56757_17680.jpg
Koleksi Pribadi
Puisi · 1 menit baca

Rindu Ayah

Ayah …

Yang paling kuingat tentangmu

adalah caramu mamadamkan amarahku

saat aku tidak mendapatkan apa yang kumau

padahal aku tahu

kau begitu jengkel kepadaku

kau pangku tubuh kotorku

lalu kau elus kepalaku

katamu: Aku anak yang paling pintar

tanganmu hangat menyentuh bahuku

kemudian kau mengangkatku sedikit tinggi

katamu: Banyak bintang yang musti kupetik

Ayah …

Yang aku tahu,

kau laki-laki kurus

seringkali terbatuk-batuk

tapi kau tak pernah peduli

kau tetap berangkat ke tempat yang jauh; belum kukenal

lalu aku merajuk

kau menjawab: Kelak, kau akan tahu bagaimana menjadi manusia

aku hanya menggeleng

bagiku, kalimat Ayah serupa mantra

yang tidak mungkin terbaca

asing, seram

Ayah …

Saat aku sudah tujuh tahun

kau tidak memangkuku lagi

tapi ganti memanggulku

katamu: Agar aku lebih dekat dengan bintang

aku hanya bisa tertawa

dan kukatakan: Kau adalah pendongeng

kau hanya tersenyum

mengusap ujung kepalaku

lalu berkata: Bintang-bintang itu milikmu!

apa maksudmu, Ayah? Tanyaku tidak sabar

kau menjawab: Kelak, Ibumu yang akan memberitahumu

aku sudah letih, katanya

aku sudah jenuh, imbuhnya

kenapa, Ayah?

kau tidak pernah sempat menjawabnya

Ayah …

Waktu berputar layaknya gasing

teramat cepat; tidak punya kontrol

dua puluh tiga tahun sudah kisah itu kau bacakan untukku

dan, aku selalu terlelap

andai kau tahu, Ayah

aku sudah memetik bintang itu

ia menyala, menyinari tiap sudut hidupku

bintang itu melukis wajahmu

membawa sakantung rindu

dan kau tak pernah datang lagi

kau terbang bersama debu, angin, kilatan cahaya

Ayah …

Ibu baik-baik saja,

Kakak baik-baik saja

hanya aku yang tidak baik-baik saja

sebab rindu ini terlalu berat kutanggung

Ayah …

Lihat aku sekarang!

aku sepertimu, pergi ke tempat yang tak pernah kukenal

sepertimu, saat aku memarahimu

kau benar, Ayah!

aku tahu menjadi manusia

Terima kasih, Ayah …

Atas rindu-rindu yang tidak pernah punya ruang

Ayah …

Musim hujan belum sepenuhnya pergi

apakah atap rumahmu baik-baik saja?

apakah Tuhan memberimu selimut?

Kata Ibu: Kau akan pulang

Tapi aku tak pernah melihatmu

Ayah ...

Sungguh, aku sangat rindu

Nganjuk, Selepas Buka Puasa Hari ini.