Pernahkah kalian mendengar lagu Rewrite the Stars yang dinyanyikan aktris cantik multitalenta, Zendaya? Zendaya yang berperan sebagai  Michelle Jones atau MJ yang smart di film Spiderman; Home Coming dan Far from Home. 

Ih, pokoknya, Zendaya itu keren Bgt deh. Ternyata, lagu Rewrite the Stars juga dinyanyikan duet bersama Zac Efron, sekaligus mereka berdua menjadi pemeran utama film The Greatest Showman ini (sayang, aku belum menontonnya). 

Lagu yang ditulis oleh Benj Pasek dan Justin Paul ini sebenarnya lagu sedih. Namun, musiknya terdengar riang, ngebeat, dan ada kalimat yang menyemangatiku. Lagunya seperti ini;

You know I Want you,
It's not a secret I try to hide,
I know you want me,
So do'nt keep saying our hands are tied
You claims it's not in the cards
Fate is pulling you miles away
And out of reach from me
But you're here in my heart
So' who can stop me 
If I decided that you're my destiny?
What if we rewrite the stars?
Say you were made to be mine
Nothing could keep us apart
You'd be the one I was meant to find
It's up to you and it's up to me 
No one can say what we get to be
So' why don't we rewrite the stars?
Maybe the world could be ours
tonight...

(Dan seterusnya).

Aku suka sekali dengan kalimat, So' why don't we rewrite the stars? yang kuartikan: jadi, mengapa kita tidak menulis ulang takdir kita?

Why Don't  We Rewrite The Stars?

Apakah takdir sudah paten?

Pernah, ada seseorang, sebut saja si R, bertanya pada seseorang yang kita sebut saja H. Si bertanya pada H, mengapa takdir bisa diubah? Bukankah itu sudah paten dari Tuhan?

Sebelumnya, si H memang mengatakan, bahwa takdir bisa diubah. Si H menjawab, tidak, itu bukan sesuatu yang paten; jika itu paten, berarti Tuhan tidak adil, telah menuliskan takdir seseorang, tanpa melihat perjuangan seseorang itu pada kehidupannya.

Si R tidak bisa menerima. Dia bertanya lagi, lalu, bagaimana dengan "tulisan" yang mengatakan jodoh, ajal, dan rezeki sudah ditentukan-Nya?

Si H menjawab, bagaimana usahamu dalam hidup dan pendekatanmu pada Tuhan, itulah yang akan menjadi takdirmu.

Namun, si R masih tidak menerima. Si H kemudian melanjutkan, bahwa Tuhan sendiri mengatakan, Dia tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri tidak mengubahnya. Dan kata Tuhan lagi, Aku sesuai prasangka hamba-Ku.

Dari "Kata Tuhan" diatas, aku jadi yakin, bahwa, kita memang bisa mengubah takdir, bahkan menulis ulang takdir, asal kita mau (sendiri) mengubahnya dan ketika kita berprasangka "baik" ke Tuhan.

Dan, aku percaya pada video The Secret Law of Attraction, yang pernah viral dan sekarang masih banyak yang mempercayai kekuatan "tarik-menarik" antara impian kita dan semesta.

Kejadian...

Sewaktu masih bersekolah pada tingkat SMU di Maros, Sulawesi Selatan, aku pernah membaca tulisan tentang kampus Gadjah Mada (UGM) yang dalam tulisan itu digambarkan sangat keren. Aku pun ingin sekali berkuliah di sana.

Aku pun bercita-cita kuliah di sana, aku menuliskannya di dinding kamar, aku ingin kuliah di UGM, di pulau Jawa. Ketika tamat SMU, aku ikut tes masuk perguruan tinggi dan "menembak" UGM. Namun, tidak kena. 

Aku pun terdampar di kampus D2 selama dua tahun, di Jogja. Tamat dari kampus D2, aku masuk  lagi di kampus S1, selama empat tahun, namun, bukan di UGM.

