Sudah sering ya kita dengar celetukan tentang idealis dan perfeksionis ini? Seperti ‘Ah, dia kan emang perfeksionis, makanya ribet!’ atau ‘Makanya jangan ngobrol sama yang idealis gitu, repot sendiri ntar!’ dan masih banyak lagi. 

Nah, sebelum kita mulai ngobrol santai, sebaiknya kita pahami dulu ya makna sebenarnya dari kata ‘Idealis’ dan ‘Perfeksionis’ itu.

Idealis adalah orang yang bertindak berdasarkan pengalaman empiris yang unik, pikiran, dan cita-cita tinggi untuk mencapai hasil maksimal. Ia juga bersikap seperti itu, karena memiliki keyakinan yang kokoh atas persoalan yang sedang ditangani. 

Seorang idealis juga memiliki suatu pengaruh positif, karena ia dapat memperlihatkan antusiasme dan keyakinan penuh melalui keterlibatan secara emosional atas visi yang sedang dituju dan seringkali mendorong orang lain untuk mencapai visi itu bersama. Menurut Henry Ford, pengaruh positif lain dari seorang idealis adalah orang yang membantu orang lain untuk menjadi makmur.

Perfeksionisme adalah watak atau sifat seseorang yang menganggap sesuatu yang tidak sempurna sebagai hal yang tidak dapat diterima. Perfeksionis juga berarti doktrin yang menyatakan bahwa kesempurnaan sifat moral seseorang menunjukkan ketinggian derajatnya. 

Dalam artian lain, perfeksionis bisa juga disebut sebagai doktrin mengenai ketuhanan yang menyatakan bahwa bebas dari perbuatan dosa adalah tujuan yang akan dicapai di dunia.

Dua definisi yang hampir sama, serupa.

Nah, bagaimana bila kita terlahir dengan karakter seperti itu? Sudah idealis, perfeksionis pula. Ada plus dan minusnya juga.

Umumnya seseorang bahkan tidak menyadari bahwa dirinya adalah seorang yang idealis perfeksionis sebelum ada orang yang mengingatkan atau memberi tahu. Dan seringnya pula orang-orang sudah merasa cukup terganggu dengan sikap ini.

Jangan dikira menjadi seorang idealis perfeksionis itu enak. Saya sendiri terlahir sebagai orang memiliki dua sifat itu. Saya tidak suka melihat hanger baju yang digantung tidak searah, saya tidak suka melihat orang melipat sesuatu tapi tidak simetris. 

Bukan, ini bukan OCD (Obsessive Compulsive Disorder). Saya yakin tidak separah itu juga kok, saya hanya idealis perfeksionis saja. Dan hidup dengan dua sifat ini ternyata tidak selamanya bakalan baik-baik saja, gengs!

Satu, jadi sering spanneng sendiri. Karena selalu menginginkan segala sesuatu teratur dengan rapi maka otomatis saya akan mengharapkan itu terlihat juga di lingkungan sekitar saya. Semuanya harus benar, harus ideal. Faktanya, tidak semua orang berpikiran seperti itu. 

Contohnya bila meja kerja saya di kantor harus rapi jali dan tertata dengan baik maka secara tidak sadar saya ingin melihat meja kerja di sebelah-sebelah saya pun demikian. Padahal ada saja orang-orang yang membiarkan mejanya berantakan, bahkan untuk menemukan sebuah bolpen pun susah. 

Belum lagi bila tercampur dengan sampah dan tumpukan berkas. Dan mereka bisa santai saja sedangkan saya gemas luar biasa. Huft.

Dua, selalu dianggap berbeda. Dianggap beda di sini belum tentu dalam artian yang baik, ya. Seringnya malah dalam konotasi yang sedikit buruk. 

Orang-orang idealis umumnya sering tidak suka atau tidak mau menerima begitu saja pendapat orang lain. Mereka lebih suka menentang karena merasa pendapat orang itu berbeda prinsip. Hal ini yang lalu menyebabkan saya juga sering dimusuhi oleh beberapa teman saya. 

‘Udah deh, Din. Ga usah sok idealis!’ adalah kalimat yang paling sering saya dengar dari mereka bila kami sudah berbeda pendapat. Dan parahnya sebagai sosok yang perfeksionis tentu saja saya maunya semua serba sempurna, nggak ada cela. Dobellah potek pada hati saya.

Tiga, selalu dianggap resek dan bikin ribet. Awalnya ya karena beda prioritas. Apa yang bagi saya penting, bagi mereka tidak. 

Contohnya bila mengatur sebuah acara, tentu saja saya maunya meja dan kursi untuk tamu berada dalam satu garis yang lurus dan rapi. Ini hal penting bagi saya, tapi belum tentu bagi mereka. Selama tidak ditata dengan sembarangan, bagi orang lain masih oke sajalah ya. 

Padahal ini bisa bikin stress kalau seorang yang perfeksionis melihatnya. Walau hal kecil, akhirnya jadi pemicu keributan juga.

Karena sudah sejak kecil terbiasa seperti itu, tentu saja saya sudah mahfum. Sudah biasa banget malah. Dalam sebuah artikel saya pernah membaca bahwa seorang yang memiliki sifat seperti ini harusnya bangga karena bisa jadi tipe pemimpin yang baik. 

Saya belum bisa menemukan apa yang membuat bangga sih, tapi ya sebagai anak yang gampang sombong mari saya akui saja kalau saya sedikit pongah dengan dua sifat yang miliki ini.