Tujuan mereka bukan mendapatkan pencerahan, melainkan panggung.

Saya bisa mengatakan bahwa Ridwan Kamil ini terjebak. Orang ini mudah sekali terpancing dan terlalu reaktif dalam merespons banyak hal mengenai nyinyiran netizen yang mayoritas mendukung Prabowo itu. Mengapa?

Karena kalau memang dia tidak merasa membuat masjid ala illuminati, ya anggap saja itu adalah angin sepoi-sepoi. Rasanya dalam hal ini, Ridwan Kamil masih perlu belajar banyak dari Joko Widodo.

Ridwan Kamil seharusnya menjadi orang yang sabar dan tidak terlalu banyak bereaksi keras dan lugas. Meski benar, terkadang diam dan cuek adalah senjata yang paling ampuh untuk membantai habis dan menenggelamkan nyinyiran para kaum nyinyir.

Biarkan saja mereka asyik dengan hal ini. Kalau tidak suka, Ridwan Kamil seharusnya tahu bahwa ia harus mencontoh teladannya, Joko Widodo.

Dalam kasus masjid yang dianggap memiliki simbol segitiga, yakni illuminati, dia bisa dikatakan terpancing.

Padahal, jika dipikir dengan akal sehat, dia tidak perlu meladeni, bahkan sampai mengajak diskusi bersama. Bagi saya, sebagai pemimpin kota, Jawa Barat khususnya, Ridwan Kamil bisa saja berdiam terlebih dahulu.

Argumen Kang Emil sebenarnya sudah sangat tepat dan sangat nyata dalam membalas semua. Tapi saya rasa, argumen dari Kang Emil ini hanya dinikmati oleh orang-orang yang tidak terpapar isu radikalisme, pemimpi kemenangan semu, dan juga kaum pemuja konspirasi.

Apa yang menjadi argumen Kang Emil hanya dinikmati oleh orang-orang yang mengedepankan akal sehat. Mereka menjadi sosok yang paling suka dengan pembahasan rasional. Tapi apakah bantahan Ridwan Kamil ini menghunus ke ulu hati dari para penyerangnya? Rasanya tidak.

Merespons kritikan dan nyinyir para kaum oposisi dan penggila konspirasi adalah sebuah hal yang rasanya tidak perlu dikerjakan oleh seorang pemimpin. Silakan para pembaca tidak suka dengan apa yang saya katakan. Tapi saya memiliki sebuah pendapat dan argumen lain yang rasanya perlu dijelaskan.

Daripada buang-buang waktu, lebih baik Ridwan Kamil membangun Indonesia, secara region Jawa Barat. Seharusnya Ridwan Kamil fokus mengurus provinsi yang besar ini. 

Jawa Barat adalah provinsi yang jumlah penduduknya masuk ke dalam 5 besar provinsi terbanyak penduduknya di Indonesia. Ini adalah sebuah hal yang paling esensial dikerjakan ketimbang melakukan klarifikasi tak efektif, dengan alibi “tabayyun”.

Ini adalah sebuah hal yang rasanya tidak perlu dikerjakan. Lelah mengklarifikasi, ternyata tidak didengarkan dan berujung hanya perkataan.

Sudah ya, jangan diteruskan lagi… 

Memangnya penting membandingkan masjid segitiga karya Ridwan Kamil di Rest Area dengan arsitektur masjid-masjid lainnya yang juga berbentuk segitiga? Rasanya tidak penting dan tidak efektif loh. Kenapa tidak efektif? Karena apa pun yang mereka nyinyirkan, bukan bersumber dari “konspirasi Illuminati” das ding an sich.

Ridwan Kamil seharusnya sadar bahwa mereka nyinyir bukan kepada segitiganya, tapi kepada Ridwan Kamil. Loh? Kok bisa begitu? Kenapa bisa demikian? Karena sederhana alasannya. Sebenarnya, Ridwan Kamil adalah pendukung Jokowi. Nah! Sudah paham kelen?

Apa yang menjadi kerugian Ridwan Kamil dan keuntungan para kaum nyinyir dalam respons sang arsitek masjid itu?

Pertama, Ridwan Kamil secara tidak langsung menurunkan levelnya ke dalam level orang-orang yang tidak akan bisa mengerti apa pun. Mau sebagus apa pun penjelasan, selogis apa pun penjelasan, Ridwan Kamil tetap tidak akan bisa membuat mereka berubah.

Percayalah. Malah, jika hal ini terus dilanjutkan dan sampai dibawa ke dalam diskusi dua arah, Gubernur Jawa Barat ini malah menurunkan levelnya. Menjawab konspirasi bukan dengan melawan konspirasi.

Seharusnya belajar dari Jokowi, yang tidak pernah mau turun ke ranah yang remeh-temeh. Memfitnah Jokowi sebagai PKI, dicueki beberapa tahun, sampai pada akhirnya baru angkat suara. Biarkan isu itu diproses dan dicerna.

Memang banyak kelemahan pada bagian ini. Akan tetapi, terbukti, satu per satu orang yang memfitnah Jokowi, ada yang ditangkap, ada yang sadar, dan banyak yang mulai tidak percaya. Karena apa? Karena Jokowi tidak mau meladeni orang-orang seperti mereka.

Kedua, Ridwan Kamil hanya menghabis-habiskan waktu dan memberikan ruang bagi mereka untuk tetap eksis. Ini adalah kesalahan fatal yang saya lihat terjadi pada Ridwan Kamil yang meladeni orang-orang seperti ini.

Mereka ingin mencari panggung dan mereka mendapatkan panggung itu. Dengan diladeni sedemikian rupa, justru mereka menjadi orang-orang yang mendapatkan perhatian dari Indonesia. Teori konspirasi mereka terjadi.

Pertanyaan saya kepada Ridwan Kamil untuk dijawab adalah begini:

Apakah Anda yakin, sudah berhasil memenangkan logika mereka? Apakah Anda sudah berhasil mengubah pemahaman mereka?

Apakah dengan melakukan diskusi tersebut, teori konspirasi illuminati dajal versi mereka, selesai begitu saja? Apakah hal yang Anda kerjakan, menurut Anda efektif?

Apakah pekerjaan Anda sebagai gubernur seluruh warga Jawa Barat tidak terganggu dengan meladeni mereka?

Apakah Anda tidak merasa bahwa mereka justru sudah mendapatkan panggung? Atau Anda yang justru memberikan panggung kepada mereka untuk eksis?

Semoga pertanyaan-pertanyaan di atas bisa dijelaskan.