Siswa SMA Tunas Daud
6 bulan lalu · 21 view · 3 menit baca · Budaya 43999_95993.jpg
Serikatnews.com

Revolusi Mental

Di usia yang ke delapan belas untuk tahun 2000, tak lama lagi generasi yang kita sebut generasi milenial akan memasuki usia perkuliahan. Sedangkan anak-anak di atas generasi tersebut sebagian sudah memasuki dunia pekerjaan dan sebagian lagi masih sibuk bersenang-senang.

Masa depan bangsa Indonesia ditentukan oleh bangsa Indonesia itu sendiri. Walaupun ikut tergabung dalam organisasi dunia dan melakukan simbiosis mutualisme, tentu sepenuhnya masa depan bangsa kita tetap di tanggung oleh bangsa Indonesia sendiri.

Jika Indonesia tidak peduli dengan masa depannya, maka sudah pasti bangsa Indonesia tidak akan mencapai masa depan yang didamba-dambakan oleh para founding fathers bangsa ini. Oleh karena itu, bangsa Indonesia membutuhkan tokoh-tokoh yang patut dijadikan panutan untuk terus menjadikan bangsa ini maju.

Bukan malah mendukung dan mendidik untuk terus maju, banyak orang yang men-judge bahwa masa depan bangsa Indonesia akan hancur jika dipimpin oleh anak-anak generasi milenial karena tak mampu berkarya. Padahal pada faktanya, banyak anak-anak muda yang disebut sebagai generasi milenial menghasilkan prestasi di festival olahraga yang sangat ditunggu-tunggu oleh banyak negara, Asian Games.

Bukankah karena dukungan dan bimbingan yang baik mereka mampu seperti itu? Juga dengan kerja keras dari latihan yang terus menerus sehingga melahirkan seorang atlet yang mampu mengharumkan nama bangsa Indonesia?

Jika masalahnya adalah kehilangan contoh yang baik, maka benar sudah yang suka instan itu bukanlah generasi milenial. Melainkan para pribadi yang seharusnya menjadi panutan untuk generasi di bawahnya karena tidak mau mengajarkan apa yang mereka ketahui dengan mengalami proses yang banyak orang anggap itu susah.

Dengan bersama-sama membangun Indonesia ini, dengan melibatkan banyak pihak, banyak kalangan, juga banyak elemen masyarakat, bukankah akan menciptakan Indonesia sebagai negara yang harmoni? Negara yang menghargai multikultural karena memberikan setiap masyarakatnya kesempatan untuk ikut mengambil bagian dalam pembangunan negerinya.

Apa pepatah yang mengatakan, “Di negara lain sudah sering membuat roket, di negara kita masih membuat silet.” Mungkin ada benar maknanya. Di saat negara lain sudah fokus untuk membangun negaranya melalui politik dan ekonomi, di Indonesia masih sibuk untuk membangun rumah tangga yang baik dan harmonis lantaran rusaknya pribadi dan karakter.

Pribadi dan karakter buruk ini yang dirasalan oleh ibu-ibu yang telah menjadi janda di usia yang masih muda lantaran nikah muda lalu ditinggal pergi oleh sosok ayah yang tak baik untuk dicontohi. Ayah pergi pun mungkin karena berbagai hal, pengangguran salah satunya.

Jika Indonesia diisi oleh para pengangguran seperti ini, bagaimana Indonesia ke depannya? Bukankah malah akan menurunkan ekonomi Indonesia? Itu bukan sepenuhnya salah pemerintah. Itu juga bukan sepenuhnya salah pendidik. Juga bukan sepenuhnya pihak sebagai peniru pendidik. Namun adalah salah ketika sudah tidak adanya kesadaran akan pentingnya untuk mencapai cita-cita bangsa.

Sekarang bukan zamannya lagi menjadikan konflik sebagai komoditas. Karena konflik antar golongan sering bersifat buatan yang diciptakan untuk politis dan ekonomis yang pada akhirnya dianggap serius. Karena kebohongan yang diteruskan bisa menjadi sebuah kebenaran lantaran sering di bahas. Hoax bisa kita selesaikan jika kita mau mencari kebenaran dan membagikan kebenaran tersebut.

Kita sebagai masyarakat Indonesia seharusnya jangan hanya menjadi penduduk, melainkan menjadi warga yang memiliki dan mengerti apa hak dan kewajiban kita. Tentu saja negara harus hadir dalam pelaksanaannya. Karena masyarakat Indonesia dapat bersatu dalam gerakan sosial.

Oleh karena itu, dibutuhkan panutan yang dapat menembus persaingan dunia. Panutan yang merevolusikan mental yang memiliki integritas yang tinggi karena nilai kejujuran sudah sangat jarang dimiliki oleh para tokoh panutan. Dengan ditambah dengan kualitas atau etos kerja yang baik karena pada faktanya jujur saja tidak cukup. Dan dilengkapi dengan memilikinya sikap gotong royong yang mengakar dalam pribadi tersebut.

Maka tentu saja tidak saja masyarakat yang sejahtera karena dapat merasakan hasil dari kerja yang nyata. Melainkan para pelaku perubahan juga dapat merasa tentram karena telah melaksanakan dan menuntaskan tugas dan kewajibannya. Jika sudah begitu, maka tidak akan sia-sia kita mengheningkan cipta setiap upacara untuk mengenang jasa para pahlawan karena tujuannya telah tercapai.

Jika menghina Pancasila saja dapat menjadi duta Pancasila, tentu saja anak muda yang sedang jatuh cinta pun dapat penemu yang berpengaruh di masa depan kelak. Menemukan mesin yang dapat menembus ruang dan waktu misalnya. Karena jarak antara Wakatobi dan Raja Ampat tidaklah dekat, maka penemuan itu tentu akan sangat berguna, kelak.

Masa depan Indonesia sekarang ini belum sepenuhnya dipegang oleh generasi milenial. Namun sebelum saat itu terjadi, diharapkan agar para generasi milenial telah siap untuk memegang tanggung jawab yang besar tersebut. Bukan saatnya lagi untuk men-judge generasi milenial lantaran apa yang sering menimpa kepada generasi milenial. Untuk menciptakan Indonesia yang maju!