‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍‍15 tahun yang lalu, demonstrasi masih identik dengan mahasiswa. Kalau bukan dari ekstra kampus yang dimobilisasi oleh PMII, HMI, dan GMNI, sudah pasti BEM yang bergerak turun jalan. Mereka mewarnai Pamekasan dengan idealisme sebagai pembela kaum yang lemah.

Kaum yang lemah tidak lain adalah potret dari kemiskinan, minoritas, dan kelompok masyarakat yang hak-haknya terpinggirkan. Sebagai agen of social change, mahasiswa adalah patriot, pahlawan bagi yang tak berdaya agar negara hadir melindungi mereka.

Kita mafhum kenapa ekspektasi kepada mahasiswa begitu kuat. Selain pikirannya masih jernih dan objektif, angan-angannya an sich untuk memperbaiki kehidupan bangsa dan negara, tidak ada yang lain. Itulah idealisme. Idealisme adalah ukuran moral tertinggi. Satu sisi.

Sisi yang lain. Semangat yang besar dalam diri mahasiswa yang bahkan tak bisa ditukar oleh kenikmatan apa pun adalah keniscayaan. Karena semangat adalah kenikmatan itu sendiri. Di bawah sengatan matahari, semangat perjuangan mahasiswa justru makin bergelora.

Tahun-tahun itu, pengharapan masih ada. Tanggung jawab sosial masih kuat dalam nyanyian "Darah Juang" kala turun ke jalan menyuarakan kepentingan masyarakat. Apa yang disuarakan oleh mahasiswa adalah nilai yang harus dijaga (guardian of value) melalui demonstrasi.

Setelah kemudian lambat laun, saya malihat, unjuk rasa di kabupaten kini tak lagi sama. Almamater kebanggaan itu mulai hilang dari pandangan mata.

Seiring bergantinya waktu, berganti pula penguasa jalanan. Penobatan "mahkota" itu kini telah berpindah pada kelompok berjubah. Khalayak telah sepakat, tukang demo kini bukan lagi yang pakai almamater. Bukan lagi dari kalangan kampus, tapi dari ormas keagamaan.

Unjuk rasa di kabupaten berlambang Arek Lancor ini, dari catatan perjalanannya, cukup dinamis. Pasca meredupnya gerakan mahasiswa, sebelum akhirnya sampai seperti sekarang, Pamekasan pernah diguncang oleh lembaga swadaya masyarakat atau LSM.

Dari sekian LSM yang ada, mereka turun jalan menyikapi isu-isu yang sedang hangat terjadi. Bergiliran. Kadang bergerak bersama dalam aliansi LSM se Pamekasan. Sekitar 2008, LSM—saya menamainya, LSM pergerakan—mulai tumbuh dan subur beberapa tahun kemudian.

Seperti kejayaan pergerakan mahasiswa sebelumnya, LSM ini "berkuasa". Di masanya, aktivis LSM ini adalah artis. Sosoknya populer pun disegani.

Kejayaan LSM adalah kejayaan para aktivisnya. Dari itu tidak sedikit orang menilai, ada gairah "pragmatisme" dalam setiap aksinya. Kita maklum, aktivis LSM pergerakan yang rata-rata sedang mengalami masa transisi, pasca studi dan belum bekerja, sedang beradaptasi.

Tentu, tidak semua LSM pergerakan seperti itu. Ada yang pergerakannya masih murni, tapi cenderung tidak kelihatan. Sehingga sulit ditemukan keberadaannya. Masa transisi ini dimanfaatkan sebaik mungkin dengan melibatkan kadernya yang yang masih di kampus.

Akibat dari pelibatan ini sangat terasa dampaknya. Idealismenya makin hari makin surut. Banyak mahasiswa merasa perlu bergerak bersama LSM di bawah komando seniornya, ketimbang terus bertahan dengan idealismenya dalam organisasi kemahasiswaan.

Ini salah satu faktor kenapa gerakan mahasiswa di Pamekasan terhenti, kemudian berganti dengan bumingnya LSM pergerakan.

Kini, era LSM pun berakhir. Kalaupun masih ada sisa-sisa gerakan mereka, pamornya kalah kuat dibanding teriakan takbir FPI. Stressing kelompok Islam konservatif ini terasa adanya. Sekali turun jalan berdemonstrasi, laksana petir menggeleggar, semuanya diam ketakutan.

