Indahnya bintang memancarkan sinarnya dalam kegelapan. Malam sepi datang menghampiri seorang gadis cantik nan pintar bernama Santi. Kini dia sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi Negeri tak jauh dari desanya.

Setiap malam sebelum tidurnya, Santi selalu mengulang kembali memori manisnya bersama sang kekasih, sembari membaca chat-chat lama yang telah usang. 

Aldi nama kekasihnya, dia sedang menempuh pendidikan di pondok pesantren.

"Dik, nanti jika mas pergi jangan rindu ya!"(Chat Aldi beberapa minggu lalu)

"Ya rindu dong mas, emangnya Dilan saja yang boleh rindu?" (Balasan chat Santi kala itu)

"Jika rindu doakan mas saja, semoga bisa istiqomah belajar dan ngajinya" (Permintaan Aldi)

"Aamiin, doakan aku juga ya mas" (Permintaan Santi juga)

Saat membaca kenangan manis itu, rindu Santi semakin menggebu. Seketika dia beranjak dari tempat tidur menuju meja belajarnya. Menuliskan sedikit puisi yang menggambarkan perasaannya saat itu, sambil menatap indahnya bulan melalui jendela kecil dalam kamarnya.

Puisi itu berjudul Semilir Rindu.

Senja hilang berganti malam penuh kesunyian
Malam sepi mengingatkanku pada sebuah perasaan
Rasa yang tumbuh namun tak dapat terbalaskan
Mengingatkanku pada secuil kenangan yang tak terlupakan

Baca Juga: Elegi Rindu

Rindu…
Ya, aku rindu..
Rindu padamu yang membuat hatiku bergejolak
Membuat tubuh ini lemas seakan tak bisa bergerak

Mungkin kamu tak tahu...
Seberapa berat rindu ini menancap dalam jiwaku
Aku tak tahu...
Ke mana harus membawa pesan rindu ini
Yang kubisa hanya menyampaikan pesan rindu ini
Lewat hembusan angin yang menyejukkan kalbu
Semoga tersampaikan padamu
Wahai lelaki impianku…

Beberapa bulan kemudian, Aldi pulang dari pondok pesanten, ia sengaja tidak memberitahu Santi dan berniat akan memberi kejutan dengan langsung mendatangi rumahnya.  

"Assalamualaikum" (Salam Aldi sambil mengetuk pintu)

"Waalaikumsalam, tunggu sebentar"(Jawab dari kejauhan) "Nak Aldi" (Sapa Ibu Santi usai membukakan pintu)

"Bagaimana kabarnya bu?" (Mencium tangan calon mertuanya itu)

"Alhamdulillah baik nak, silakan duduk. Sebentar ibu panggilkan Santi" (Beranjak meninggalkan Aldi)

"Tidak perlu bu!" (Larang Aldi)

Langkah ibu Santi terhenti

"Saya ke sini ingin bertemu ibu, soalnya saya rindu" (Sedikit senyum jail Aldi)

"Apa benar tidak rindu aku?" (Sahut Santi tiba – tiba datang)

"Ehhh orangnya nongol, maksudku itu rindu pada ibu dari anak-anakku kelak. Inshaallah kan kamu" (Jawab Aldi dengan gombalan)

Santi dan ibunya hanya bisa tersenyum, kemudian sang ibu beranjak meninggalkan mereka berdua agar melepas rindu yang selama ini menumpuk dalam hatinya.

Baca Juga: Terjebak Rindu

Mereka berdua bercerita tentang pengalamannya masing-masing dengan tertawa riang, hingga tak sadar bahwa malam semakin larut yang menandakan perpisahan datang menjemput.

"Sudah terlalu malam dik, aku pamit dulu ya. Ibu mana?" (Tanya Aldi)

"Ibu yang mana nih?" (Tanya Santi juga)

"Ya ibumu dong dik, yang nantinya akan menjadi ibuku juga" (Jawab Aldi dengan sedikit bercanda)

"Ku kira ibu dari anak-anakmu, hahaha"(Jawab Santi sambil tertawa dan masuk ke dalam memanggil ibunya)

"Ibu sudah tidur mas, besok saja aku salamin" (Ucap Santi)

"Ya sudah,  aku pulang dulu ya dik" (Sambil melangkah ke arah pintu)

"Tunggu sebentar mas, ini ada puisi untukmu. Di buka ketika sampai di rumah ya, dan kalau kamu rindu aku baca saja puisinya, nanti biarkan angin yang menyampaikan salam rindumu itu" (Pemberian Santi dengan sedikit senyum malu - malu)

"Iya dik, terimakasih ya. Assalamualaikum" (Salam Aldi sambil menaiki motornya)

"Waalaikumsalam" (Jawab Santi)

"Jangan rindu aku ya, kita nanti akan lama tak jumpa!" (Teriak Aldi sambil menghidupkan motornya)

"Baru saja kita ketemu mas. Tidak mungkin rindu lagi, jangan lupa baca suratnya" (Balasan teriakan Santi)

Ketika Santi melepas kepulangan Aldi, dia merasakan hal aneh dalam benaknya. Dia merasa akan berpisah dengan Aldi dalam waktu yang cukup lama, tak sengaja air matanya jatuh membasahi pipinya.

"Ya Allah perasaan apa ini?" (Tanya dalam hati Santi) "Semoga kamu baik-baik saja mas" (Ucap Santi dengan pandangan kosong)

Baca Juga: Sabda Rindu

Ternyata perasaan Santi semalam benar adanya, terjadi sesuatu hal pada Aldi. Dia mengalami kecelakaan di tengah perjalanan pulang. 

Santi yang mendengar kabar itu, seketika tubuhnya lemas, tangannya gemetar dan jantungnya memompa dengan begitu cepat. 

Santi segera bergegas menuju Rumah Sakit. Tenyata nasib berkata lain, sesampainya di sana Aldi sudah dinyatakan meninggal dunia karena mengalami pendarahan parah di kepalanya.

"Aldi sudah meninggal nak" (Ucap ibu Aldi dengan isakan tangis sambil memeluk Santi)

Santi terdiam, dia masih berusaha mencerna kejadian yang terjadi. Sesekali membayangkan pertemuan singkatnya dengan Aldi semalam. Tiba-tiba air matanya menetes dipelukan ibu Aldi.

Jenazah Aldi akhirnya di bawa ke rumah duka. Di situlah tangis haru keluarga membanjiri. Santi masih tidak percaya dengan apa yang tengah terjadi, dia tampak memandangi jenazah kekasihnya itu dengan tatapan kosong, dan berharap bahwa semua ini hanyalah mimpi buruk saja.

Tibalah saat perpisahan benar-benar akan terjadi. Santi mengantarkan Jenazah Aldi ke peristirahatan terakhirnya.  

Usai pemakaman,  Santi memilih untuk pulang ke rumahnya. Mengunci diri di kamar sambil membayangkan secuil kenangan yang masih lekat di ingatan.

Tetapi, Santi berusaha untuk tidak larut dalam kesedihan. Dia berusaha tegar walaupun berat hati untuk merelakan kepergiannya, ia harus ikhlas dan menjalani hari-harinya dengan ceria kembali agar mendiang cinta pertamanya itu tenang di alam sana. 

Hari-hari yang tak pernah diinginkan itu pun telah berlalu.  Kini tepat sebulan kepergian Aldi. Santi telah memulai hari-hari baru dengan penuh kebahagiaan dan semangat lagi. 

Jika Santi rindu, dia sampaikan salam rindunya melalui doa dan untaian bait puisi-puisinya.