Kenapa rindu berubah menjadi sembilu?

Yang datang bukan tangis haru melainkan tangis pilu.

Apa ini rencanamu wahai pujaanku?

Membakarku dengan api cemburu.


Wahai pujaanku...

Segenap rasa kuaturkan padamu.

Apa kau juga merasakan itu?

Sebuah rasa yang memburu.


Apa ini sandiwara?

Indah dicerita tidak dengan kehidupan nyata.

Menggapaimu bagai mencapai khatulistiwa.

Yang hanya terngiang di kepala.


Rindu ini sungguh tak sopan,

datang tanpa bisa dipulangkan.

Bahkan, dia tak mau disalahkan,

padahal ada hati yang sudah diremukkan.


Wahai pujaanku...

Aku tak mau terus terbelenggu,

oleh sebuah kenyataan yang ambigu,

bahwa kita tak bisa menyatu.


Tembokku pun mulai merapuh,

pertanda akan runtuh.

Duduk terdiam bagai orang lumpuh.

Berharap tak sendirian bila terjatuh.


Apa aku harus tetap terdiam?

Untuk mencintaimu.

Untuk mengagumimu.

Untuk merindumu.


Diam yang bisa aku lakukan,

agar aku tak mendengar penolakan.

Ya...sebuah penolakan,

penolakan dari pernyataan bila aku ungkapkan.


Katanya cinta dibuktikan dengan tindakan.

Katanya desiran datang dengan belaian.

Katanya kehangatan datang dengan pelukan.

Namun, bagiku cinta bersinar lewat tatapan.


Aku tak pernah meminta untuk mencintaimu,

aku juga tak pernah diminta untuk mencintamu.

Karena cinta ini didasari keikhlasan,

keikhlasan diawali dengan kemauan.


Kau tak pernah merayuku,

kau tak pernah menoleh ke arahku.

Lantas kenapa kau mampu membuatku rindu?

Seolah diriku mengharapkan jiwa dan ragamu.


Aku menginginkanmu.

Aku merindumu.

Aku mengagumimu.

Wahai pujaanku.


Di malam ini...

Aku meminta mentari datang menyinari.

Mustahil bukan?

Ya, seperti itulah ketika aku berharap kau datang ke pelukan.


Terlalu lama rasa ini kupendam.

Melihatmu tertawa dengan gadis lain membuat hatiku tertikam.

Oh... Apa ini cobaan?

Cobaan untuk mendamba sang pujaan.


Membayangkan menggenggam tanganmu,

memeluk tubuhmu,

mencium keningmu.

Lalu aku tersadar semua itu bayangan yang semu.


Aku bukan layang-layangmu,

Yang kau tarik ulur semaumu.

Seolah kau tak melihat kepedihan,

Ya, kepedihan tentang harapan dan pujaan.


Kini...

Setelah kau mengetahui cinta ini,

kau tancapkan duri di relung hati,

kau torehkan luka di lapisan terdalam nadi.


Aku mencoba diam,

namun aku takut dibilang terlalu bungkam.

Aku mencoba berteriak lantang bahwa aku sakit hati,

Lalu kau bilang ini karena salahku sendiri.


Mencinta dan merindu dalam diam,

 menimbulkan sakit yang menghujam.

Bagaikan tikaman,

yang sakitnya tak terbayangkan.


Diawal tadi kukira merindu dalam diam tak ada penolakan.

Ah, ternyata aku malah mendapat pengusiran.

Diam dalam kepedihan.

Diam dalam keheningan.


Aku mencoba mengumpulkan serpihan hati,

yang telah kau remukkan dengan brutal seorang diri.

Lenyap tanpa aku sadari.

Hancur dimakan sepi.


Aku ingin meneriakkan rasa yang terpendam.

Namun, aku tak bisa dan hanya mampu terdiam.

Bungkam..

Bungkam karena penolakan atas permintaan yang belum tersampaikan.


Aku terheran kenapa kau bisa tahu,

Hahaha... Ternyata kau tahu dari kawanku.

Apa aku harus marah?

Dengan penolakanmu yang membuatku gelisah.


Hari itu kau lantas menyapaku,

Kau minta aku untuk melupakanmu.

Maaf...

Aku tak bisa.

Dan kata itu membuatku menangis seketika.


Kau tahu dalam diam aku menaruh harapan,

harapan tentang kita membangun masa depan.

Lalu dengan senyummu kau berikan penolakan,

dan dalam tangisku aku menerima kenyataan.


Dengan tangis aku mencoba menahan perih,

dan ucapan maafmu juga terdengar lirih.

Apa aku terlalu menyedihkan?

Untuk kau yang mempunyai kehidupan bak pangeran.


Lalu kita terdiam...

Diam seperti rumput tanpa hembusan.

Aku tahu aku yang berulah,

dan membuatku hatiku resah.


Mata yang sayu,

hati yang tertikam sembilu,

semakin bersatu padu.

Membuat hidupku semakin pilu.


Aku ingin membunuhmu dengan diamku.

Namun, kenapa aku yang terbunuh dengan ucapanmu.

Aku ingin membunuhmu dengan senyumanku.

Namun, yang hadir sebersit senyum indah milikmu.


Aku gila...

Gila dengan perasaan cinta.

Aku kira cinta itu cuma,

Ternyata cinta itu semesta.


Malam ini...

Kopi hitam lagi-lagi menemani.

Namun, untuk kali ini kopi itu kubiarkan,

karena dirimu mencuri semua pikiran.


Aku termenung di pojok rumah.

Memikirkan segala resah,

yang membuat hati gundah dan gelisah.

Bingung, antara sudah atau menyerah.

 

Bagaimana? Rindu ini semakin menusuk kalbu.

Menyayat tajam bagai sembilu.

Kumohon padamu..

aku sungguh tak kuat menahan semua itu.


Kau bilang rindu ini hanya sebentar,

Namun ,kenapa seolah ucapanmu ingin membuatku gentar?

Sungguh aku merindu,

Merindu semua hal tentangmu.


Diamnya rindu seolah menghentikan detak jantungku.

Diamnya rindu seolah menghentikan nadiku.

Kehidupan bagai dimatikan,

Kehilangan sudah mulai ditampakkan.


Kumohon padamu..

Kembalilah padaku,

Kita buat lagi bahtera yang kau tenggelamkan.

Kita arungi lagi lautan api cinta yang kau padamkan.


Aku tutup saja puisi ini.

Merindumu hanya mendatangkan halusinasi,

tanpa ada kepastian lagi,

antara sudah pergi atau kembali.