Konon, di kalangan para penulis, ada satu ungkapan yang kurang lebih berbunyi: seorang penulis "sejati" tidak akan menceritakan kepada dunia tentang apa yang diupayakannya agar tetap produktif menulis setiap hari.

Tapi, karena ini hari Minggu, dan saya bukanlah seorang penulis sejati, maka saya ingin sedikit berbagi tentang topik tabu itu.

Sebelum itu, saya ingin menjernihkan satu hal: menulis bukanlah pekerjaan yang ringan. Kita bisa meminta "go cleaning" untuk menggantikan kita membersihkan rumah, mencuci mobil, dan sebagainya. Tapi menuangkan apa yang sesungguhnya ada dalam pikiran dan hati kita, hanya diri kita sendiri yang bisa melakukannya.

Saya sering mendengar ada orang-orang tertentu yang menyewa "penulis hantu" untuk menulis autobiografi mereka. Tapi saya yakin, hasilnya tidak akan pernah sepenuhnya sesuai dengan aspirasi jika ditulis sendiri. Dia tidak hanya membohongi dunia, tapi juga membohongi diri sendiri.

Dengan kata lain, menulis adalah pekerjaan yang berat, tak terwakilkan, dan harus sendirian.

Oleh karena itu, saya percaya bahwa pasti ada "satu suara tertentu" yang terus-terusan menggema di kepala seorang, sehingga dia mau bersusah payah untuk tetap menulis.

Jika saya ada banyak waktu, mungkin kelak saya ingin melakukan penelitian, dan selanjutnya menulis buku khusus tentang suara-suara di kepala para penulis itu. Tapi, untuk sekarang, biarlah saya menuliskan suara yang ada di kepala saya sendiri.

Dan, jika diringkas, suara-suara yang ada di benak saya termaterialisasi di dalam dua buku ini. Kedua buku ini bercerita tentang bagaimana "ritual harian" dua novelis nominator nobel sastra: Murakami dan Hemingway.

Jika yang pertama masih hidup hari ini, yang kedua adalah penulis yang hidup di sekitar perang dunia kedua.

Hemingway punya kebiasaan menulis di kafe-kafe di Paris dari mulai terbitnya matahari sampai dengan tengah hari. Lalu dia lanjutkan dengan jalan-jalan menyusuri kota itu, mengunjungi museum, dan melihat berbagai lukisan.

Buku itu bercerita tentang masa-masa berat saat dia belum dikenal dan dia bukanlah siapa-siapa. Ada satu chapter yang berjudul "Hunger was a Good Discipline", yang menceritakan betapa dia selalu dalam keadaan "setengah lapar" saat menulis.

Dia meyakini bahwa para artis, pelukis hebat, pasti melahirkan karya mereka dalam keadaan setengah lapar. Dalam kata-kata Hemingway:

"I learned to understand Cézanne much better and to see truly how he made landscapes when I was hungry. I used to wonder if he were hungry too when he painted; but I thought it was possibly only that he had forgotten to eat."

Dan begitulah, buku ini mengisahkan perjuangan dan kerja keras Hemingway muda. Namun, justru di situlah letak keindahannya.

Murakami juga merupakan tipe penulis pagi hari. Dia akan menulis dari mulai terjaga sampai dengan tengah hari. Menariknya, seperti tertulis dalam judul buku di atas, dia lanjutkan aktivitas itu dengan lari.

Awalnya dia menjadikan aktivitas lari sebagai upaya untuk menjaga tubuhnya tetap sehat. Ini karena, baginya, menulis adalah aktivitas yang "physically demanding". Tak lain karena penulis harus merenung dan berpikir keras dan "literally" duduk di satu tempat yang sama selama berjam-jam setiap hari.

Lama kelamaan, dia melihat lari sebagai semacam "meditasi fisik" karena ia merupakan momen yang memaksanya untuk tidak memikirkan apa pun terkait tulisan. Dalam kata-katanya sendiri:

"As I run I tell my self to think of a river. And clouds. But essentially I'm not think of a thing. All I do is keep on running in my own cozy, homemade void, my own nostalgic silence. And this is a pretty wonderful thing. No matter what nobody else says."

Ada masa di mana saya "literally" lari setiap hari saat masih berada di Leiden atau di Maastricht. Dan benar, lari merupakan cara yang baik untuk memperbarui "kekuatan mental" untuk kembali menulis. Itu adalah momen-momen indah yang saya rindukan.

Sayangnya, lari setiap hari jadi lebih sulit untuk dilakukan di Depok atau Jakarta. Selain juga, landscape yang mengiringi takkan seindah di Belanda.

Tapi, di mana pun itu, kedua buku ini selalu ada di meja kerja saya dan mengikuti saya ke mana-mana. Entah saat saya berada di Leiden, Maastricht, Semarang, Depok, dan Jakarta. Atau saat jalan-jalan di kota-kota lainnya.

Lima tahun delapan bulan dan sembilan hari adalah waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan disertasi saya. Selama bertahun-tahun itu, kedua buku inilah yang selalu menemani saya.

Hanya melihat kedua buku itu tergeletak di atas meja, di antara tumpukan artikel jurnal atau chapter disertasi, sudah cukup membuat saya merasa bersemangat.

Seperti kedua penulis itu, saya sepakat satu hal: menjaga dan mempertahankan ritual harian adalah hal penting untuk seorang penulis.

Karena sesungguhnya, dalam ritual itu, seorang penulis tidak hanya melakukan kegiatan menulis itu sendiri, yaitu menuangkan pikirannya dalam kata-kata. Namun, lebih dari itu, dia juga melakukan perjalanan ke dalam dirinya sendiri: sebagai semacam upaya untuk memperbarui kekuatan mental untuk terus menulis.

Bagi mereka, menulis adalah aktivitas yang indah dalam dirinya sendiri. Melakukannya memberi para penulis itu semacam kebahagiaan dan kepuasan batin yang tak akan ditemukan dalam aktivitas lainnya.

Kalau sudah begini, kelahiran karya-karya berikutnya hanyalah masalah waktu.