Dilalah, tamat S1, seorang teman menawarkan beasiswa dari kampus UGM. Aku mendaftar dan gol. Aku akhirnya, bisa kuliah di UGM setelah menuliskan dan mengimpikannya sejak lama.

Menulislah!

Semalam, Dear Girls, kelompok lingkar kami, kelompok perempuan-perempuan pemerhati agama, dan budaya yang sering sharing, berbagi ilmu melalui diskusi. 

Kembali kami mendiskusikan film dokumenter, The Secret, Law of Attraction. 

Film yang menceritakan tentang seorang perempuan yang mengalami titik terendah dalam hidupnya; ditinggalkan ayahnya, beban kerja yang berat, dan hubungan percintaannya yang suram. 

Anaknya kemudian memberikan hadiah padanya, buku terhebat, rahasia orang-orang sukses. Yang intinya, buku itu mengubah pandangan seseorang tentang semangat menjalani hidup dengan jalan memintanya pada semesta. 

Ketika semesta menerima permintaan kita, "semesta akan menjawab permintaan kita." Kita tinggal menerima, kapan akan di-follow-up atau ditindak lanjuti oleh semesta.

Kita akan menerima semua pemberian semesta. Cepat atau lambat. Namun, kita harus tetap menggunakan kekuatan pikiran dengan berpikiran positif sesuatu akan terjadi sesuai dengan fokus pikiran kita. 

Caranya "sederhana", dengan memvisualisasikan melalui gambar atau dan menuliskan impian kita agar itu terwujud.

Nah, teman-teman, Dear Girls, kemudian berbagi pengalaman tentang kekuatan pikiran tadi. Ada yang pernah mau kuliah di Malang dan menuliskan nama kampus itu yang menjadi tujuan tempat kuliahnya. Namun, tidak diizinkan oleh orang tuanya. 

Ketika dia berkuliah di Majene, Sulawesi Barat, dia terpilih oleh kampusnya, untuk dikirim ke Malang mengikuti lomba. Wow! Suprice, Tuhan tahu tapi menunggu. 

Ada juga Mila dan teman-temannya (dkk) yang menjadi pegiat literasi dimulai dari keprihatinannya pada suatu daerah di Mandar yang kegiatan mahasiswa hanya pulang kuliah dan ngekost minim dari suasana akademik.

Dengan semangat 45, Mila dkk membuat gebrakan membuat kelas literasi. Akhirnya, dari sini, keluarga mereka mendukung dan memberikan support modal melegitimasi kegiatannya.

Akhirnya, setelah menjadi suatu komunitas, Mila dkk mempunyai banyak jaringan literasi dan "berpetualangan" sampai ke pelosok-pelosok desa.

Nah, ketika di pelosok-pelosok tadi, ketika mendapat masalah, misalnya bensin habis di tengah jalan, "tangan-tangan Tuhan" bergerak. Semua orang datang dari berbagai penjuru menolongnya.

Mila dkk selalu optimis, ketika kita melakukan sesuatu yang baik, pasti selalu ada (diberikan) jalan terbaik. Sehingga, sesuatu itu akan berjalan.

Nah, di akhir pertemuan kami, Dear Girls menuliskan impian dan harapan untuk Dear Girls. Misalnya; semoga kegiatan ini bisa mengumpulkan dana untuk kegiatan kemanusiaan, kajian selanjutnya, dilaksanakan di Singapura, India, Makkah, dan Korea.

Sedang, aku menulis, semoga besok Dear Girls bisa kumpul di Jogja. Mila juga menginyakan, semoga bisa ngopi-ngopi di kafe. Ya, mungkin di Libertaria, ruang nongkrong baru di Jogja yang juga menyajikan bau peapi, ikan masak khas Mandar, milik suku kami.

Terakhir, rewrite ur star, rewrite ur fate. Tulis ulang takdirmu, tuliskan sekarang, sehingga alam merestui impianmu dan mewujudkannya. Amin