arti tersendiri, yaitu pemeliharaan ternak, hasil bumi, dan upacara-upacara religius yang dari diturunkan istilah kultur. Perilaku keagamaan pada masyarakat pedesaan secara umum berbeda dengan masyarakat perkotaan. 

Bila masyarakat pedesaan memiliki karakteristik seperti jumlah penduduk yang relative kecil, bermata pencarian pokok di bidang pertanian, penuh dengan kekeluargaan, dan berorientasi pada nilai-nilai tradisionalisme, maka masyarakat perkotaan sebaliknya, lebih pluralisme, Individual, dan berorientasi pada nilai-nilai moderenisme. Dan dalam perbedaan keduanya juga tentu akan melahirkan perilaku keagamaan yang berbeda sesuai tingkat pemahaman dan pendidikannya.

Kehidupan Masyarakat Banjar begitu erat dengan adat istiadat yang mengandung nilai-nilai sosial yang mencakup kearifan hidup. Tak terkecuali dengan masyarakat Desa Ujung Lama Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah laut yang hingga hari ini masih menyelenggarakan ritual memanen padi sebagai ucapan rasa syukur kepada sang Pencipta.

Masyarakat Desa Ujung Lama mayoritas penduduk beragama Islam. Selain itu sebagian besar masyarakat di Desa Ujung lama ini berprofesi sebagai petani, hal itu dikarenakan sebagain besar wilayahnya dikelilingi oleh area persawahan.

Pada umumnya kehidupan sehari-hari masyarakat Desa Ujung Lama relatif sudah modern. Hal ini terlihat dari cara mereka bercocok tanam atau bertani yang sudah menggunakan alat-alat pertanian modern, misalnya penggunakan traktor untuk membajak sawah dan diesel untuk mengairi area persawahan pada saat mengalami kekeringan, dan saat ini sudah ada mesin traktor untuk memanen padi. 

Meski dalam kegiatan bercocok tanam maupun memanen mereka sudah menggunakan alat modern, namun mereka tetap tidak meninggalkan cara-cara tradisionalnya dalam mengelola sawahnya seperti halnya pada waktu memamanen padi, petani setempat masih menggunakan Ranggaman (alat panen padi tradisional khas Banjar) dan ada ketentuan hari dan sebagainya untuk  melakukan ritual memanen padi terlebih dahulu sebelum memulai memanen padi. 

Kegiatan upacara ritual memanen padi yang dilakukan oleh masyarakat di Desa Ujung lama Kecamatan Bati-Bati ini masih terus dilestarikan hingga saat ini.

Secara umum dengan dilaksanakannya ritual memanen padi saat panen akan membuat masyarakat saling berinteraksi satu sama lain dan memperkokoh jalinan silaturahmi antar umat beragama dalam hal ini secara efektif dapat menjaga keharmonisan antar masyarakat di Desa Ujung Lama.

Dalam prosesnya ritual memanen padi ini bisa dilakukan sendiri oleh pemilik hajat, setelah itu baru mengundang masyarakat atau tetangga untuk berdoa bersama. Adanya ritual memanen padi ini selain untuk melestarikan warisan nenek moyang yang sudah dilakukan secara turun temurun juga untuk membangun relasi sosial di antara masyarakat di Desa Ujung lama. 

Ritual tersebut tentunya menjadi hal yang menarik untuk diteliti karena saat ini ritual semacam itu sudah jarang ditemui pada masyarakat setempat. Dalam hal ini peneliti tertarik untuk mengkaji lebih dalam tentang makna ritual memulai panen padi di kalangan petani padi di Desa Ujung lama Kecamatan Bati-Bati Kabupaten Tanah laut sebagai bentuk kearifan lokal petani setempat. 

Dimana relasi petani dengan sesama petani dan relasi petani dengan alam termanifestasi dalam simbol-simbol yang mereka gunakan dalam ritual memanen padi.

Inti keagamaan seperti iman dan taqwa pada dasarnya adalah individual (hanya allah yang mengetahui iman dan taqwa seseorang seperti banyak ditegaskan dalam ajaran agama itu sendiri), kendati demikian, para pemeluk agama tidaklah berdiri sendiri-sendiri sebagai pribadi-pribadi yang terpisah. Mereka membentuk masyarakat atau komunitas. 

Setingkat kadar intensitas keagamaannya itu masyarakat atau komunitas yang mereka bentuk bersifat sejak dari yang sangat agamis sampai kepada yang kurang atau yang tidak agamis.

Aqidah secara bahasa berasal dari kata عقد yang berarti ikatan. Secara istilah, aqidah adalah keyakinan hati atas sesuatu. Menurut T. M. Hasbi ash-Shiddieqy, aqidah adalah urusan yang harus dibenarkan dalam hati dan diterimanya dengan cara puas, serta tertanam kuat ke dalam lubuk jiwa dan tidak dapat digoncangkan oleh badai subhat. 

Hassan al-Banna, mendefinisikan akidah adalah sebagai sesuatu yang mengharuskan hati yang membenarkan, yang membuat jiwa tenang, tentram kepadanya dan yang menjadi kepercayaan bersih dari kebimbangan. 

Menurut Ibrahim Muhammad bin Abdullah al-Burnikan, kata akidah telah melalui perkembangan makna, melalui beberapa tahap, yaitu: 

Tahap pertama, akidah diartikan sebagai: Tekad yang bulat (al-azm al-muakkad), mengumpulkan (al-jam’u), Niat (al-niyah), menguatkan perjanjian, sesuatu yang diyakini dan dianut oleh manusia baik itu, benar atau bathil. 

Tahap kedua, perbuatan hati (sang hamba). Kemudian aqidah didefinisikan sebagai keimanan yang tidak mengandung kontra. Maksudnya membenarkan bahwa tidak ada sesuatu selain iman dalam hati sang hamba, tidak diasumsi selain, bahwa ia beriman kepada-Nya. 

Tahap ketiga, di sini akidah telah memasuki masa kematangan di mana ia telah terstruktur sehingga disiplin ilmu dengan ruang lingkup permasalahan tersendiri.

Oleh karena itu, aqidah Islam (al-aqidah al-Islamiyah) merupakan keyakinan atas sesuatu yang terdapat dalam apa yang disebut dengan rukun iman, yaitu keyakinan kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan taqdir baik dan buruk.

Dalam hadis Rasulullah Saw dijelaskan tentang Rukun Iman yang terdiri atas 6 perkara yaitu: Iman kepada Allah, Iman kepada malaikat Allah Iman kepada Kitab Allāh (Al-Qur'an, Injil, Taurat, Zabur dan suhuf) Iman kepada nabi dan rasul Allah Iman kepada hari kiamat Iman kepada qada dan qadar.