Mahasiswa
3 tahun lalu · 1763 view · 2 menit baca · Filsafat dmvz3m1.jpg
Ibn Sina

Risalah Pengetahuan Ibn Sina

Pada mulanya adalah kosong, ia putih bagai Kertas HVS yang belum tergores tinta printer. Itulah gambaran sederhana tentang pengetahuan manusia. Artinya, tidak ada manusia yang terlahir membawa satu bab pengetahuan apa pun ke dunia ini.

Dalam tradisi filsafat pengetahuan atau epistemologi, gambaran di atas adalah prinsip dasar yang dipegang teguh oleh para pemikir empiris, yang nama mazhabnya disebut dengan istilah empirisme. Adalah David Hume (1711-1776), George Berkeley (1685-1753), dan John Locke (1632-1704) ketiganya merupakan para ulama mujtahid empirisme abad modern yang fatwa-fatwanya selalu diikuti dan dijadikan kutipan oleh para pemikir dan akademisi berikutnya.

Mazhab empirisme meyakini bahwa manusia dapat memperoleh pengetahuan hanya melalui pengalaman-pengalaman indrawi semata, tidak ada pengetahuan apriori yang dengan begitu saja didapatkan secara mudah oleh manusia.

Namun sayang, jauh sebelum mazhab empirisme ini berkembang dan memiliki banyak pengikut, Ibn Sina telah menyatakan bahwa pengetahuan semacam itu merupakan pengetahuan hewani yang bersifat parsial (juziyyat). Hal tersebut bukanlah tanpa alasan, di dalam kitab al-Najah, Ibn Sina memaparkan secara jelas dan terperinci tentang sekelumit pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.

Bagi Ibn Sina, jiwa (al-nafs) merupakan subjek utama dalam aktivitas mengetahui, dan ini merupakan titik awal di mana kita dapat menelusuri dan mengidentifikasi tentang sistem dan struktur pengetahuan. Dengan kata lain, tanpa kita mengetahui eksistensi jiwa, maka sulit rasanya juga untuk mengetahui bahkan menggambarkan tentang pengetahuan yang dimiliki oleh manusia.

Atas dasar penemuan tentang tiga fakultas jiwa, maka pengetahuan itu dapat kita temukan pada kemampuan (al-quwwah) yang dimiliki oleh jiwa hewani. Keterbatasan fakultas jiwa hewani ini, bahwa ia hanya mampu untuk menangkap atau mempersepsi (al-idrak) bentuk-bentuk parsial (juziyyat) dari objek-objek yang ia temukan di ruang pengalaman indrawi aposteriori.

Mata melihat warna daun, telinga mendengar bunyi petir, kulit meraba kulit buaya, hidung mencium bau parfum, dan lidah mengecap sayur lodeh merupakan beberapa contoh aktifitas indrawi yang kelak akan menghasilkan pengetahuan-pengetahuan yang dimotori oleh jiwa hewani (al-nafs al hayawaniyyah).

Jika epistemologi empirisme diartikan sebagai sistem pengetahuan yang bersandar pada pengalaman indrawi semata, maka dalam penjelasan Ibn Sina, pengetahuan semacam itu adalah tak lebih hanya dilakukan oleh entitas-entitas yang terdapat di dalam dirinya jiwa hewani.

Lantas kemudian yang menjadikan manusia sebagai manusia adalah ia yang di dalam dirinya memiliki kemampuan berpikir (al-quwwah al-nâtiqah) yang secara khusus oleh Ibn Sina dinamakan dengan akal. Melalui akal inilah, jika yang berfungsi adalah akal praktis (al-aql al-âmiliah) maka akan menghasilkan akhlak (akhlaq), dan jika yang berfungsi adalah akal teroitis (al-aql al-âlimah) maka ia akan mendapatkan pengetahuan-pengetahuan tentang bentuk-bentuk yang universal (al-shûrah al-kulliyat).

Secara metodik, pengetahuan tentang bentuk-bentuk yang universal tersebut didapat melalui jalan tashawwur dan tashdiq yang masing-masing secara operasional menggunakan jalan definisi (al-hadd) dan silogisme (al-qiyas).

Dengan kemampuan tersebut, manusia dapat mengoperasionalkan segala bentuk kesan-kesan yang diterimanya melalui perantara panca indra, yang kemudian disistematisasikan menjadi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang dibentuk oleh akal manusia kemudian menjadi acuan atas tindakan nyata manusia tersebut dalam kehidupan kesehariannya yang disebut dengan akhlak.

Sehingga kerjanya manusia bukan hanya kerja biasa, tetapi kerja yang digerakkan oleh daya kemampuan akal teoritisnya. Manusia seutuhnya bukanlah ia yang sekadar mendapatkan pengetahuan-pengetahuan parsial atas apa yang ia jumpai dari objek-objek yang ada, melainkan ia yang mampu secara maksimal menggunakan dan menggabungkan antara kemampuan akal teoritis dan praktis dalam kehidupannya.