Meski pilkada telah usai sejak dua minggu yang lalu namun efek negatifnya masih terasa hingga hari ini. Setidaknya itu yang saya rasakan.

Meminjam istilah Yudi Latif, pilkada menyisakan semacam virus "patologi sosial". Wabah patologi sosial itu ditandai dengan masih adanya orang yang 'mbesengut', marah, kecewa, sakit hati, dan seterusnya. Virus ini bisa jadi akan menimbulkan rasa dendam berkepanjangan.

Tidak bisa dipungkiri, dalam proses politik tentu ada yang gembira dan ada yang kecewa. Kondisi ini alamiah dan tidak terhindarkan. Hal ini tentunya tidak lepas dari dinamika politik yang mengharuskan adanya sebuah keputusan atau sikap politik yang tidak bisa menyenangkan semua pihak.

Mereka yang kecewa biasanya akan mencari kawan senasib-sepenanggungan (sama-sama merasa dikecewakan) lalu berkumpul dan membuat barisan. Istilah populernya "barisan sakit hati".

Mereka (barisan sakit hati) akan dengan mudah mencari celah untuk menyerang si pembuat sakit hati. Cara menyerangnya beragam. Ada yang langsung menyerang personalnya secara terbuka ke khalayak tanpa tedeng aling-aling, ada pula yang secara diam-diam menyerang dengan cara menyebarkan tuduhan dan fitnah keji. Yang jelas, mereka punya tujuan agar rasa kecewa dan sakit hatinya terbalaskan.

Dari pengalaman terjun langsung di Pilkada kemarin, dan kebetulan menjadi bagian dari tim intinya-inti (core of the core), saya merasakan langsung adanya serangan dari orang-orang yang merasa dikecewakan dan sakit hati baik karena keputusan atau sikap politik saya atau karena memang sejak awal tidak senang dengan posisi saya sebagai bagian dari core of the core.

Saya anggap tuduhan dan serangan itu sebagai konsekuensi logis saja. Resiko "perjuangan" kata seorang kawan. Kata perjuangan saya beri tanda petik dua karena bagi banyak orang mendengar kata perjuangan atau berjuang dalam politik sudah menjadi hal yang absurb. Karena nyaris semua tim sukses di Pilkada mengaku berjuang. Faktanya, memang betul tujuan mereka di politik untuk Berjuang (Beras, Baju, dan Uang). 

Kembali soal tuduhan dan serangan. Jujur, sehari selepas Pilkada saya merasa terganggu dan sempat tak enak tidur atas tuduhan (fitnah) yang menyasar saya. Itu terjadi mungkin karna  kondisi saya yang masih lelah efek kurang istirahat dan suasana kebatinan belum stabil efek dari kalahnya calon yang saya dukung. Namun setelah cukup istirahat  dan suasana kebatinan pun kembali stabil, saya lebih rileks dan tidak mau ambil pusing dengan tuduhan-tuduhan negatif yang menyasar ke diri saya.

Pengalaman adalah kunci. Saya bersyukur pernah menyelami pelbagai organisasi, juga bersyukur pernah menjadi Calon Anggota Legislatif (caleg) setahun silam. Berkat pengalaman itulah secara tidak sadar kematangan saya dalam menghadapi persoalan makin teruji. 

Sebagai seorang Gusdurian (pengagum Gus Dur), selalu terngiang di pikiran akan nasehat Gus Dur yang begitu dalam, "Jika kamu masih terganggu dengan pujian dan hinaan orang lain, berarti kamu masih amatir". Meski tidak mudah untuk mengamalkan nasihat Gus Dur tersebut, saya merasa tertantang untuk terus belajar mengamalkannya.

"Buat apa mengaku sebagai Gusdurian, dan sudah melahap hampir semua buku-bukunya, lantas mengamalkan salah satu nasihatnya saja tidak bisa?" Gumam saya dalam hati.

Ini mungkin terkesan naif, tapi bukankah mendengarkan omongan orang yang negatif thinking itu melelahkan alias tidak  ada habisnya?

Hidup kita tak ditentukan oleh apa kata orang, bukan? Hidup kita ditentukan oleh akumulasi nilai yang polanya menggambarkan kualitas dan integritasnya sendiri. Yang menjadi identitas kita, personalitas kita, harga dan kepercayaan diri kita.

Dan sekarang saya makin paham kenapa banyak orang menghindar bahkan alergi dengan politik. Mungkin salah satunya karena tidak kuat dengan tekanan dan serangan.

Bagi saya, di politik atau dimana pun sama saja. Semua punya seni dan tantangannya sendiri. Hanya saja, di politik itu lawan dan kawan tampak nyata. Tidak ada istilah abu-abu. Dan di politik butuh mental dan keberanian untuk tidak disukai semua orang.

Tapi, bukankah kita ini makhluk sosial yang perlu menjalin hubungan dengan orang lain? Betul. Tapi sekali lagi, hiduplah dengan cara yang wajar. Artinya, bergaullah dengan sosok yang patut. Jangan berpikir untuk menyenangkan semua orang. Orang yang fokus untuk menyenangkan semua orang, akan membuang karakter dirinya sendiri. Ejekan Steve Job, "kalau kamu mau menyenangkan semua orang, jangan jadi pemimpin, jadilah penjual es krim."

Kalau kita berpegang pada suatu nilai, boleh jadi kita tidak akan menyenangkan bagi sekelompok orang. Saya, misalnya, telah memilih untuk berpegang pada nilai-nilai rasional, menjadikan akal sebagai pedoman hidup. Banyak yang menjadi tidak senang dengan pilihan saya itu. Teman, bahkan saudara. Juga mungkin anda yang membaca tulisan ini. Tapi saya memilih untuk jadi diri saya.