Di sebuah rumah mewah berlantai dua, seorang perempuan muda, cantik, sedang hamil tua, keluar dari kamarnya. Di ruang tamu di melihat suaminya sedang bermesraan dengan seorang wanita muda, juga cantik, sambil saling berpegang tangan. Sesekali mereka berpelukan.

Si istri lalu menegur suaminya. Kenapa tega-teganya membawa perempuan ke rumah mereka. Si suami malah marah. “Memangnya kenapa. Kalau kamu nggak suka, silakan angkat kaki dari rumah ini,” bentak si suami. Perempuan yang duduk di samping suaminya hanya tersenyum sinis kepada si istri.

Itu adalah potongan adegan sinetron Suara Hati Istri yang ditayangkan Indosiar. Saya lupa judulnya. Sinetron Suara Hati Istri pertama kali tayang pada akhir tahun 2019, dan sampai sekarang sudah ratusan judul ditayangkan stasiun televisi tersebut.

Sesuai dengan nama programnya, sinetron yang tayang setiap hari ini mengangkat problematika rumah tangga dari sudut pandang seorang wanita. Sebagian besar cerita diklaim terinspirasi dari curahan hati para istri yang terzalimi.

Berbagai episode menghadirkan cerita para istri yang tertindas, suami yang ringan tangan, suami ingin menikah lagi atau berpoligami, dan segala kisah yang menggambarkan betapa tersiksanya para istri oleh kelakuan suaminya sendiri. Sinetron Suara Hati Istri sangat digemari masyarakat. Tak heran sinetron ini mendapat rating tinggi di acara televisi di Indonesia.

Kasus selingkuh hanyalah bagian kecil dari perilaku jahat seorang suami terhadap istri. Ada lagi episode bagaimana suami yang semula hidupnya terlunta-lunta, lalu berubah menjadi kaya karena nikah dengan anak konglomerat. Bukannya berterima kasih kepada istri dan mertua, si suami kerjanya hanya berfoya-foya. Dia malah berniat menguasai harta mertuanya. Caranya: dengan membunuh mertuanya sendiri. Dengan cara yang licik, si suami pun akhirnya menguasai seluruh harga kekayaan mertua. Setelah itu, si istri dicampakkan, dan dia kawin lagi.

Saya juga menyukai sinetron ini. Ceritanya asyik, meski kadang terlalu lebay. Apa iya sih, ada suami yang dengan terang-terangan membawa perempuan selingkuhannya ke rumah, padahal di rumah ada istrinya, sedang hamil pula. Si suami bahkan mengancam akan mengusir istrinya. Apakah karena dia tampan dan kaya raya bisa seenaknya bertindak apapun kepada istrinya?  

Sebagai seorang laki-laki, saya sempat berfikir ini hanya cerita khayalan. Namun sayapun menyadari, nggak mungkin sutradara sembarangan dalam membuat naskah dan skenario. Mungkin saja sang sutradara justru mengangkat cerita tersebut berdasarkan kisah nyata.   

Okelah. Tapi, kalau di dunia nyata ada rumah tangga yang seperti ini, bisa dibayangkan betapa superiornya si suami, dan betapa rendah dan hinanya harkat dan martabat si istri. Sinetron Suara Hati Istri menjadi potret buram lemahnya posisi perempuan di hadapan laki-laki.

Di balik hobi saya menonton sinetron tersebut, ada perasaan sedih, kasihan dan simpati terhadap nasib perempuan. Ternyata masih ada perempuan yang hidupnya terjajah.

Kesetaraan Gender

Padahal, di zaman modern ini, tidak ada lagi perbedaan hak antara laki-laki dan perempuan. Sekarang adalah zaman kesetaraan gender, zaman emansipasi. Apa yang bisa dilakukan laki-laki, juga bisa dikerjakan perempuan. Laki-laki tidak bisa lagi memonopoli.

Kini, sudah ada perempuan yang menduduki posisi sebagai bupati, wali kota, gubernur, menteri, anggota DPR, bahkan menjadi presiden. Sudah banyak perempuan yang menjadi pengusaha sukses, menjadi dirut BUMN, menjadi rektor, dan posisi penting lainnya.

Bahkan tidak sedikit perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga karena terpaksa. Misalnya, suaminya sakit sehingga tidak bisa mencari nafkah untuk keluarga. Dalam kondisi seperti ini, sang istri harus bekerja keras membanting tulang, tidak saja untuk menghidupi anak-anaknya, tapi juga membeli obat untuk suaminya. Makanya sering ada anekdot: Perempuan berasal dari tulang rusuk lelaki. Tapi setelah berkeluarga, dia menjadi tulang punggung. 

Contoh nyata betapa perempuan punya peran yang besar dalam keluarga adalah ketika perempuan menjadi tenaga kerja wanita (TKW) di luar negeri. Sebagai TKW, mereka bergaji besar sehingga dapat mengirimkan uang untuk keluarganya di Indonesia. 

Mereka pun sering disebut sebagai "Pahlawan Devisa". Padahal, di kampung halamannya, sang suami praktis tidak punya peran yang berarti. Paling-paling hanya menjadi petani di sawah atau berkebun. Adapun, anak-anak mereka, lebih banyak diasuh dan dirawat oleh nenek dan kakeknya.

Andaikata R.A. Kartini masih hidup, mungkin dia akan memprotes ke Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan meminta Indosiar menghentikan penayangan sinetron Suara Hati Istri

Barangkali Kartini menganggap sinetron tersebut kurang adil, hanya mengekploitasi kelemahan perempuan. Padahal, dalam kehidupan sekarang, ada juga suami yang terzolimi, entah oleh istrinya atau mertuanya. Hanya saja, cerita semacam itu tidak terekspos ke publik.

Saya pun, suatu saat nanti berharap bisa menikmati program sinetron Suara Hati Suami, supaya laki-laki sadar bahwa dia sekarang bukan lagi seorang penjajah yang bisa melakukan apa saja terhadap perempuan.