Bocah Koran

Detak waktu menjelang malam iringi  langkah kakinya menyapa sudut-sudut kota.

Meski raga terasa lelah membelenggu, warna mentari yang mulai menguning, ia tak pernah mengucap  pasrah tuk terus berjalan di segala arah.

Sesekali ia mesti menyeka Keringat yang membasah, juga menyapu perlahan debu-debu yang turut mengendap di wajahnya demi sebuah upah.

Tidak banyak waktunya bercengkerama dengan teman sebaya sebab ia mesti menjajakan koran sepulang sekolah. 

Apalah daya, demi kebutuhan perut yang setiap hari  tak dapat ditunda, mengganti peran sang ibu yang tiba di usia senja. Sejak ayahnya berkalan tanah, ia adalah cita-cita serta tumpuan besar dalam keluarga.

Raut wajah kusam senada dengan pakaian dekil yang melekat pada tubuhnya. Aku turut iba, saksikan langkah demi langkah itu tertatih telusuri bibir jalan raya menyapa keramaian kota, yang seolah tidak ramah baginya. Lihatlah, segala yang ada di sekitarmu seolah menegaskan kau adalah kesibukan paling sinis.

Namun aku bangga pada semangatmu,
aku bangga pada perjuanganmu,
Aku pun bangga pada tulus hatimu begitu pun, Kuat ragamu menanggung beban hidup yang terus berjalan.

Peluk eratlah koran jualanmu, kau adalah kenyataan sebuah negeri yang   tak letih sampaikan kabar cetakan pagi. 

Kau adalah setumpuk iba yang kerap terlupa oleh abai penguasa. Temuilah mereka di bawah lampu merah menyala dengan sejuk sapa, sebab pulangmu adalah segumpal harapan dan senyum berbalut air mata.

Bayangan

Dekapan malam yang sunyi membuat sejenak raga terdiam, hanyut dalam angan.

Jejak pilu perpisahan adalah air mata yang tertahan, sejuta aksara memendam sedih dan luka.

Jauh bentangan waktu yang sudah terlewati adalah cerita indah yang enggan hilang melebur bersama bayang. 

Biarkanlah terjadi hingga nanti, kan kurengkuh walau hanya terbaca sebagai kecewa sepanjang waktu. 

Katakan

Untukmu yang telah berjalan di sisi waktu. Berat Senyumanmu menjelma luka nanar membekas.

Bukit imaginasi memelukmu, menyelami dalam hatimu yang lapang.

Aku tidak sendiri, senantiasa di kawal oleh sekompi binatang mingil dan gemerlap bintang yang menantiasa terjaga di kerajaan malamku.

Tidak satupun manusia terlihat, hanya angin mendengus pelan di pelataran sepi yang menyeruak. Akan kemana daku setelah ini? Kemana kan mencari arti (Dalam kepalaku).

Tentang Kamu

Aku  Teringat tentang  sesuatu hal; 

tentang tulisan untukmu,

tentang luka lama yang terkapar,

tentang apa saja yang bisa ku gambarkan mengenai sosokmu .

Senda gurau yang kita habiskan berlarut-larut hingga memakan waktu, menguras canda tawa di balik layar monitor.

Masih terlalu jelas, ketika kau menceritakan tentang rindu dan cintamu yang patah oleh lelaki yang pernah bersamamu.

Tiga tahun lamanya, Katamu! Hingga pada akhirnya memutuskan untuk berpisah.

Dan kau pun datang. Di saat yang sama, kau memaksaku berpaling dari ini. Setelah bertahun-tahun aku telah memutuskan untuk berlari walau tertatih. 

Ku tau suasana hatimu, pilu dan sendu. Perihal lelaki itu adalah pilihanmu. Hingga kau tega menghukumku  merawat luka  di sini seorang diri.

Perihal Kemarau

Tiga hari yang lalu adalah cerita singkat tentang sungai yang mengering, perihal jalan berdebu.

Kau mengutarakan  kerinduanmu tentang hujan segera datang menerpa khayalmu. Merintik dengan jernih, membasahi bunga di taman hatimu.

Seperti halnya petani yang merindukan  irigasi terisi penuh.  Sekantong ceria tatkala airnya mengalir tampa jeda, tuk segera menyemai benih padi di belakang rumah-rumah mereka.

Hilang

Tadi malam aku kehilangan kata. Kuat hati mengejar tentangmu tetapi hilang jejak. 

Aku menemukan diriku kebingungan diterpa rinai hujan. Tanganku gemetar, kakiku tak sanggup berdiri tegak.

Inspirasi dalam kepala terasa kosong. Hilang makna dan arah; bagai setitik api yang padam di tengah badai.

Dengarlah, aku sungguh tak berdaya di hadapan cahaya bulan yang berpendar. Jendela fikiranku tak karuan, ia menjadi kusut saat hendak mencipta bait pertama.

Ku coba menengadah pada Langit-langit kamar walau hampa, berharap dapat membaca tanda, agar aku segera memainkan  jemari di atas coretan kertas. Menyelami ingatan, dalam angan. 

Melayang

Aku baru saja berbincang  dengan bayanganku yang melayang. Ketemukan ia kebingungan menentukan jalan pulang pada taman sabana ilusi.

Hari kemarin ia pergi meninggalkan raga. Kubiarkan  ia bebas menerebos segala kemungkinan, meski pulang dengan wajah berdarah-darah. 

Bayanganku menyelinap, menelanjangi bening matamu di ujung tatap. Disana, ia sibuk menabur bunga pada pemakaman cintamu.

Jangan biarkan ia bersedih sendiri.  Temukan ia bersama nyala api di tengah badai kegelapan, pada ruang ketiadaanmu yang hampa. Kau adalah setitik alasan tuk melayang.

Pemerintah

Rakyat pilu mencekik diri

Penguasa berselingkuh di bawa meja

Boneka ajaib piawai memainkan drama

Rakyat miskin terpanggang di atas bara kepentingan Ada yang pulih lalu mereka memilih pergi

Ada yang bertahan hanyalah para pengabdi.