Mahasiswa
2 tahun lalu · 762 view · 2 menit baca · Pendidikan img_20160620_050804_1.jpg

Risalah Najwa dan Kerutan Wajah Jokowi

Selang beberapa saat setelah dirinya terpilih sebagai Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab langsung stres. Bukan stres karena dirinya tidak bisa membaca, melainkan karena dia baru mengetahui bahwa aktivitas membaca masyarakat Indonesia rata-rata nol buku per tahunnya.

Data tersebut tentu bukan sebatas isu atau isapan jempol belaka, melainkan hasil dari survei yang dilakukan oleh Unesco (The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization). Kita, bangsa Indonesia ketinggalan jauh dengan Eropa yang menghabiskan 25 buku, Jepang dan Singapura 15-20 buku dalam kurun waktu satu tahun.

Dalam hal minat baca, tentu kita sudah tertinggal sangat jauh dengan negara-negara maju lainnya. Jadi, sangatlah wajar jika Mbak Najwa merasa stres, karena bagaimanapun, sebagai Duta Baca Indonesia, beliau sekarang memikul beban yang sangat berat, melebihi beratnya seseorang memikul rindu.

Untuk diketahui bersama, bahwa tugas utama Mbak Najwa sebagai Duta Baca Indonesia adalah sebagai motivator nasional peningkatan minat baca anak bangsa di seluruh wilayah Tanah Air. Sungguh tugas yang sangat mulia, namun berat untuk dijalani.

Di samping aktivitasnya sebagai jurnalis dan presenter talk shaw di salah satu stasiun televisi swasta, kini Mbak Najwa harus berkeliling Indonesia untuk sekedar mengajak, memotivasi, dan memberikan contoh membaca kepada masyarakat.

Sekali lagi, bagi saya, menjadi Duta Baca Indonesia adalah suatu amanah yang mulia namun berat untuk dijalani.

Kenapa mulia? Karena pada dasarnya, menyeru masyarakat Indonesia untuk gemar membaca adalah tugas kenabian (risalah nubuwwah). Ingat, wahyu pertama yang diturunkan oleh Jibril kepada Muhammad adalah 'iqra', yang artinya 'bacalah'.

"Bacalah atas nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dialah yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah, yang mengajarkan dengan perantaraan Qalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." [Al-'Alaq 1-5]

Dalam mengemban tugasnya, untunglah Mbak Najwa hanya sebatas stres. Nabi Muhammad melampaui itu, beliau ketakutan dan badannya seketika itu langsung dingin menggigil. Subhanallah.

Baik keadaan stres, takut dan dingin menggigil adalah sebagai bukti bahwa tugas dalam menyeru masyarakat untuk membaca adalah tugas yang maha berat, terlebih kultur bangsa 'Arab dahulu' dan 'Indonesia sekarang' masih minim dan jauh dari standar kepantasan dalam aktivitas membaca.

Namun Mbak Najwa jangan merasa sendiri dalam mengengemban amanah yang maha berat itu. Tenang saja, karena banyak pihak yang akan ikut serta berperan aktif membantu Mbak Najwa, seumpama Bapak Presiden kita, Joko Widodo.

Dengan memasang kerutan kulit wajah yang menyekat, nampak Pak Jokowi membaca buku Das Kapital, maha karya Karl Marx, yang kemudian foto Pak Jokowi membaca itu terpublikasi ke masyarakat luas.

Bagi saya, pesan foto tersebut sangat sederhana, di sela-sela aktivitas kesibukan kita, sempatkanlah untuk membaca, walau hanya satu ayat.

Karena bagaimana pun, menjadi seorang presiden tidak menjamin kita cerdas dan cakrawala pengetahuan didapatkan secara otomatis, kecuali hanya dengan membaca.

Jadi khusus untuk Mbak Najwa, jangan lagi stres dan merasa sendiri dalam mengemban risalah nubuwwah tersebut.
Untuk Pak Jokowi, jadi kapan mau baca buku al-Najah-nya Ibn Sina?

Artikel Terkait