59241.jpg
Foto: http://www.scmp.com
Politik · 3 menit baca

Rindu, Pak Ahok

Bagaimana kabarmu di sana, Pak Ahok? Saya percaya pasti Bapak baik-baik saja. Bagi seseorang yang tak takut mati dan bahkan percaya mati adalah keuntungan, penjara mungkin hanya bagian kecil dari perjuangan.

Sejak istri Bapak, seorang perempuan hebat bernama Veronica Tan, membacakan keputusan untuk tidak mengajukan banding, nama Ahok sudah jarang terdengar. Padahal baru sebulan lalu, nama Ahok masih nyaring terdengar di berbagai penjuru negeri, bahkan dunia.

Ketika saya menyalakan TV, saya tidak lagi melihat seorang gubernur dengan menggebu-gebu menjelaskan kepada publik  tentang pejabat yang korup, tentang kelompok yang intoleran, tentang preman, tentang macet, tentang banjir.

Kuliah umum gratisan yang biasa kita dapatkan di pendopo Balaikota sudah tak lagi terdengar. Hilang bersamaan dengan tawa dan candamu yang menyebalkan tapi ngangenin itu lho.

Youtube tidak lagi penuh dengan rapat-rapat penting Pemprov DKI Jakarta tentang pemberian izin, tentang kinerja pejabat yang tidak baik, bahkan tentang proyek-proyek yang akan dibangun untuk mewujudkan Jakarta Baru yang kita impikan. Tidak lagi penuh dengan kegiatan-kegiatanmu yang meresmikan atau meninjau RPTRA, rusunawa, rumah sakit, dan seterusnya.

Pak Ahok, Jakarta kini semakin macet. Tapi di balik kemacetan itu, ada warisan yang akan segera Bapak tinggalkan. MRT, LRT, jalan layang, simpang susun Semanggi, dan masih banyak lagi.

Meski namamu tak disebut di setiap pekerjaan besar yang akan mengubah Jakarta menjadi kota berbasis transportasi publik, semua orang tau siapa yang bekerja keras untuk ini. Seperti kata anak-anak milenial saat ini, langit tak perlu menjelaskan bahwa dirinya tinggi.

Sudah lama tak melihat wajahmu, Pak Ahok. Kenangan tentang dirimu yang selalu membayangi membuat mata kadang tak kuasa menahan tangis. Duh, mungkin saya ini gagal move on. Tapi, mungkin juga saya memang tidak mau move on.

Bagaimana mungkin saya bisa move on, Pak? Saya masih sering melihat video ketika saya mengunjungi Bapak di Hari Kartini untuk memberikan buku Curhat Perempuan yang baru saya luncurkan. Hari itu, Jakarta sudah memutuskan Bapak tak akan lagi menjadi pelayannya.

Tapi hanya senyum yang kau tebar, tak ada marah, tak ada benci. Hanya senyum. Ahok memang bukan pembenci dan pendendam. Ahok penuh dengan cinta. Sejak awal ia selalu jatuh cinta dengan Indonesia. Apapun akan ia berikan untuk perempuan cantik bernama Republik Indonesia itu.

"Kayak kamu bilang, satu orang Ahok kalah, seribu Ahok akan lahir kok. Jadi kenapa harus sedih gitu kan?," katanya kepada saya yang selalu berharap bisa meneruskan nilai-nilai mulia yang ia pegang.

Saya masih sering membaca percakapan whatsapp denganmu. Menonton video yang pernah Bapak kirimkan tentang seorang anak dan ayahnya. Video itu, bagi saya, seperti pesan untuk menasehati saya bahwa kekayaan bukan soal harta, tapi soal bagaimana kita membantu banyak orang.

"Pakai joy ya, bukan happy," kata Ahok menjelaskan bahwa dalam bahasa Inggris arti kata joy itu lebih dari happy. Membantu banyak orang itu sukacita, bukan sekadar senang saja.

Sudah dua bulan sejak saya menjadi politisi. Pesanmu lewat video ketika saya mengambil keputusan terjun ke politik kerap saya ulang-ulang, Pak. "Kamu telah memberi perlawanan! Terus melayani, sekalipun difitnah, kamu harus tetap melayani," begitulah katamu.

Jangan khawatir, Pak Ahok. Saya, dan bukan saya saja, tapi banyak orang di negeri ini, tidak akan menyerah melawan mereka yang ingin mengubah dasar negara kita, melawan mereka yang ingin menghabisi KPK, melawan mereka yang ingin menghambat kesejahteraan rakyat.

Tidak, Pak Ahok. Perjuangan tidak mengenal kata menyerah hanya karena fitnah. Melayani negeri ini secara total tidak akan berhenti karena fitnah dari segelintir orang yang punya niat busuk. Itu telah Bapak buktikan, dan kini giliran kami melanjutkan.

Ketika dirimu sudah jarang terdengar, ketika dirimu sudah tak terlihat lagi, kenapa diri ini seolah tak mau terima? Kenapa perbincangan tentang dirimu harus berhenti? Bukankah hanya fisikmu yang dipenjara, tapi idemu bisa terus ada di luar bersama kami?

Ketika fotomu dipajang di Balaikota sebagai tanda masa bakti telah berakhir, mengapa hati ini seperti ingin memberontak? Mengapa  perpisahan harus begitu cepat? Jika memang harus berpisah, mengapa caranya seperti ini?

You deserve a better farewell, Pak.

Entahlah, Pak Ahok. Mungkin ini hanya ungkapan galau seorang pendukung gagal move on yang masih tak rela melihat seorang perempuan kuat seperti bu Vero meneteskan air matanya begitu deras, seorang lelaki kecil bernama Daud menanyakan: "Papa kapan pulang?"

Tapi adakah yang bisa memberi tahu kepada saya apa kata yang tepat untuk menjelaskan perasaan ini? Bisakah dokter atau psikolog mengetahui gejala apa ini? Ah, belum tentu.

Karena hanya saya dan para pendukungmu yang tahu apa kata yang paling tepat untuk menjelaskan perasaan ini.