Selain di tingkat nasional, Pamekasan sedang gandrung-gandrungnya dengan gerakan atas nama agama. Samua yang tidak sesuai dengan "seleranya" otomatis bertentangan dengan syariat Islam. Contoh terakhir adalah keberadaan Kota Cinema Mall (KCM), tanpa negosiasi, ditolak.

KCM yang memberi layanan tontonan bioskop mendapat penolakan keras dari FPI. Berdasarkan Gerakan Pembangunan Syariat Islam (Gerbang Salam), ikon Kabupaten Pamekasan, FPI bertindak layaknya pemilik daerah kabupaten ini, turun jalan menuntut KCM ditutup.

Moral umat adalah alasan utama. Berdirinya KCM dianggap akan menjadi sumber kemaksiatan. FPI menolak dengan dalih bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Belum penolakan lainnya terhadap hiburan; Irwan D'Academy, Ridha Rhoma, hingga Nissa Syabyan, gagal manggung.

Hadirnya aliran Islam Garis Keras dalam kancah aksi-aksi demonstrasi, mengeliminasi beragam isu yang seharusnya dikedepankan. Seperti kemiskinan, ketidakadilan, diskriminasi, dan perusakan lingkungan yang akhir-akhir marak terjadi di Pamekasan.

Semua itu kalah nyaring dengan isu kemaksiatan.

Demonstrasi bukan lagi digerakkan oleh persoalan-persoalan yang basisnya adalah kepentingan dan kebutuhan hidup masyarakat, tapi oleh sentimen agama. Atas nama agama, aspirasi ulama di sini tidak hanya didengar, tapi "wajib" dilaksanakan oleh kepala daerah.

Sungguh berat menjadi kepala daerah di Pamekasan ini: antara tunduk terhadap tekanan ormas, atau membiarkan masyarakat menikmati apa yang seharusnya dinikmati, misalnya hiburan, namun demikian akan diklaim sebagai kepala daerah yang anti syariat.

Di masa depan, jika kenyataan ini dibiarkan terus-menerus, Pamekasan hanya akan dikuasai oleh segelintir orang. Semua kebijakan pemerintahan hanya akan mencerminkan kehendak mereka. Sementara untuk kepentingan yang lebih luas cenderung abai karena rasa takut.

Ini tentu tidak baik. Karena isu yang bergulir tidak lagi merepresentasi apa yang seharusnya menjadi tujuan negara—dalam teori welfare state— yaitu kesejahteraan. Isu kemiskinan dan isu lainnya yang berkaitan dengan hajat hidup orang banyak menjadi mengecil oleh besarnya gelombang isu kemaksiatan.

Dominasi kelompok Islam konservatif ini akan terus digdaya. Makin "diberi ruang" eksistensi, makin kuat dominasi mereka. Simbol agama acap kali tak kuasa dibantah oleh pemilik otoritas di kabupaten ini. Faktor politik pula, kelompok puritan ini merasa di atas angin karena massa riilnya.

Untuk itu, melepaskan cengkeraman mereka agar negara tidak terus-terusan "terjebak" dalam persoalan halal dan haram, sementara persoalan signifikan lainnya terkesan kurang mendapat perhatian, solusinya, dorong kembali gerakan mahasiswa turun jalan.

Melalui gerakan mahasiswa yang cenderung autentik, publik akan diberi pilihan—dalam bahasa Ipit S. Dimyati—"suatu kehidupan lain". Masyarakat akan menyadari bahwa negara seharusnya hadir untuk melayani kehendaknya, yang selama ini hilang karena melayani kemauan segelintir orang.

Apa yang disuarakan oleh Ketua PMII Cabang Pamekasan, beberapa hari yang lalu, mengenai aktivitas Galian C tidak berizin sebanyak 350 tersebar di 13 kecamatan se Pamekasan, adalah contoh idealisme mahasiswa yang harus didorong aktualisasinya melalui gerakan turun jalan.

Mendesak pemerintah untuk serius menyikapi aktivitas penambangan ilegal tersebut, yang di masa-masa mendatang, dampaknya sangat merugikan masyarakat sekitar. Misalnya, kerusakan lingkungan, seperti makin menurunnya debit air sumur dan terjadinya abrasi.

Saya kira, fakta ini harus dikawal melalui aksi turun jalan. Karena menyentuh langsung dengan kepentingan masyarakat banyak. Dan, hanya mahasiswa yang bisa melakukan itu. Selain mengimbangi dominasi kelompok konservatif yang makin menjadi-jadi.