Sudah setahun lebih aku ditinggal ibu. Ada kekosongan di rumahku sejak itu. Dapur yang biasanya menjadi tempat beraktivitas terlihat lengang. Tak bersuara. Suara berisik minyak panas di penggorengan tiap pagi kini tiada lagi.

Sore itu ibu berpamitan mau mencari ayah di pantai. Kebiasaan ayahku tiap sore adalah ngumpul dengan teman temannya sesama nelayan di pantai untuk menambal jaring yang robek. Sambil duduk duduk menambal jaring, banyak sekali yang mereka obrolkan.

“Jaga adikmu selama ibu di luar rumah. Kamu adalah anak tertua di rumah ini mulailah belajar bertanggung jawab, Ibu tak akan lama,” itulah pesan terakhir ibu padaku  sesaat sebelum keluar dari rumah sore itu.

Bapakku adalah nelayan biasa yang hanya mempunyai tenaga sebagai nelayan. Ia hanya membantu Pak Slamet yang mempunyai perahu. Ya, Bapak hanyalah seorang Belah yaitu nelayan yang hanya mengandalkan tenaganya untuk melaut. Kuli. Ia melaut hanya sebagai pembantu pemilik perahu. Penghasilannya hanya sepertiga dari perolehan tangkapannya.

Sebagai belah, penghasilan memang hanya sepertiga dari keseluruhan perolehan tangkapan karena yang dua pertiga di miliki oleh pemilik perahu atau juragan. Dengan penghasilan yang tidak besar kebutuhan kami hanya cukup untuk makan. Kedua orang tuaku seringkali cek cok hanya karena ini. Kebutuhan yang sering tak terpenuhi karena tangkapan yang kecil.

Seluruh warga desaku bingung ketika tahu ibuku tidak pernah kembali. Saat aku bertanya apakah ada yang berpapasan dengannya semua menjawab tidak tahu. Hari itu semalaman aku mencari ibuku. Ia tak membawa apa apa saat keluar mencari ayah.

Hari berlalu begitu cepat. Berganti bulan dan kini sudah hampir 18 bulan aku kehilangan ibuku. Sudah pula kuumumkan di radio terdekat tentang hilangnya ibuku. Bahkan aku juga sudah lapor ke polisi tentang hilangnya ibuku. Penantianku kosong. Ibu hampir seperti tertelan laut utara dan tak pernah kembali.

“Kak, ke manakah ibu pergi, mengapa ia tak kembali?” adikku terkecil seringkali menanyakannya. Pernah pula ia protes dan berkata, “Apakah ia bosan dengan kita? Kak.”

Biasanya aku hanya diam dan meyakinkan bahwa ibu hanya pergi untuk membantu ayah mencari uang. “Ia pasti kembali dan akan pulang dengan sekeranjang uang biar hidup kita tidak melarat dan kekurangan,” jawabku setiap kali adik adikku bertanya padaku.

Ibuku adalah gambaran nasib seorang wanita desa nelayan yang kebetulan dilahirkan dari orang tua yang tak berpendidikan. Krena berwajah cantik ia lekas dinikahkan oleh kakek nenek kami karena begitu banyak warga kampong kami yang menaksirnya. Ia tak lulus sekolah rakyat dan hanya mengenyam pendidikan itu selama tiga tahun. Dan kebetulan sekali, karena ia agak pintar jadi ibuku sudah bisa membaca dan menulis.

Saat itu ia baru berumur 13 tahun ketika dinikahkan dengan ayahku anak seorang juragan ikan yang kebetulan bernasib baik saat melamar ibuku karena kakek nenek kami melihat masa depan anaknya akan beruntung jika dinikahi oleh seorang anak juragan.

Namun kemalangan sepertinya selalu menggelayut pada garis nasib ibuku. Setahun setelah menikah mertuanya bangkrut dan terpaksa ibu dan ayah harus mencari penghidupan sendiri tak lagi ikut membantu bisnis mertuanya. Ayahku akhirnya menjadi belah dan hidup menjadi nelayan seperti warga kampung kami lainnya.

Inilah awal dari kemelaratan kami sekeluarga. Ayahku yang hanya menjadi belah tak mampu lagi menghidupi keluarganya dengan layak. Kami hanya sekedar menyambung hidup. Untuk kebutuhan lainnya jarang bisa kami penuhi. Di antara anak anak nya tak ada yang bersekolah lebih dari sekolah dasar.

“Yang penting kamu bisa membaca dan menulis, itu sudah cukup,” jelasnya ketika aku minta untuk melanjutkan sekolah ke madrasah Tsanawiyah di desaku.

Sepeninggal ibu, ayah terus melamun dan mulai jarang melaut. Hanya aku yang kini ikut Lik Tasam melaut sebagai belah. Adik adikku sudah kuajari untuk memasak nasi jika aku melaut tak ada di rumah. Mereka juga menjadi teman ayah yang sering melamun dan kadang kadang seperti meracau sendiri.

Mungkin kehilangan istri baginya amat menyengsarakan toh di setiap harinya mereka selalu bertengkar. Lelaki memang seperti itu, meski setiap bertemu selalu bertengkar dengan wanita pasangan hidupnya, jika ditinggal pergi mereka pun sering Poyang payingan tak karuan.

Kehadiran Istri memang seringkali terabaikan bagi lelaki. Mereka sering menganggap semua adalah kebiasaan. Saat di sampingnya wanita seperti tak ada dan ketika tak ada mereka baru merasa kehilangan. Bahkan menurutku lebih abaik menjadi yatim daripada menjadi piatu. Sebagaimana yang ada, bahwa keluarga tanpa hadirnya ibu hampir dipastikan anak anaknya akan sering terlantar,

Bagi lelaki yang kehilangan istri juga sering mengabaikan anak anaknya karena kebanyakan mereka akan menikah lagi dan wanita yang baru ini sering hanya suka lelakinya tak mau dengan anak anaknya. Di desa nelayan tempatku ini banyak sekali terjadi yang seperti ini. Pada akhirnya si anak akan menjalani kehidupannya dengan caranya sendiri.

“Har,..Har,….!” Teriak Sabil yang berlalri lari ke rumahku.

“Ada apa, Bil, kok teriak begitu pagi pagi begini?”

“Yu Narti baru datang dari Hongkong pagi ini. Ia bercerita pernah melihat ibumu di alun alun Hongkong sedang mendorong seorang nenek  di kursi roda,” jawabnya penuh antusias dan kebahagiaan. Sabil seringkali kua ajak untuk mencari ibuku saat itu. Ia teman baikku karena ia anak juragan kapal tempat aku Mbelah dengan ayahnya.

“Ibumu menitipkan pesan surat ke kamu, ini tadi Yu Narti yang berpesan untuk kusampaikan padamu.”

Aku terdiam melihat lipatan kertas dari Sabil. Aku marah dan menerka nerka apa gerangan isi surat ini. Aku senang karena tahu bahwa ibuku masih hidup. Tetapi,  ada perasaan marah juga,  mengapa ibu memberi tahu dengan cara begini.

Untuk Jahar anakku

Maaf ibu tak jujur terhadapmu saat itu. Ibu harus menjadi TKW di Hongkong untuk mengubah nasib kita. Kamu jangan marah hanya cara itu yang bisa kutempuh.

Ibumu……..

Tulisan itu cukup singkat. Kertas itu kupandangi dengan rasa haru. Aku harus mengikuti pesannya delapan belas bulan lalu bahwa aku adalah anak pertama yang harus bisa merawat adik adiknya. Tetesan airmataku jatuh tepat di atas kata ibumu. Airmata itu melelehkan kata ibumu…