Sudah mulai rutinitas WFO (Work From Office), kesibukan kembali seperti biasa, entah "new normal" atau bukan, hanya minus nyari makan di luar jadi pesan katering saja. Sedang asyik makan tiba-tiba mendengar celetukan teman kerja, sebut saja namanya Lanang, 

"Iklan sekarang pada latah naroh cewek kulit item biar disangka peduli isu body shaming dan rasisme. Nggak ada pengaruhnya, tetap yang enak dilihat buat laki-laki ya cewek yang kulitnya putih mulus dan pasti gak banyak tingkah kayak orang Timur."

Gara-gara sambil makan menyimak TV, ada iklan produk kecantikan yang menampilkan model perempuan Melanesia, muncul celetukan sinis yang merangkum banyak hal dari diri seseorang.

Padahal Lanang ini aktif menulis tagar #blacklivesmatter di medsosnya saat ada kasus kematian George Floyd. Saya pikir orang yang isi postingan medsos dan nilai yang dipakai di keseharian berbeda hanya akan saya baca ceritanya di thread viral atau artikel populer, ternyata di dunia nyata saya juga ada.

Apa hubungannya iklan yang peka dengan konsumen dengan preferensi laki-laki soal perempuan? Apa hubungannya asal daerah seseorang dengan perilaku "banyak tingkah" yang maksudnya adalah "gestur kurang feminin" itu?

Ya memang masalah selera terhadap lawan jenis itu urusan masing-masing, masalah selera percuma saja didebat, tapi yakin nih nggak ada pengaruh paham sesat soal konsep kecantikan perempuan yang menempel?

Lanang, yang menganggap iklan TV menampilkan model Melanesia itu lebay, beranggapan hanya membahas selera pribadi soal perempuan saja. Model Melanesia yang ada di iklan berkulit gelap dengan rambut keriting adalah representasi perempuan yang tak memenuhi standar cantik sesuai selera laki-laki. Perilaku perempuan Melanesia juga jauh dari kesan anggun yang menarik hati. Sudah, sampai sini saja, menurut Lanang.

Laki-laki ketinggalan zaman sekaligus narsis ya begini ini. Dia pikir dirinya itu pusat tata surya. Yakin banget perempuan berusaha menjadi cantik dengan cara memakai produk kecantikan itu karena ingin memikat laki-laki, karena itu standar cantiknya adalah penilaian laki-laki.

Lanang, dan mungkin juga kamu, kehilangan konteks bahwa produk yang diiklankan tersebut dijual di Indonesia yang tidak semua perempuannya berkulit putih (atau menginginkan kulitnya berubah putih).

Mendengar penjelasannya, saya jadi memikirkan banyak hal. Jangankan iklan dengan model Melanesia yang baru muncul belakangan saja, ada produk kecantikan yang nggak ngajak memutihkan kulit itu sudah sangat bagus dan out of the box.

Bukan hanya terjadi Indonesia, bahkan seluruh dunia, produk yang tidak menaruh kata "whitening" bisa dibilang idealis karena kata tersebut bagaikan kolor genderuwo yang direndam dalam panci kuah bakso untuk pelaris.

Film, sinetron, isi majalah, iklan, bahkan percakapan sehari-hari diwarnai tentang pendapat bahwa kulit putih itu lebih baik terutama karena terlihat bersih. Persepsi dan konsep perempuan cantik harus berkulit putih ini punya sejarah panjang.

Saya masih ingat menghabiskan masa kecil di 80-90an dengan wajah Ida Iasha ada di TV, majalah, kalender, sampai sampul buku tulis. Seorang artis blasteran Indonesia-Belanda bintang iklan sabun mandi.

Di masa kecil, yang saya tahu, namanya cantik itu seperti Ida Iasha yang kulitnya seperti tak pernah terkena sinar matahari. Dalam pikiran saya, kecantikan semacam itu serupa dengan yang dimiliki peri di Negeri Dongeng tempat Nirmala dan Oki si kurcaci tinggal.

Produk kecantikan yang referensi konsep cantiknya adalah ras Kaukasia, yang berkulit putih, sudah terjadi sejak zaman kolonial. Tahun 1940, ada gambar aktris Hollywood Jean Arthur muncul di iklan sabun mandi Majalah Pandji Poestaka dalam iklan berbahasa Melayu.

Sampai di sini, sepertinya kita memang perlu bertanya, apakah gambaran ideal tentang konsep cantik perempuan Indonesia itu untuk memenuhi kepentingan Industri (khususnya kosmetik), menebalkan nilai patriarki di masyarakat, atau menegaskan mental inferior sebagai bangsa yang pernah terjajah?

Iklan di TV saja bisa membuat seseorang menilai saudara sebangsanya lebih rendah karena berbeda ras dan berkulit gelap. Ini perilaku yang sialan betul.

FYI, rasisme tidak terjadi begitu saja. Persepsi tumbuh dari pengalaman, pengetahuan, dan banyak hal lain yang berasal dari luar diri seseorang.

Seperti yang disebut Lanang bahwa perempuan berkulit putih lebih enak dilihat dan sudah pasti tidak banyak tingkah. Perempuan Melanesia memang cenderung digambarkan kolot, kampungan, karena tidak mampu berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia dialek perkotaan, cerewet dan kasar karena bersuara keras, dan dianggap kurang bahkan tidak berpendidikan. Digambarkan oleh media yang yang berperan mereproduksi representasi kecantikan perempuan Indonesia yang beraneka suku bangsa.

Perempuan Melanesia tidak mendapat tempat, terutama di media, untuk berkata bahwa ia sama cantiknya dengan perempuan dari ras lain di Indonesia. Kalau terucap kata "cantik", top of mind selalu perempuan Sunda dan Manado, terutama karena punya karakteristik berkulit putih.

Bahkan news anchor di TV nasional yang ras Melanesia baru ada beberapa tahun belakangan. Biasanya hanya ada di TVRI daerah. Puluhan tahun merdeka, kenapa baru terpikir sekarang untuk merawat kebinekaan lewat segala aspek kehidupan, termasuk memberi ruang untuk perempuan Melanesia ada di layar TV?

Sama seperti rasisme, konsep cantik yang dimiliki oleh seseorang itu juga tidak terjadi begitu saja. Tidak melulu soal selera. Dan sekarang sudah bukan zamannya perempuan menjadi cantik untuk memuaskan mata laki-laki, Kisanak.