Pecandu Sastra
2 bulan lalu · 260 view · 4 min baca menit baca · Cerpen 62095_95290.jpg

Rindu Menua

Malam itu, di sebuah ruangan kecil di samping kamar tidurku, aku mendapati diriku belum juga tidur. Jari-jemariku terus beradu dengan keyboard laptop; mataku masih saja asyik mengamati layar laptop itu. Padahal, malam sedang larut-larutnya.

Ini bukanlah kali pertama aku terjaga hingga sepertiga malam begini. Intinya, selama serutan kopiku belum tandas sepenuhnya, selama itu pula aku dan laptopku terus beradu ria.

Laptopku adalah kawan setiaku. Aku banyak belajar darinya. Tak jarang juga merepotkannya dengan terus memaksanya menyala berjam-jam sekedar untuk membantuku menyelesaikan tugas, mendengarkan mp3, atau meyulapnya menjadi bioskop kawe jika ada film baru.

Namun ada satu hal yang tak pernah luput kubuntuti dari sebuah laptop usang yang terus menyala riang. Selalu saja aku sempatkan diri untuk membuka folder lama yang aku lupa namanya. Disana, dengan rapinya, tersimpan deretan foto-foto seorang gadis yang sedari dulu aku kagumi.

Dia adalah gadis yang senyumannya masih saja membekas di hati semenjak aku duduk di bangku Madrasah Aliyah dulu. Hidungnya begitu mancung, panjangnya hampir setengah jari manisku. Bola matanya memiliki daya tarik yang dapat memicu bahagia. Dan aku adalah orang yang senantiasa terpesona.

Perihal nama, aku rasa tak usahlah membeberkannya. Karena begitulah sejatinya peranku sebagai seorang pemuja rahasia. Cukup aku dan Tuhan sajalah yang tahu. Aku memang bukanlah orang yang selalu memujanya, hanya saja dulu aku sempat meminatinya. 

Bedanya, sekarang aku meminatinya lebih dari yang dulu. Bahkan perasaan itu kini telah beranjak tumbuh menjadi rindu.

Aku sudah terbiasa melewati malam-malam sepiku dengan menyapa foto-foto lamanya. Menjelang tidur, aku bahkan sering berkelana ria di beranda facebook-nya; membuka foto, membaca komentar-komentar yang tak jarang membuatku senyum-senyum sendiri.

Apalah dayaku yang hanya sebagai penonton; penikmat dalam diam. Tanpa pernah meninggalkan jejak like maupun comment di berandanya.

Ada juga segelentir akun yang seenaknya menandai akun miliknya dengan menuliskan kata-kata mesra, hingga berbuah sayang. Barangkali itu pacarnya, atau mungkin mantannya, atau bisa jadi seorang mantan yang kini kembali menjadi pacarnya. Entahlah!

Facebook adalah jalan yang tepat nan capat untuk mengungkapkan bahwa aku sedang dalam kondisi merindukannya. Menurutku hal itu bagus, karena aku bisa saja merindukannya tanpa harus memberitahunya. Dan celakanya, rasa rindu itu bekerja langsung tanpa ada pemberitahuan melalui urat saraf. 

Tak jarang aku juga sempat beberapa kali mencoba mengirim pesan online kepadanya. Ya, sekedar untuk menyapa, menanyakan kabar, atau menanyakan hal-hal yang baginya itu tak penting. Aku tahu dia tidak akan mungkin mengirimiku pesan duluan, dan itu memang mustahil. Tapi melihatnya online agaknya memberiku harapan.

Rindu yang kita derita adalah penyakit yang unik. Dia seperti bunga yang tumbuh dan berkembang tanpa bantuan musim. Walaupun sakit dan mengusik, namun kita menikmatinya.

Begitu pesan Kahlil Gibran dalam gubahan syairnya yang malam itu juga ku jadikan story di whatsapp-ku. Sayangnya dia tidak membaca itu. Karena memang aku tidak punya nomor HP-nya yang bisa kusimpan.

Entahlah! Larut malam semakin memperburuk rasaku. Enggan rasanya beranjak ke ranjang tempat tidurku itu. Aku masih ingin menyaksikan senyumnya yang masih merekah bermekaran di layar laptopku. Toh juga subuh segera menjelang, tanggung rasanya untuk ku tinggalkan.

