Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menyelenggarakan kongres ke-XXXI di Kota Surabaya (17-22 Maret 2021) meski di tengah pandemi yang masih menghantui. Kongres kali ini mengangkat tema “Merajut Persatuan Untuk Indonesia Berdaulat dan Berkeadilan”. 

Tafsir bebas dari tema ini ialah bagaimana persatuan dijadikan sebagai kunci utama bagi arah perbaikan. Calon pemimpin yang baru dituntut untuk mampu membawa iklim persatuan baik dalam konteks politik internal di tubuh HMI, maupun secara luas bagi persatuan bangsa Indonesia.

Forum kongres bukan hanya ajang pemilihan ketua umum yang baru sebagai bagian dari ritual estafet kepemimpinan. Sebagai momentum pesta demokrasi tertinggi bagi kader hijau hitam dalam menentukan nahkoda baru organisasi, kongres HMI juga harus menjadi wadah dinamis atas agenda sosialisasi dan proyeksi kebutuhan masyarakat mendatang dengan merumuskan rekomendasi-rekomendasi strategis, taktis dan aktual bagi umat Islam dan bangsa Indonesia.

Jika forum kongres hanya dijadikan sebagai gelanggang perebutan kursi kepemimpinan, adu jotos, dan ‘lomba’ keras-kerasan suara, maka pelaksanaan kongres HMI hanya akan bersifat ritualistik yang miskin makna dan nilai-nilai substantif. Maka tidak salah, jika ada beberapa kader yang menjadikan kegiatan kongres sebagai secondary activity, karena yang primary adalah berdagang, yakni jualan baju/kaos, merchandise, buku, rokok dan apapun yang bisa dijual, bahkan ‘suara’.

Maka dari itu, pada konteks pemilihan ketua umum, forum kongres seharusnya tidak hanya berbicara tentang ‘siapa’ yang akan menjadi pemimpin selanjutnya, tetapi juga harus berbicara ‘seperti apa’ sosok pemimpin yang dibutuhkkan. Melalui proses ini, forum kongres akan menjadi lokus perdebatan intelektual dan adu gagasan yang produktif, tidak lagi membicarakan tentang ‘siapa’ (apalagi harus memperdebatkan dari kelompok mana) tetapi mendiskusikan ‘seperti apa’ pemimpin yang ideal dan cocok sebagaimana kebutuhan HMI dan bangsa Indonesia.

Kebutuhan HMI atas sosok pemimpin saat ini dan juga di masa mendatang tidak cukup hanya bertumpu pada kualifikasi individualis. Apalagi kualifikasi imajiner yang hanya ‘muncul’ ketika kontestasi pemilihan ketua umum tiba, seperti menerbitkan buku untuk mendongkrak citra, mencatutkan diri sebagai kandidat doktor, ataupun paripurna-isasi jenjang kaderisasi. 

Lebih dari itu, kebutuhan dan tantangan ke depan yang akan dihadapi oleh HMI, umat Islam dan bangsa Indonesia jauh lebih kompleks, tidak cukup hanya diselesaikan dengan quotes-quotes ataupun baca buku seri motivasi dan pengembangan diri.

HMI membutuhkan seseorang yang mampu merangkai aspek-aspek yang tercerai berai dan menggabungkannya menjadi piranti utuh. HMI harus berani menendang kandidat-kandidat beserta para jongki yang tidak masuk kualifikasi serta mulai menetapkan proyeksi kepemimpinan kontekstual dan transformatif. Setidaknya terdapat empat kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh calon pemimpin HMI.

Pertama, berpikir kritis (critical thinking). Kemampuan ini secara terminologis didefinisikan sebagai konstruk berpikir rasional, jeli dan berdasarkan pada fakta atau data yang bisa dipertanggungjawabkan. 

Seorang pemimpin yang memiliki kualifikasi berpikir kritis tidak akan mudah dipengaruhi, di-steer, dan tergiur oleh stimulus semu dalam pecahan lima puluh atau seratus ribu, karena ia selalu mempertimbangkan setiap keputusan, perkataan dan pemikirannya pada proses observasi, refleksi dan proyeksi.

