Sore hari di bulan ke-3 tahun 2018, saya kehadiran seorang tamu perempuan dengan menggendong bayi yang masih merah. Risma namanya. Dia adalah tamu asing yang baru pertama kali bertemu saya.

Risma datang karena rekomendasi dari salah seorang teman kos yang juga sahabat saya.

Setelah saya mempersilakan masuk, dia memperkenalkan identitas dirinya, menceritakan kehadiran bayi yang dilahirkan, dan maksud kedatangannya ke tempat tinggal saya.

Tulisan ini merupakan narasi pengalaman Risma dengan kehamilan yang tidak dia inginkan. Tujuan tulisan ini adalah untuk mendokumentasikan pengalaman perempuan.

Siapa Risma? 

Risma adalah perempuan suku Melayu Islam yang lahir dan besar di Kota Medan Sumatra Utara. Ibunya telah meninggal dunia sejak Risma berusia tiga tahun karena pendarahan pasca melahirkan anak ke-2. Sedangkan bapaknya menikah lagi dengan seorang perempuan yang sekarang memiliki dua anak.

Bapaknya Risma adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) di salah satu kabupaten di Sumatra Utara dari fraksi Partai Kesejahteraan Sosial (PKS). Adik kandung Risma menggunakan cadar dan menempuh pendidikan Islam di Jakarta.

Berdasarkan cerita Risma, sejak kecil, Risma dan adiknya mendapat perlakuan kasar dan tidak adil dari ibu tirinya. Ibu tiri lebih sayang kepada anaknya sendiri dan memperlakukan kasar kepada Risma dan adiknya.

Baca Juga: Ma, Aku Hamil

Kekerasan verbal dan fisik telah Risma alami semenjak kecil. Tanpa sepengetahuan bapaknya, Risma dan adiknya sering dibentak kasar, dipukul, dan jarang diberi uang jajan. Tetapi di hadapan bapaknya, Risma dan adiknya diperlakukan penuh sayang dan manja oleh ibu tirinya.

Karenanya, semenjak lulus sekolah dasar, Risma dan adiknya sudah tidak tinggal dengan bapak kandung dan ibu tirinya. Selama berada di perantauan inilah Risma mendapat uang bulanan yang sangat lebih dari cukup dari bapaknya. Nyaris kiriman uang bulanan tak pernah kurang.

Merasa hidup serba berkecukupan di tanah rantau menjadi salah satu penyebab Risma sering nongkrong malam dengan teman-teman laki-laki. Gaya hidup di dunia malam Risma lakukan semenjak duduk di sekolah Madrasah Aliyah Negeri hingga lanjut ke bangku kuliah di Perguruan Tinggi Islam.

Risma lebih memilih hidup di Yogyakarta ketimbang kembali ke kampung halaman. Karenanya, meski lebaran sekalipun, Risma dan adiknya jarang sekali pulang ke Sumatra Utara.

Karena bapaknya Risma sibuk dengan pekerjaan, baik sebagai pengusaha kelapa sawit maupun sebagai anggota dewan. Risma dan adiknya “kurang” kasih sayang dari orang tua. Justru Risma mendapat kasih sayang dari laki-laki yang selalu menjadi teman kencannya.

Gaya Hidup Risma 

Semenjak Risma lulus sekolah Madrasah Aliyah, dan tidak lagi tinggal di asrama sekolah. Risma memiliki kebebasan untuk menghabiskan malam bersama laki-laki. Apalagi Risma sudah duduk di bangku kuliah dan tinggal di kos-kosan yang “tak” memiliki jam malam.

Wajah Risma yang putih, postur tubuh yang tinggi, dan berasal dari keluarga kelas menengah atas menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi laki-laki untuk mendekati Risma.

Apalagi Risma sering kali menghabiskan malam di tempat-tempat klub malam seperti Liquid Cafe dan Boshe VVIP Club dengan berbotol-botol minuman untuk menenangkan dirinya.

Di usia Risma ke 21 tahun, Risma akhirnya menjalin hubungan spesial dengan laki-laki suku Madura yang tak lain adalah teman satu kampus tapi beda fakultas yang selama ini laki-laki tersebut “mengincar” hati Risma. 

Ahmad adalah laki-laki yang kini menjadi pacar Risma. Sebagai laki-laki Madura yang berasal dari keluarga kelas ekonomi menengah ke bawah, Ahmad selalu “memanfaatkan” uang Risma, baik untuk makan, rokok, bayar kos, hingga bayar SPP kuliah.

Bahkan kendaraan motor milik Risma diambil alih oleh Ahmad. Ironisnya, Risma tak bisa menolak manakala Ahmad mengambil atau meminta uang kepada Risma. Intensitas kedekatan hubungan mereka kemudian berlanjut hingga intercourse (having sex).  

Tak Ingin Kehadiran Bayi 

Di usia Risma ke-22 tahun, Risma dinyatakan positif hamil oleh dokter kandungan. Risma kemudian menceritakan kabar kehamilan itu kepada Ahmad. Tetapi bukan simpati yang didapat, Ahmad justru memutuskan hubungan dengan Risma dengan alasan akan menikah dengan perempuan di kampung halamannya.

Lebih dari itu, Ahmad memblokir nomor kontak Risma, berikut akun Facebok dan Instagram-nya. Sehingga Risma kehilangan jejak keberadaan Ahmad.

Di usia kehamilan Risma yang ke-2 bulan, Risma kemudian pindah kos yang mulanya tinggal di sekitaran kampus kemudian pindah ke kos yang jauh dari teman-temannya. Di samping itu, Risma mengambil cuti kuliah, mengganti nomor kontak, dan menonaktifkan Facebook dan Instagram. Nyaris di tahun itu, Risma hilang dari peredaran teman-teman kampusnya.

