Saya masih teringat beberapa bulan yang lalu, guru kesenian di tingkat SMA meminta saya membantu beliau dalam sebuah penciptaan karya tari untuk diperlombakan dalam sebuah festival kesenian di tingkat Jawa Timur. Saat itu saya berperan menuliskan naskah bagi karya tarinya. 

Hal menarik dalam tugas tersebut ialah saya membuat naskah untuk sebuah karya tari yang mengangkat kebudayaan masyarakat Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kebudayaan tersebut adalah ritual Manten Kucing. 

Meskipun bukan warga Kabupaten Malang, namun menjadi warga Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) adalah kebanggaan kultural tersendiri ketika mengetahui bahwa masyarakat kita sejatinya memiliki kebudayaan yang unik dan menarik. Salah satunya, yaitu Manten Kucing.

Ritual Manten Kucing sebagai Konfigurasi Kebudayaan

Membicarakan kebudayaan adalah persoalan yang tidak pernah purna dan tuntas. Pembahasan maupun kajian yang komprehensif dan holistik sekalipun tidak pernah memberikan pandangan tunggal terkait kebudayaan karena kompleksitasnya dalam kehidupan manusia.

Namun, Tylor dan Kroeber (2003) menguraikan kebudayaan sebagai pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, tindakan, dan pelbagai perilaku manusia. Kebudayaan tersebut lantas bersinergi sebagai tata kelakuan dan adat istiadat bagi masyarakat sebagai pelaku kebudayaan.

Salah satu konfigurasi kebudayaan adalah ritual. Hubert dan Mauss (1992) memaparkan bahwa ritual merupakan bentuk pensakralan terhadap suatu benda, individu, peristiwa, fenomena gagasan dan kepercayaan. Tentu saja, dalam kapasitasnya sebagai ritual, Manten Kucing merupakan konfigurasi kebudayaan.

Ritual Manten Kucing merupakan ritual yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Sumberrejo, Kecamatan Gedangan, Kabupaten Malang. Manten berarti pasangan dalam pernikahan; sedangkan kucing adalah hewan kucing. Jadi, Manten Kucing diartikan sebagai ritual menikahkan kucing. 

Dalam pelaksanaan ritual ini, masyarakat desa mempertemukan dan menikahkan sepasang kucing jantan dan betina berwarna putih laiknya pengantin manusia. Ritual ini konon merupakan permohonan masyarakat kepada Gusti Ingkang Murbeng Dumadi agar berkenan menurunkan hujan bagi petani.

Ritual ini merupakan kebudayaan temporer. Dengan kata lain, pelaksanaannya hanya bersifat insidental, yaitu ketika terjadi musim kemarau berkepanjangan. Masyarakat memohon turun hujan supaya paceklik tidak menggagalkan panen dan pertanian mereka.

Pelaksanaan ritual Manten Kucing terbagi atas tiga tahapan: praritual, ritual inti, dan pascaritual. Pada praritual, masyarakat harus mencari dan mempertemukan sepasang kucing candramawa, yaitu kucing jantan dan betina yang sekujur tubuhnya berambut putih. 

Selain itu, masyarakat juga menyiapkan kandang dan tandu yang dihias untuk mengarak kucing tersebut. Para warga juga menyiapkan uba rampe, yaitu makanan-makanan, nasi tumpeng, daging ayam utuh (ingkung), nasi golong, serta dua buah kembang mayar yang lazim dalam pesta pernikahan.

Pada ritual ini, masyarakat desa secara bersama-sama mengarak sepasang kucing tersebut lengkap dengan iring-iringan uba rampe, selawat, dan barisan kesenian, seperti halnya masyarakat mengarak sepasang pengantin. Arak-arakan ini akan menuju sungai umbulan, yaitu sungai dengan sumber mata air utama. 

Di sungai tersebut masyarakat menyaksikan proses menikahkan kucing dengan ijab kabul yang dipimpin oleh pemangku adat desa. Kedua kucing itu lalu dibasuhkan pada air sungai untuk selanjutnya dilepas. 