Kedua, kreativitas (creativifty). Skill kreatif merupakan kemampuan seseorang dalam melihat peluang, tantangan dan kesinambungan sebagai dasar pijakan dalam melangkah. Kreativitas identik dengan kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru atau berinovasi pada  sesuatu yang telah ada. 

Pemimpin yang kreatif berarti tidak selalu mengekor pada senior, apalagi membeo pada skenario. Pemimpin kreatif juga berarti berani untuk mengambil langkah anti mainstream, dan tidak tunduk pada penguasa zalim karena ia selalu memiliki ide-ide cerdas dan kreatif dalam menentukan langkah dan arah.

Ketiga, komunikasi (communication). Kemampuan berkomunikasi bukan berarti kelincahan dalam hal olah-olah atau beretorika di hadapan publik. Kualifikasi kader HMI dalam urusan olah-olah tidak ada tandingannya, apalagi misalnya para kandidat ketua umum PB HMI merupakan sosok-sosok yang sudah berurat leher di tubuh Himpunan. Namun yang paling penting dalam aspek komunikasi ialah bagaimana seseorang mampu mentransformasikan visinya kepada orang lain sehingga orang lain mampu dan mau untuk bekerja sama dengan baik. 

Hal ini menegaskan bahwa kemampuan berkomunikasi senantiasa bertalian dengan kemampuan berkolaborasi. Artinya, kolaborasi tanpa komunikasi yang baik hanya akan melahirkan perdebatan, de-orientasi tujuan dan pada akhirnya menimbulkan perpecahan. 

Konflik yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan adalah getah dari buruknya proses komunikasi. Semakin bobrok kemampuan komunikasi seorang pemimpin, maka akan semakin banyak konflik dan perpecahan yang akan terjadi.

Keempat, kolaborasi (collaboration). Skill kolaborasi menjadi tolak ukur sejauh mana kualitas pemimpin diuji. Kata Jack Ma, semakin cerdas seseorang maka akan semakin sulit untuk bekerjasama. Seseorang akan lebih mudah untuk mengakomodir dan mengajak kerja sama sekumpulan orang-orang bodoh, sebaliknya, akan sulit ketika mengajak orang-orang cerdas untuk mau dan saling membantu dalam mengerjakan sesuatu. 

Ini disebabkan oleh kecenderungan sebagian besar orang-orang cerdas untuk bersikap self-sufficient (merasa cukup dengan dirinya sendiri) dan lebih mengedepankan sikap egoisme dan angkuhisme dengan kebanggaan sebagai penyandang predikat ‘cumlaude’ pemikiran.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa kader-kader HMI dikenal memiliki intelektualitas ‘tingkat dewa’. Terkadang ini justru ‘menyusahkan’ mereka untuk mau saling menerima gagasan. Pasalnya, kolaborasi identik dengan kemauan dan kemampuan untuk menerima gagasan dari orang lain jika memang lebih baik dan relevan dalam konteks tertentu. 

Kolaborasi tidak akan terjalin apabila masing-masing individu masih mengedepankan egoisme dan angkuhisme. Artinya secara filosofis, seseorang harus mampu mengamalkan prinsip "kepentingan bersama dijunjung sementara kepentingan pribadi dikungkung”.

Pemimpin yang memiliki kemampuan kolaboratif berarti memiliki kecenderungan pemikiran resolutif dan akomodatif, serta tidak menggunakan pendekatan konfrontatif dalam menyelesaikan masalah. HMI membutuhkan seseorang pemimpin yang mampu menjadi 'jembatan' bagi orang-orang cerdas untuk melintasi jurang keangkuhan. 

Terjadinya perpecahan adalah buah ‘khuldi’ pemimpin karena gagal mengakomodasi orang-orang cerdas di HMI untuk berkolaborasi. Maka, sosok pemimpin HMI haruslah seseorang yang benar-benar memiliki skill ‘engineering’ yang handal agar mampu membangun ‘jembatan’ yang kokoh bagi suksesi kolaborasi.

Dus, jika memang momentum kongres HMI ke-XXXI di Surabaya ini adalah ikhtiar dalam merajut persatuan dan berniat konsisten pada hal tersebut, maka para kandidat ketua umum PB HMI harus mampu membuktikan dirinya sebagai penyandang kualifikasi tersebut.

Akhirnya, saya mengucapkan selamat berkongres, semoga tidak molor. Yakusa!