Zaman telah berubah, peradaban pun demikian. Manusia telah banyak diubah dengan canggihnya sistem digital zaman sekarang. Kegiatan dan pekerjaan manusia serbacepat membuat yang lambat akan ketinggalan cepat jika tak bisa mengikuti zaman. Kehidupan manusia dipaksa oleh distorsi zaman yang mengakibatkan perubahan perilaku dan karakter.

Tentu perubahan ini diharapkan untuk membantu manusia dalam melakukan kegiatannya. Era digital yang serbacepat ini diharapkan mengurangi pemakaian kertas. 

Di zaman digital ini, isu degradasi lingkungan telah banyak dikumandangkan, mulai dari go green, peduli lingkungan, jaga lingkungan, dan selamatkan generasi bangsa.

Namun, pertanyaan mendasar adalah benarkah bahwa era digital ini telah mengurangi pemakaian kertas? 

Perubahan perilaku manusia dalam pemakaian kertas memang telah berubah, dari buku cetak menjadi buku digital. Namun, pertanyannya adalah apakah pemakian kertas hanya untuk buku? Tentu tidak!

Data dari Kementerian Perindustrian menyebutkan bahwa saat ini konsumsi kertas di dunia sebanyak 394 juta ton dan diperkirakan akan meningkat menjadi 490 juta ton pada 2020. Sementara di dalam negeri, konsumsi kertas per kapita masih sangat jauh dari rata-rata konsumsi negara lainnya sehingga masih sangat potensial untuk berkembang.

"Walaupun ada peningkatan penggunaan media online, pada kenyataannya tidak akan menghambat perkembangan industri pulp dan kertas karena penduduk dunia diproyeksikan menjadi 9 miliar orang pada tahun 2050 dan hampir 60 - 70 persen berada di Asia yang diprediksi masih menggunakan kertas untuk berbagai keperluan." (kemenperin.go.id)

Zaman modern membuat perubahan drastis bagi pemakaian kertas. Pemikiran kita selama ini bahwa kertas itu digunakan hanya untuk buku, surat kabar, dan majalah. Padahal, era digital membuat pemakaian kertas menjadi banyak; kertas menjadi benda multifungsi dan multibisnis.

Perkembangan teknologi digital dengan segala kreativitas dan inovasi menjadikan kertas menjadi barang yang sangat berharga. Ini disebabkan oleh alih fungsi kertas menjadi sarana packaging bisnis startup dan unicorn. Dengan demikian kertas menjadi sangat berguna.

Berbicara mengenai kertas sama dengan membicarakan kehidupan. Di mana ada kehidupan, di situ ada kertas. 

Di zaman digital saat ini, kehidupan dan perilaku manusia terhadap kertas telah berubah. Namun, perubahan itu tidak mengurangi akan pemakaian kertas. Teknologi digital membawa kita kepada kehidupan digital yang hanya memanfaatkan internet dan komputer, di mana semua pesan dan tulisan bisa tersampaikan.

Kertas, bagi banyak perusahaan atau instansi pemerintahan, merupakan kebutuhan pokok. Sama halnya dengan beras, kertas dan plastik dikonsumsi sehari-hari untuk berbagai keperluan perkantoran. Semua lini organisasi atau divisi tidak bisa lepas dengan pemakaian kertas yang digunakan, misalnya, untuk surat-menyurat. Semua administrasi, pelaporan, pembuatan proposal, fotokopi pun menggunakan kertas.

Gedung perkantoran, sekolah, dan juga universitas menghasilkan banyak sampah kertas setiap sehari. Sampah-sampah tersebut tidak lain berupa kertas, kertas tisu, kertas karton, atau kertas karbon yang umumnya digunakan untuk membuat makalah, proposal, nota, revisi tugas, atau hanya untuk mengusap keringat dan kotoran.

Upaya untuk mengurangi konsumsi kertas sebenarnya telah dilakukan oleh banyak perusahaan. Kemajuan teknologi dan internet pun mendukung terciptanya paperless. Proposal dan laporan sekarang tidak perlu dicetak. Tinggal kirim e-mail, klien langsung mendapatkan berkasnya.

Kertas telah membawa kita kepada peradaban yang modern, mengerti arti sebuah tulisan dan makna kehidupan. Kertas menjadi alat untuk mengarsip dan menuangkan ide dalam jangka panjang, sehingga kertas tidak terlepas dari kehidupan manusia. Kertas juga digunakan untuk membungkus arsipan  dokumen-dokumen supaya tahan lama.

Ketergantungan manusia akan kertas membuktikan bahwa kertas tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan manusia. Manusia hanya bisa untuk mengurangi pemakaiannya dan menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dengan kertas.

Berbicara kertas adalah berbicara kehidupan. Kenapa demikian? Karena bahan utama dalam pembuatan kertas adalah pohon. Pohon adalah sumber oksigen yang dihirup oleh manusia. Maka menjaga keseimbangan pemakaian kertas sama dengan menjaga keseimbangan kehidupan manusia.

Satu batang pohon kayu keras dengan diameter 30 - 32 cm dan tinggi 20 meter dapat menghasilkan 2,1 kilogram gas oksigen per hari. Jika satu orang membutuhkan 0,5 kilogram gas oksigen per hari, berarti menebang satu pohon akan menghilangkan sumber gas oksigen untuk empat orang. (qureta.com)

Pernah menonton film Gravity dan merasakan ketegangan ketika tabung gas oksigen milik Dr. Ryan Stone (Sandra Bullock) segera menipis sedangkan ia berada sendirian di luar angkasa? Mungkin manusia akan merasakan hal tersebut ketika ribuan hektare hutan di dunia terus ditebang, untuk keperluan bahan baku produksi kertas, alih fungsi lahan, dan lain-lain.

Kita telah melihat bahwa pembuatan kertas masih kebanyakan memakai pohon. Walaupun ada bahan lain dalam pembuatan kertas, tetapi bahan utama untuk pembuatan kertas masih didominasi oleh bahan dasar kayu. 

Masyarakat Indonesia adalah pemakai kertas terbanyak. Kita harus menyadari bahwa kertas masih merupakan bisnis empuk dalam masyarakat Indonesia. Kertas juga dekat dengan kehidupan manusia. Jangan sampai bisnis kertas membuat kita tidak peduli lingkungan.

Para pebisnis kertas juga harus bisa memikirkan kertas yang nyaman dan aman bagi lingkungan, agar lingkungan bersahabat dengan kita. Dan yang terpenting, mari bersama-sama menjaga kelestarian lingkungan dan menjaga keseimbangan romantika kertas dengan kehidupan manusia.

Tidak ada seorang pun yang bisa mencegah pemakaian kertas karena ketergantungan manusia dengan kertas sangat tinggi dan nilai bisnisnya menjanjikan. Hanya kesadaran kita sebagai umat manusia yang punya akal budi yang bisa untuk menjaganya. Berhemat dan memakai sesuai dengan kebutuhan menjadi inti dari permasalahan pemakaian kertas.