Akupun mencoba memutar beberapa tembang lama yang menjadi favoritku. Lirik lagu Peterpan, menunggumu, misalnya yang aku kolaborasikan dengan tatapan matanya yang ada di salah satu foto-foto itu seolah menambah derita malam menjelang pagiku.

Sebenarnya aku tidak suka dengan dilema rindu yang tak bertuan ini. Tidak ada untungnya sama sekali selain berkhayal, lalu senyum-senyum sendiri. 

Aku juga sering sengaja menyibukkan diri dengan malakukan aktifitas lain yang setidaknya bisa mengalihkan pikiranku untuk tidak melulu mengingatnya, tetap saja kuantitas rindu ini lebih berat pada akhirnya.

Barangkali begitulah efek dari rindu yang tak berkesudahan. Dia akan terus mengikuti kemanapun kita pergi. Gadis itu benar-benar menjadi biang kegelisahanku saat ini. Dia adalah sebaik-baik tempat, dimana rindu ini bersemayam.

“Dek, boleh minta waktumu sebentar? Aku rindu!” Begitulah kiranya ungkapan yang ingin ku luapkan dan ku utarakan langsung padanya. Sayang, dia punya orang yang selalu lebih dahulu menanyakan hal itu.

Aku ingin berterus terang dek. Aku sebenarnya tidak merindukanmu, hanya saja aku tetap ingin melihat foto-foto profilmu. Aku juga tidak sedang merindukanmu, hanya saja aku selalu membuka percakapan usang yang dulu sempat kau balas lewat inbox-mu itu. 

Aku bahkan tidak merindukanmu, hanya saja aku masih setia menunggu pesan darimu yang bisa jadi itu rindu yang salah alamat. Dan aku benar-benar tidak merindukanmu, hanya saja aku tetap berbohong.

Aku ingin ada kebenaran ditengah-tengah kebohongan ini tentang apa yang selama ini aku rasakan. Adalah aku masih merindumu. Dan waktunya sangat tidak tepat. Rindu datang pada waktu yang tidak tepat.

Kamu tahu dek? Saat ini aku tidak sedang memikirkan apa-apa selain kamu, karena kamu adalah pikiran itu sendiri. Akupun kurang tahu apakah kamu akan mengetahui ini cepat atau lambat. Yang jelas, aku berharap kamu akan mengetahui itu.

Oh ya, tulisan ini nantinya akan aku post di berandaku yang otomatis akan bisa kamu lihat dan baca. Selepas kamu membaca tulisan ini, cukuplah tinggalkan jejak senyum seperti halnya yang biasa kulihat di foto-fotomu itu. 

Janganlah sempat menyibukkan diri untuk membalas, karena itu memang tak penting bagimu. Aku juga tidak memohon untuk kau berbelas kasihan, karena engkaupun tidak sedang menghiraukan.

Dan kalaupun di akhir cerita ini engkau tak jua kumiliki, cukuplah engkau untuk kukagumi. Dan biarlah rindu ini menua.”

Kerlipan sinar yang baru saja bangun dari peraduan; menembus jendela kamar, turut serta menutup rangkaian kalimat demi kalimat yang aku tulis menjelang subuh itu. Tak lupa pula tulisan itu kusimpan dalam folder yang sama - tepat dimana foto-fotonya berjajar dengan rapi -  agar aku bisa dengan mudah mencarinya.

Folder itu kini aku beri nama gudang rindu, karena barangkali nama itu sesuai dengan isinya yang selalu saja memaksaku untuk membukanya. Aku memang tipe orang yang rentan rindu, terutama kepada dia yang sarat estetika.

Bagaimanapun, aku harus mengakhiri tulisan ini. Selain karena jeda subuh dan kerja, aku dan laptopku juga butuh istirahat total agar nantinya aku bisa melakukan hal yang sama lagi, berulang-ulang. Dan untukmu dek, biarlah semesta menjadi saksi bahwa aku selalu menunggumu. Dan semoga akhirnya kita bersua.

Artikel Terkait