Berbicara pemikiran para filosof, pasti terbayang dengan pemikiran nyeleneh, sulit dipahami, dan terkesan membosankan untuk dipelajari. Nah, bagaimana jadinya kalau seorang filosof berbicara sastra dengan menggunakan bahasa-bahasa indah yang berkenaan mengenai seni mencinta?

Filsafat dan sastra ibarat pikiran dan hati yang sama-sama mempunyai hubungan yang tak dapat terpisahkan serta mempunyai keterkaitan. Dalam hal ini, ditunjukkan WF Nietzsche melalui karya romannya Also Sprach Zarathustra, ia menuangkan gagasan filsafatnya dalam karya sastra.

Letusan kata-kata, metafora, figurasi, dan permainan kata yang mengesankan, adanya letusan perasaan begitulah gambaran dari karya Nietzsche. Begitu juga dengan Ibn Hazm Al-Andalusi yang hidup pada abad ke-5 H; terlebih dahulu menuangkan gagasan pemikirannya lewat puisi-puisi puitis.

Karya puisinya yang paling terkenal adalah Thauq al-Hamamah (Di Bawah Naungan Cinta) sebuah esai berisi seni cinta kasih yang dikatakannya ‘penyakit serius’. Karya ini dikatakan Thahir Makki (ulama Mesir) adalah sebuah karya paling memikat yang mengkaji tentang cinta pada masa abad pertengahan.

Karya tersebut melacak perkembangan cinta, menganalisis berbagai unsurnya dan memadukan antara ide filosofis dan fakta historis. Beliau juga mengatakan bahwa “Apabila ada satu tema yang tidak pernah habis diceritakan dari mulut ke mulut, itu adalah cinta.”

Ibn Hazm dan Hakikat Cinta

Nama lengkap dari Ibn Hazm adalah Ali Bin Ahmad bin Said bin Hazm, julukannya Abu Muhammad. Ibn Hazm dilahirkan di Cordoba (Spanyol) pada 384 H/994 M, ia adalah seorang ilmuwan yang menguasai banyak disiplin ilmu, ahli fiqih, tafsir, hadis, ushul fiqh, kalam, mantiq, kedokteran, sastra dan sejarah.

Semasa hidupnya, Ibn Hazm sering memberikan kritikan kepada para ulama yang hidup pada waktu itu. Hal tersebut menyebabkan mereka marah kepada Ibn Hazm hingga menyesatkan dirinya. Para ulama tersebut bahkan memperingatkan untuk menjauhinya hingga menyebabkan dirinya harus diusir.

Selanjutnya kita akan membahas tentang cinta. Cinta memiliki makna yang dalam, indah dan agung. Tidak ada kata yang kuasa melukiskan keindahan dan keagungannya. Hakikat cinta tak dapat ditemukan selain dengan segenap kesungguhan pengamatan dan kejiwaan, cinta adalah urusan hati,

Tentang hakikat cinta ini, kata Ibn Hazm banyak orang yang berselisih pendapat, ia berpendapat bahwa cinta adalah penghubung jiwa-jiwa manusia yang beragam corak dan warna. Sedangkan jiwa inti kemuliaan manusia. Cinta adalah bayang-bayang indah yang terpateri dalam jiwa, kasih yang terukir dalam hati.

Kemudian alasan terbesar seseorang menumbuhkan cinta dari keindahan fisik. Pada dasarnya, jiwa adalah indah dan selalu terpikat pada segala sesuatu yang indah.

Jiwa gandrung pada keindahan. Manakala jiwa seseorang gandrung pada jiwa yang lain dan ternyata di balik jiwa orang yang digandrunginya itu terdapat sesuatu yang menyerupai jiwanya, maka jiwanya akan semakin terpikat dan terkait dengan jiwa orang yang digandrunginya itu; itulah cinta yang hakiki.

Namun, apabila ternyata di balik jiwa orang yang digandrunginya tidak ada sesuatu yang menyerupai jiwanya, maka cintanya sebatas keindahan fisik semata. Cinta keindahan fisik merupakan cinta nafsu syahwat, bentuk keindahan fisik memiliki daya pikat luar biasa bagi jiwa yang membara.     

