“Kamu cantik”.

Apa yang terpikirkan saat penampilan kita dipuji cantik oleh orang lain? Apakah rambut lurus yang tebal? Atau kulit putih dengan pipi merona?

Saya sendiri telah banyak mendengar kebanyakan orang berkata kalau cantik itu relatif.

Tapi, kalau cantik itu relatif, berarti seharusnya di dalam benak kita sendiri kita telah mempunyai representatif dari kata ‘cantik’ tersebut, bukankah begitu? Karena tidak akan mungkin kata itu keluar tanpa ada hal yang memicunya untuk keluar.

Dari beberapa penelitian, banyak perempuan yang merasa kalau dirinya lebih cantik saat mengenakan make up untuk memperbaiki wajahnya yang masih dirasa ada yang kurang. Saya juga perempuan dan ya, saya merasa cantik jika saya mengenakan make up, tapi itu tidak mengartikan jika saya merasa kurang dari apa yang telah diberikan.

Pernah tidak, ketika kita menghapus make up dengan make up remover, di situlah kita merasakan lebih bangga dengan diri kita. Dengan adanya kekurangan di diri kita, itu tidak menutupi kemungkinan bahwa kita tidak bisa percaya diri dengan apa yang ada.

Bukan, bukan berarti memakai make up itu sesuatu yang tidak bagus. Bukan berarti juga dengan tidak memakai make up, bisa membanggakan diri dan merasa lebih superior di depan orang yang memakai make up. Pun semua memiliki kelebihan maupun kekurangan masing-masing.

Untuk saya sendiri, make up itu sebuah kelebihan.

Karena banyak orang yang menjadikan make up sebagai sumber penghasilan utama mereka, misalkan make up artist, beauty influencer, dan lain sebagainya. Bahkan ada beberapa perusahaan di berbagai bidang yang menilai pekerjanya dari segi make up. Tidak semua orang juga bisa terampil dalam make up. Hal tersebut jika kita lihat make up sebagai pekerjaan.

Tapi bagaimana jika kita lihat dari kehidupan sehari-hari? Apakah make up itu diperlukan?

Jawabannya tentu saja kembali ke diri masing-masing. Ada beberapa momen tertentu yang memang sebenarnya kita perlu untuk memakai make up, tapi untuk siapa?

Untuk terlihat rapi di depan keluarga?

Untuk terlihat manis di depan calon pasangan atau mungkin pasangan?

Untuk membalas perkataan orang yang menghina kita padahal itu tidak akan ada habisnya?

Atau sebenarnya kita hanya suka memakainya karena memang kita merasa diri kita bagus saat memakainya yang mana untuk diri sendiri?

Mungkin untuk beberapa orang akan terdengar aneh, tetapi untuk ada beberapa orang termasuk saya sendiri, meskipun memakai masker sekali pun, tetap memakai make up untuk bibir yang mana sebenarnya tidak terlihat.

Selain itu, ketika sedang diadakan virtual meet meskipun tidak terlalu terlihat dikarenakan kameranya bukan kualitas yang terbaik, tetap memakai make up. Padahal jelas-jelas tidak terlihat di kamera.

Entah mengapa untuk saya sendiri jika saya melihat diri sendiri dengan make up ada suatu kepuasan sendiri. Pun kalau saya hapus make up-nya, saya tetap merasa bersyukur.

Namun ada kalanya kita terlalu mendengar banyak cibiran dari orang lain tentang penampilan fisik kita, terutama di bagian wajah. Betul, hal tersebut sangalah menyakitkan, tetapi bukankah mereka hanya menyibir di kala itu saja? Mereka tidak akan memuji kita bahkan ketika kita terlihat cantik di mata mereka.

Terlebih jika kita hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang lain, apakah kita akan merasakan puas dengan diri kita?

Jika hal tersebut memberikan dampak yang negatif untuk kita, bisa-bisa kita hanya menghabiskan segunung uang untuk kosmetik agar kita bisa lebih dari apa yang mereka katakan. Apakah itu worth it?

Meskipun tidak selamanya cibiran mereka salah, tapi kenapa tidak kita mendengarkan sedikit dari hal tersebut dan mencoba memperbaikinya sesuai dengan apa yang kita rasa ‘cukup’. Untuk kata cukup di sini, cobalah lihat dari berbagai sudut pandang, jangan hanya perasaan diri saja. Apa pun yang berlebihan tidak akan memberikan buah yang baik, terutama untuk diri sendiri.

Pada akhirnya semua hal yang ada di diri masing-masing akan kembali ke tempatnya semula, yaitu diri sendiri.

Entah untuk apa, untuk siapa, bagaimana caranya, semua hal itu akan berdampak lebih baik jika kita yang menentukan agar kebahagiaan dan dampak positif sekaligus negatifnya bisa kembali ke diri kita sendiri tanpa kurang.

Jika memang iya dampak positif, itu akan memberikan kebahagiaan dan menambah tingkat kepercayaan diri kepada diri kita sendiri yang akhirnya akan mempengaruhi ke sekitar. Kalau itu dampak negatif, telaah dan improve untuk memberikan hasil yang lebih baik lagi.

Tidak apa jika ada kesalahan toh pada akhirnya hidup akan lebih baik jika balance dan kita bisa meng-handle itu semua. Tapi tidak akan lebih baik jika kita tahu ada kesalahan, tetapi tidak diperbaiki.

Meskipun cantik tidak hanya dilihat dari satu sisi yang notabene fisik maupun psikis saja, jika kita memang bisa memperbaiki keduanya agar terlihat balance, kenapa tidak?