Mahasiswa
5 hari lalu · 1399 view · 4 menit baca · Budaya 18857_60003.jpg

Ridwan Kamil & Simbol Kristen di Masjid

Selama beberapa minggu, selepas berakhirnya bulan suci Ramadan, seusai tamatnya serial Game of Thrones, dan pasca ditetapkannya Presiden Joko Widodo sebagai pemenang dalam Kenduri Politik 2019, masyarakat di Tatar Sunda kembali gempar, khususnya mereka yang gemar berkicau di Jagat Mayantara.

Pasalnya, seorang ustaz kondang bernama Rahmat Baequni mengacungkan telunjuk ke arah sebuah masjid sembari menuding-nuding. Masjid berukuran gigantik bernama Al Safar yang berlokasi di rest area Tol Cipularang mendadak menjadi Kambing Hitam.

Mihrab masjid yang dirancang oleh Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ini mendapat stempel dari sang ustaz sebagai 'Kandang Illuminati'. Lebih dari itu, sang ustaz juga memaparkan:

"Ini di dalam Mihrab ada segitiga satu mata, jika kita salat kita menghadap siapa? Antara orang salat dengan Allah ada segitiga mata satu. Jika simbol-simbol tersebut bila digunakan di tempat ibadah khususnya masjid, maka hukumnya haram karena bisa membatalkan salat."

Segera saja, teori-teori Simbologi ala Robert Langdon yang dikemukakan ketua garda Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) ini turut menjadi magnet yang menarik atensi publik. Tak ayal, sang Gubernur yang pernah mengeyam pendidikan di Negeri Paman Sam itu terpaksa angkat bicara mengklarifikasi mengenai tudingan yang dilontarkan kepadanya.

Memang, pada akhirnya, MUI Jawa Barat dapat berfungsi sebagai mediator yang efektif dengan mempertemukan kedua tokoh itu dalam satu panggung diskusi Bale Asri Pusdai Jabar. Sehingga, tensi ketegangan pun dapat diredam dengan cara yang elok dan santun walaupun pada awalnya, pria yang akrab dengan panggilan 'Kang Emil' ini, sempat menuai umpatan 'huuuu' dari khalayak ramai.

Akan tetapi, akar masalah sesungguhnya yang patut kita cermati adalah kenyataan tragis bahwa Ustaz Rahmat Baequni dan orang-orang yang mengamini perkataan beliau telah terjerat dalam fobia akut terhadap Illuminati.

Bahaya Laten Illuminati sejatinya hanyalah rekaan dan demagogi belaka dari para penikmat teori konspirasi. Illuminati yang asli tak lain dan tak bukan hanyalah grup kongkow yang didirikan di Elektorat Bavaria oleh mantan anggota Ordo Jesuit bernama Johann Adam Weishaupt.


Weishaupt yang tergila-gila dengan 'pencerahan' karena terpikat oleh pemikiran bernas dari Christian Wolff, Johann Georg Heinrich Feder, dan Imanuell Kant, lantas, bersama Adolph Franz Friedrich Ludwig Knigge, menginisiasi berdirinya sebuah perkumpulan eksklusif guna mewadahi pemikiran-pemikiran Anti-Mainstream mereka seperti Sekularisme, Penolakan akan Takhayul, dan Sentimen terhadap Kuasa Absolut dari Institusi Monarki.

Pada masa jayanya, Illuminati tak hanya menarik perhatian para intelektual Jerman papan atas seperti Johann Wolfgang von Goethe dan Johann Gottfried Herder, namun juga sejumlah tokoh penting di Kekaisaran Romawi Suci seperti Aryapatih Karl August von Sachsen-Weimar-Eisenach, Adipati Ernst von Sachsen-Gotha-Altenburg, Adipati Ferdinand von Braunschweig-Lüneburg, Pangeran Karl von Hessen-Kassel, dan juga Uskup Agung Regensburg merangkap Kanselir Kekaisaran Romawi Suci, Karl Theodor Anton Maria von Dalberg.

Namun tiada pesta yang tidak berakhir, tiada kesenangan yang kekal selamanya, seperti halnya Susu Bendera Cokelat yang kita minum hingga tetes terakhir. Pasca mangkatnya Elektor Bavaria, Maximilian Joseph von Wittlesbach tanpa meninggalkan keturunan, pecahlah perang Suksesi Bavaria. 