Selama kehamilan itulah Risma merasa hidupnya seorang diri. Risma berada dalam tekanan dan ketakutan yang ia rasakan seorang diri. Risma takut pulang ke kampung halaman dan tak memiliki keberanian menceritakan kehamilannya ke saudara kandung.

Pada kondisi penuh kebingungan itulah Risma kemudian memutuskan untuk menggugurkan kandungannya. Singkat kata, Risma tak menginginkan kehadiran bayi tersebut.

Risma menceritakan kondisi dirinya ke salah satu tamu langganan di Boshe klub yang juga mahasiswa pascasarjana di kampus ternama di Yogyakarta. Laki-laki tersebut menemani Risma untuk menggugurkan kandungannya.

Niat Risma untuk meminta bantuan menemani ternyata dimanfaatkan oleh laki-laki tersebut. Risma “harus” memberikan pelayanan seks setiap kali ia datang sejak usia kandungan 3 bulan hingga menjelang bulan ke-9.

Usaha yang Risma lakukan untuk menggugurkan kandungan adalah datang ke dukun-dukun di Gunung Kidul, membeli obat-obat penggugur kandungan dengan harga mahal, mengonsumsi nanas muda, bawang merah, dan meminum sprite dan coca-cola layaknya minum air putih. Tapi usaha itu sia-sia.

Di usia kandungan ketujuh bulan, Risma melakukan kontrol kandungan ke Rumah Sakit Kandungan. Bidan menyatakan bahwa kondisi janin sehat dan kuat.

Sejak saat itu, Risma menyerah untuk menggugurkan kandungannya. Karena bidan menyarankan untuk Risma agar banyak mengonsumsi susu ibu hamil, sayur, dan berhenti minum minuman bersoda dan beralkhohol.

Hingga mendekati hari persalinan, laki-laki tersebut menemani Risma persalinan di Klinik bersalin di sebuah desa di bawah Bukit Bintang Gunung Kidul.

Mendapat pasien ber-KTP non Jogja, apalagi Risma tidak menyertakan Kartu Keluarga, Risma diminta tarif persalinan di atas harga yang sewajarnya. Kala itu, Risma diminta bayar Rp3.800.000 dengan kondisi pasien persalinan normal, ibu dan bayi laki-laki dalam keadaan sehat.   

12 jam setelah persalinan, Risma membawa bayinya ke sebuah Panti Asuhan yang siap menerima kehadiran bayi yang tak diinginkan. Tetapi karena pihak Panti meminta identitas keluarga Risma, Risma kemudian keluar dari panti asuhan.

Ketika Risma keluar dari Panti itulah Risma mencari bantuan ke salah satu teman yang menurut Risma bisa menyimpan rahasia. Teman itu adalah sahabat saya.

Hari ketiga pasca persalinan, Risma datang ke kos saya dengan membawa bayi laki-laki yang sehat, lucu, mungil, dan menggemaskan tanpa membawa peralatan bayi dan baju ganti.

Saya secara pribadi terenyuh mendengar cerita Risma dan empati atas apa yang terjadi kepadanya. Risma meminta untuk tinggal di kos saya selama beberapa hari bersama bayi yang baru dilahirkan.

Saya dibantu oleh dua teman mengasuh bayi Risma. Karena kondisi ibu yang stres, Air Susu Ibu (ASI) tak keluar. Bahkan Risma tak mau menggendong bayinya sendiri meski bayi sedang nangis. Di samping itu, Risma tak mau mengganti popok bayi dan tak mau memandikan bayinya sendiri.

Sederhananya, perlakuan Risma yang demikian menunjukkan jika Risma tak menginginkan kehadiran bayi tersebut meski dilahirkan dari rahimnya sendiri.

Singkat cerita, Risma kemudian pindah tempat tinggal dari kos saya dengan membawa bayinya. Menurut kabar, Risma memberikan bayi laki-laki itu ke lembaga panti asuhan, sedangkan Risma kembali ke aktivitasnya semula. 

Risma Adalah Korban

Sepintas membaca cerita Risma, mungkin kita akan menyangka bahwa Risma adalah perempuan yang tidak baik sekaligus perempuan yang tega karena “menelantarkan” bayinya sendiri.

Tetapi ketika kita sejenak mau membaca sungai kehidupan Risma atau sepak terjang kehidupan Risma sejak kecil hingga dewasa, maka dapat kita katakan, sejatinya Risma adalah korban.

Risma adalah korban kekerasan oleh ibu tirinya. Risma adalah korban dari ambisi karier bapak kandung yang melalaikan kasih sayang kepada anak-anaknya sendiri. Risma adalah korban Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) dari laki-laki bernama Ahmad. Risma adalah korban pemaksaan hubungan seksual dari laki-laki yang berstatus mahasiswa pascasarjana.

Menyalahkan Risma karena suka nongkrong di klub malam, memberikan stigma kepada Risma sebagai perempuan “malam”, dan memberikan labeling kepada Risma sebagai perempuan tak punya hati merupakan bentuk kekeliruan berpikir.

Membaca secara utuh kehidupan Risma sejak kecil hingga dewasa menjadi niscaya untuk menemukan titik “Sebab-Akibat” kenapa Risma memilih keputusan demikian. Risma adalah akibat, disebabkan Risma mendapat pengalaman buruk dari pihak keluarga, dari pacarnya, dan dari temannya.

Singkat kata, Risma adalah korban berlipat dari berbagai sudut yang membuatnya tak berdaya untuk menjadi perempuan seutuhnya. Risma tak memiliki kedaulatan dan otoritas penuh atas tubuhnya sendiri, atas pikirannya sendiri, dan atas perasaanya sendiri.

*Terima kasih untuk Naila & Elna yang telah merawat bayi Risma dengan cinta.