Novel merupakan karya cipta seseorang dengan cerita buatan yang dituangkan ke dalam tulisan atau kata-kata. karya sastra sebagai alat untuk mengungkapkan pemikiran dan perasaan pengarang melalui hasil karya sastra, sehingga menjadi petunjuk atau pembelajaran bagi kita yang membaca hasil karya sastra tersebut. 

Karya sastra dapat diibaratkan sebagai “potret” kehidupan yang menyajikan berbagai peristiwa dan permasalahan mengenai hubungan masyarakat dalam suatu kondisi sosial. Kondisi sosial sangat erat kaitannya dengan permasalahan masyarakat dalam kehidupan nyata kemudian mengilhami terciptanya karya sastra (Ramadhan, 2020:4).

Tidak banyak yang tau bahwa novel merupakan salah satu bentuk karya sastra. Orang awam terlebih remaja lebih mengenal novel adalah sebagai karya tulis ciptaan seseorang tanpa melibatkan sastra. Karya sastra erat hubungannya dengan penggambaran kehidupan manusia sehari-hari, begitu juga dengan novel. 

Salah satu novel yang termasuk ke dalam karya sastra, yaitu novel Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Hamka yang diterbitkan oleh balai pustaka pada tahun 1938. Novel ini menceritakan tentang perjalanan hidup laki-laki yang bernama Hamid. Ayahnya meninggal dunia saat Hamid berusia 4 tahun dan meninggalkannya bersama sang Ibu dalam keadaan ekonomi kurang mampu.

Saat Hamid berusia 7 tahun ada keluarga kaya bernama haji Ja'far dan mempunyai anak perempuan bernama Zainab yang pindah di dekat ruma Hamid. Istri dari keluarga kaya tersebut, Mak Asiah, suka membeli kue yang dijual Hamid. Oleh karena itu, Hamid menjadi akrab dengan keluarga haji Ja'far yang ramah.

Hamid pun disekolahkannya di sekolah yang sama dengan Zainab sampai lulus sekolah pertengahan (MULO). Menurut adat, setelah itu Zainab masuk ke dalam pingitan dan harus ditemani oleh Ibu atau orang kepercayaan sampai bersuami kelak. Sedangkan Hamid melanjutkan ke sekolah agama sesuai dengan keinginan Ibunya di Padang Panjang. 

Beberapa bulan kemudian musibah besar datang yaitu Haji Ja'far dan Ibunya meninggal dunia. Pada detik-detik terakhir dalam hidupnya, Ibu Hamid bertutur menasihati Hamid agar menghapuskan perasaannya terhadap Zainab karena mereka berbeda dalam kelas sosial. 

Kemudian, Mak Asiah menyuruh Zainab untuk menikah dengan laki-laki pilihannya, namun Zainab menolak. Oleh karena itu, Mak Asiah meminta tolong Hamid untuk membujuknya agar mau menikah dan Hamid merasa sedih karena baru menyadari bahwa dia mencintai Zainab. 

Hamid memilih pergi merantau setelah berusaha membujuk Zainab. Dia merantau ke Tanah Suci dan setelah satu tahun tinggal di Mekah, Hamid bertemu dengan Saleh, teman lamanya di kampung halaman. Saleh bercerita bahwa Zainab mencintai Hamid dan tidak jadi menikah dengan laki-laki pilihan Mak Asiah. 

Mendengar itu Hamid bahagia dan merasa sedih karena Zainab menunggunya sampai jatuh sakit. Saleh mengirim surat kepada istrinya, Rosna, yang mengabarkan pertemuannya dengan Hamid dan dia pun memberitahukan bahwa hamid akan pulang ke kampung halaman setelah mereka menunaikan ibadah haji. 

Rosna yang mendapatkan surat dari Saleh langsung memberi kabar ke Zainab. Zainab yang membacanya merasa senang karena mengetahui kalau Hamid masih hidup dengan baik dan akan segera pulang.

Sepulang melakukan wukuf di Padang Arafah, Hamid sakit parah dan tubuhnya lemah. Pada saat yang sama, Saleh mendapat kabar buruk dari Rosna bahwa Zainab telah meninggal dunia. Ia tidak memberitahukan kepada hamid karena khawatir dengan keadaan saat itu, tetapi Hamid memaksa Saleh untuk menceritakan surat tersebut. 

Hati Hamid sangat terpukul mendengar kenyataan itu. Namun, karena imanannya kuat, dia mulai menerima kenyataan pahit itu dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT. Keesokan harinya, Hamid tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Mina dan Masjidil Haram. 

Ketika mereka selesai mengelilingi Ka’bah, Hamid minta diberhentikan di Kiswah. Sambil memegang Kiswah itu, Hamid meminta perlindungan kepada Allah SWT dan tidak lama Hamid meninggal dunia di hadapan Ka’bah, rumah Allah SWT.

Berdasarkan cerita tersebut, kita mengetahui bahwa terdapat nilai roman yang dikisahkan dengan tumbuhnya cinta antara Hamid dan Zainab. Orang-orang pada saat itu masih memegang teguh adat, merasa bahwa Hamid tidak pantas bersanding dengan Zainab yang berasal dari keluarga kaya. Mereka pun terpaksa berpisah.

Kisah cinta ini berakhir menyedihkan dengan tidak dapat bersatunya Hamid dan Zainab sampai hayat merenggut jiwa. Mereka hanya dapat saling mencintai tanpa adanya kebersamaan di dunia namun, mereka berharap untuk bersama di keabadian. 

Hal ini terbukti dari Hamid yang mengetahui Zainab meninggal dunia, ia memohon perlindungan di bawah Ka'bah dan tidak lama setelah itu Hamid pun juga ikut menyusul Zainab. Walaupun tidak dapat bersatu, kisah cinta memilukan inilah yang menjadi salah satu daya tarik dari novel Di Bawah Lindungan Ka'bah. 

Cara mereka mencintai dengan saling menjaga dan tidak mengumbar nafsu karena tetap memegang aturan agama yang ada justru menambah nilai roman di dalamnya. Kisah cinta ini bisa disebut cinta yang sederhana atau tidak terlalu dibuat-buat karena percintaan di dalamnya terasa nyata dan bisa dialami banyak orang. 

Cerita cinta mereka juga memberi pelajaran bahwa jika kita mencintai seseorang maka cintailah dengan tulus. Oleh sebab itu, banyak pembaca merasa ikut tenggelam dalam kesedihan, keharuan, dan kesan yang tidak dapat terlupakan setelah membaca novel ini.

Tinjauan Pustaka

Hamka. 2011. Novel Di Bawah Lindungan Ka'bah. Jakarta: PT Balai Pustaka (Persero).

Ramadhan, Ahmad Ghilman. 2020. Kajian Amanat dalam Novel Di Bawah Lindungan Ka'bah karya Hamka. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Unisma.