Telah disebutkan di atas bahwa cinta adalah urusan hati, ketika hati terpesona dengan seseorang maka terjadilah jatuh cinta yang tak bisa dielakkan lagi. Dalam jatuh cinta, ada beberapa tanda jatuh cinta. Bagi orang yang cerdas mampu mengenalinya dan bagi orang yang pintar mampu menunjukkannya.

Berikut beberapa tanda-tanda jatuh cinta yang dipaparkan oleh Ibn Hazm:

Pertama, tanda jatuh cinta adalah tatapan mata. Mata adalah pintu gerbang jiwa, melalui tatapan mata, rahasia jiwa dapat diungkap dan pesan jiwa beserta ke dalam isinya dapat disingkap.

Baca Juga: Risalah Sampah

Kedua, cinta dapat dilihat dari sebuah perbincangan. Orang yang jatuh cinta akan selalu melayani perbincangan orang yang dicintainya. Ia nyaris tak mau melayani perbincangan orang lain.

Ketiga, tanda-tanda lainnya dapat dilihat dari gerak tubuh orang yang jatuh cinta. Orang yang jatuh cinta betapa segera bergegas menuju tempat orang yang dicintainya.

Keempat, adanya keraguan dan sekaligus kegembiraan yang berpendar dari wajah-wajah sang pencinta kala bertemu dengan sang pujaan atau adanya kegugupan manakala berpapasan dengan seseorang yang serupa dengan sang pujaan, dan adanya getaran hebat manakala mendengar nama sang pujaan tercinta.

Kelima, melakukan segala perbuatan yang biasa dilakukan sang pujaan. Meskipun pekerjaan itu tidak pernah dan tidak dapat dilakukan sebelumnya. Cinta telah mengubah sang pendiam menjadi betah berbicara, cinta telah mengubah sang penakut menjadi pemberani luar biasa, cinta telah mengubah segalanya.

Keenam, orang yang diterpa cinta selalu ingin mendengar nama sang pujaan dan bagi orang yang jatuh cinta juga suka dalam kesendirian, kala sendiri ia merasa merdeka tak terkira; ini merupakan bukti tak terpungkiri dan kenyataan tak terbantahkan, ada cinta yang sedang bersemayam dalam jiwa.

Tanda-tanda jatuh cinta yang terakhir dijelaskan oleh Ibn Hazm adalah orang yang suka begadang, para penyair banyak yang menyebutkan tanda-tanda ini dalam puisi-puisi mereka. “Orang-orang yang sedang jatuh cinta adalah para pengembala binta-bintang. Mereka suka menghitungya sepanjang malam.”

Mengenai rahasia cinta dapat dibaca lewat tanda-tandanya, Ibn Hazm pun berpuisi:

Awan cinta tengah menyandingiku, wahai teman
Seluruh ruang hatiku pun terasa sangat nyaman
Indah bayangmu sepanjang malam mengisi benakku
Sepanjang malam ia pun terjaga menemaniku
Kala kelam malam malas beranjak pergi
Sedetik pun kedua mataku terpejam tak kuasa
Kala siang datang menawarkan senyumnya
Terpejam kedua mataku kian tak kuasa
Duhai pujaan
Dalam cinta hatiku terkurung
Selain sangkaan
Tak tahulah mereka aku dirundung

Demikian ulasan singkat dari Thauq al-Hamamah sebuah esai tentang seni cinta kasih yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Risalah Cinta: Kitab Legendaris tentang Seni Mencinta.

Waheeda El-Humayra (penulis best seller The Sacred Romance of King Sulaiman & Queen Sheba) mengatakan “Buku ini tak akan pernah membosankan untuk dibaca, bahkan oleh mereka yang sudah sangat berpengalaman dalam mencinta.”

Selain hakikat cinta dan tanda-tanda jatuh cinta yang telah diulas di atas, masih banyak pembahasan lain yang diulas dalam buku ini, antara lain: jatuh cinta pada tatapan pertama, jatuh cinta selepas mengamati, jatuh cinta karena karakter yang dimiliki sang pujaan, isyarat cinta lewat kata dan tatapan mata, dan lain-lain.

Para pemburu literasi dan penyair cinta, saya menganjurkan untuk membaca Risalah Cinta: Kitab Legendaris tentang Seni Mencinta karya filosof dan penyair Ibn Hazm Al-Andalusi. Membaca buku ini, pikiran dan perasaan akan dibawa ke negeri cinta dengan pergolakan dan panorama kehidupan cinta.