Seusai acara inti ini, masyarakat desa duduk bersama untuk melaksanakan kenduri atau selametan. Masyarakat mengumpulkan uba rampe dan makanan-makanan yang dibawa untuk didoakan dan selanjutnya disantap bersama-sama. Selanjutnya, masyarakat menggelar tikar dan salat istisqa (mohon turun hujan).

Pascaritual inti Manten Kucing ditutup dengan diselenggarakannya seni jaranan yang menampilkan properti-properti topeng berwujud kera, banteng, monyet, dan harimau. Kesenian ini dilaksanakan sebagai ungkapan syukur dan memohon agar ritual Manten Kucing tersebut membuahkan hasil. 

Ritual Manten Kucing sebagai Moda Sekuritas Sosial

Tidak bisa kita pungkiri bahwa kebudayaan adalah simbol. Hal ini sebagaimana Geertz (dalam Sobur, 2006) menguraikan bahwa kebudayaan terbentuk atas konsep-konsep yang diungkapkan melalui simbol-simbol. Melalui simbol itulah masyarakat budaya berkomunikasi melalui kebudayaannya.

Pemaknaan terhadap simbol-simbol tersebut tentu saja merupakan upaya memperluas cakrawala wawasan kita sebagai masyarakat budaya. Demikian pula ritual Manten Kucing merupakan pengejawantahan simbol-simbol yang menjadi sarana komunikasi. Di balik simbol itu tersajikan makna kebudayaan.

Sementara itu, sekuritas sosial merupakan fenomena sosial terkait usaha masyarakat terhadap pemenuhan kebutuhan dan penyelesaian masalah. Pelaksanaan sekuritas sosial dalam konteks kultural menjadi ruang aktualisasi bagi simbol-simbol kebudayaan yang memuat pesan atau makna tertentu. 

Dalam sekuritas sosial, ritual Manten Kucing merefleksikan kemanunggalan masyarakat plural dalam suatu tatanan multikulturalisme. Multikulturalisme sebagai konsep politik dan kebijakan menempatkan dan mengakomodasi masyarakat plural atau keragaman budaya sebagai suatu kesetaraan. 

Dalam hal ini, ritual Manten Kucing mempertemukan masyarakat Islam abangan dengan kiblat keyakinan terhadap Hindu-Buddha; dengan Islam santri atau putihan yang merujuk pada doktrin dan ajaran Islam. 

Islam abangan direpresentasikan oleh penggunaan sesaji, kenduri, dan permohonan kepada penguasa alam magis. Sementara itu, keterlibatan Islam putihan ditandai melalui penggunaan kucing putih sebagai simbol kesayangan Nabi Muhammad SAW dan kesucian, shalawat, ijab kabul, serta shalat istisqa.

Ritual Manten Kucing sebagai ruang akomodasi pertemuan dua keragaman budaya menempatkan usaha tolong menolong sebagai bentuk lain dari sekuritas sosial. Menjelang pelaksanaan ritual, masyarakat saling memberikan bantuan berupa materi, barang, uang, maupun tenaga. 

Semua lapisan masyarakat akan memberikan kontribusi untuk mempersiapkan dan melaksanakan ritual, seperti penyiapan sesaji, makanan, kenduri, uba rampe, dan protokol kultural pelaksanaan ritual.

Ritual Manten Kucing memapankan diri sebagai kebudayaan lokal yang menyatu dengan sistem kepercayaan, norma, budaya, tradisi, mitos, dalam jangka waktu yang telah lama. 

Ritual yang telah bertumbuh kembang di masyarakat ini lantas dipercaya dan diakui sebagai instrumen penting yang mampu merekatkan kohesi sosial masyarakat dengan nilai-nilai budaya yang dihayati dan dianggap berharga.

Pada akhirnya, ritual Manten Kucing menuntun masyarakat dalam pencapaian keunggulan secara kultural, etos masyarakat, serta keseimbangan dan keharmonisan alam dan sosial. Ritual menjadi ikhtiar kebudayaan yang menawarkan filosofi hidup bagi masyarakat pedesaan.