Perang tersebut menghasilkan seorang Elektor Baru bagi Bavaria, yaitu Karl Theodor von Pfalz-Sulzbach. Beliau tidak menyenangi pemikiran-pemikiran radikal dari Illuminatti karena dikhawatirkan dapat merongrong kekuasaan yang baru ia dapat lewat konflik berdarah. Alhasil, ia pun menggrebek markas Illuminati dan membubarkan perkumpulan itu, para anggotanya banyak yang dikenai hukuman berat.

Oleh karenanya, mengkhawatirkan bahaya laten Illuminati jelas lebih konyol dan menggelikan ketimbang bahaya laten PKI atau Jebakan Utang yang disiapkan oleh Republik Rakyat Cina. Karena jelas, Illuminatti sudah hancur dan punah berabad-abad silam.

Poin lainnya yang lebih penting, berkenaan dengan simbol segitiga mata satu yang disinggung-singgung oleh Ustaz Ahmad Baequni. Sesungguhnya, simbol tersebut bukanlah simbol Illuminati, karena perkumpulan ini tidak memiliki logo khusus sebagaimana Siswa SMP-SMA dengan logo OSIS di saku kiri baju mereka.

Publik mungkin lebih mengenal simbol segitiga dengan mata satu karena kemunculannya dalam lembaran uang Dolar Amerika berwarna hijau pucat. Namun, simbol itu justru bukanlah simbol Illuminati melainkan simbol Ikonografi Kekristenan.

Segitiga dengan mata satu lebih dikenal dengan sebutan Mata Illahi (Eye of Providence), melambangkan Trinitas dan mata dari Tuhan Bapa, yang dengan kuasaNYA, memantau setiap laku umat manusia.

Tidak hanya dalam lembaran tipis uang dolar, Mata Illahi juga hadir dalam arsitektur Gereja-gereja tua seperti Katedral Aachen di Jerman, Katedral Santo Vitus-Vaclav-Vojtech di Republik Ceko, dan Katedral Kazan di Saint Petersburg, Rusia.

Beberapa negara yang penduduknya beriman kepada Tuhan Jesus pun juga memakainya sebagai lambang kota. Sebut saja, lambang kota Braslau di Belarusia, lambang kota Willamowice di Polandia, dan juga lambang keluarga Siauliai di Lithuania.

Karenanya, justru aneh jika lambang Mata Illahi disangkutpautkan dengan Illuminati. Karena Illuminati yang merasa berbangga dengan penolakannya akan over-religiusitas dan mempromosikan sekularisme tak mungkin mengusung lambang yang justru bertautan erat dengan Transendentalisme dan Institusi Gereja.


Jadi, sungguh hiperbolik dan tidak tepat jika Ustaz Rahmat Baequni menuding Gubernur Ridwan Kamil mempromosikan logo Illuminati dalam masjid yang ia rancang dengan keringat dan air mata. Mungkin akan lebih tepat, sedikit masuk akal, dan cukup mengena jika beliau menuding Ridwan Kamil melakukan Kristenisasi Terselubung.

Misal saja, kaitkan dengan hoaks-hoaks lawas bahwa Presiden Jokowi itu Kristen karena secara tak sengaja mewariskan jabatannya di Solo dan Jakarta kepada penganut Katolik Roma dan Protestan. 

Jika nafsu menuding belum surut, buat pula cucoklogi bahwa Ahok didukung oleh Partai Penista Agama dan karena Kang Emil didukung pula oleh partai yang sama dalam Pilkada Jabar, maka Kang Emil bermetamorfosa menjadi Agen Penghancur Islam lewat masjid yang ia bangun.

Namun sayang, Ustaz Rahmat Baequni alih-alih menelaah sebelum berhujjah, malah terjerat teori konspirasi yang tiang pancang argumennya kurang kokoh. Ibarat ingin melubangi sebuah panser, namun memakai peluru biji timah.

Tapi nasi sudah terlanjur menjadi nasi goreng, tinggal kita santap saja nasi goreng itu, tambahkan kerupuk bila perlu. Kang Emil telah mementalkan tudingan dengan berkilah bahwa pihak Jasa Marga yang memasang ornamen berbentuk bulat mirip mata illahi di atas mihrab tersebut, dan bukan dirinya.

Penulis rasa sepenggal kalimat tersebut sudah cukup membuktikan bahwa Kang Emil bukan antek Illuminati dan sedang tidak melakukan Kristenisasi Terselubung. Jikalau tuding-menuding ini mau dilanjutkan hingga ke pihak Jasa Marga, tentu akan kontraproduktif dan membuang-buang energi saja.

Artikel Terkait