Pernahkah anda berpikir bagaimana dunia ini tanpa adanya roket, drone, ataupun smartphone di dunia ini? Manakah yang lebih menjadi masalah daripada tidak adanya kertas? Mungkin, akan lebih banyak yang memilih yang pertama. 

Namun, menurut saya pilihan kedua jauh lebih riskan. Mengapa?  Karena tanpa adanya kertas, tidak mungkin akan kita membicarakan pilihan pertama tersebut dan banyak lagi dampak lainnya. Sehingga pada saat ini saya akan mengajak kita semua untuk melilhat betapa penting dan betapa bahayanya  dampak dari kertas tersebut. 

Kertas merupakan penemuan yang dapat kita ibaratkan sebagai pedang bermata dua. Bagaimana tidak ? Sesuai dengan sejarahnya, kertas ditemukan pertama kali oleh Tsai Lun pada tahun 1600 SM. 

Sebelumnya, nenek moyang kita menggunakan batu yang begitu berat, papirus yang begitu mahal ataupun harus membunuh hewan, mengambil kulitnya lalu menuliskan isi pikirannya pada masa itu. Keberadaan benda ini pastilah sangat revolusioner dan tidak perlu ditanyakan manfaatnya. 

Dan tanpa kertas, pastilah penyebaran ilmu pengetahuan akan terhambat lajunya sehingga mungkin insan pada masa ini tidak akan mencapai kepuasan akan teknologi seperti saat ini,  karena iptek pasti mengalami stagnansi. 

Akan tetapi, disisi lain pedang ini, ada banyak hal yang harus dikorbankan oleh umat manusia demi mendapatkan keberhasilan tersebut dan resikonya juga sangat mahal. Seperti yang dilansir oleh www.thepaperlessproject.com penggunaan kertas pada 20 tahun terakhir, telah meningkat sebesar 126% . Fakta ini mengindikasikan bahwa penggunaan media elektronik pada masa ini tidak mengurangi penggunaan kertas.

Namun, sebenarnya fakta diatas bukanlah seperti yang kita bayangkan. Penggunaan kertas sebagai media tulis pada masa ini memang telah berkurang, namun dengan berkembangnya penggunaan kertas sebagai tisu dan juga kemasan mengakibatkan kertas masih diproduksi dengan sangat banyak. 

Padahal jika kita kembali ke fakta di atas, harusnya insan manusia ini harus berpikir berkali-kali untuk menggunakan selembar tisu hanya untuk membersihkan hal hal yang seharusnya dapat digantikan oleh sapu tangan kita. Akan tetapi itulah manusia saat ini,  hanya fokus pada masa ini tanpa memikirkan bagaimana anak cucunya akan hidup tanpa adanya hutan yang menyediakan pohon untuk membantu mereka benafas.

Rilis yang dilakukan oleh www.mongabay.com  dapat menunjukkan prestasi spesies kita dalam menghancurkan lingkungan. Pasalnya, pada tahun 2016-2017,Dari total 479 ribu hektar hutan yang ada di Indonesia, hanya 8,1 % yang digunakan sebagai hutan konservasi serta hanya 12,1 % yang berperan sebagai hutan lindung. Sisanya adalah 44,1 % sebagai hutan produksi dan 36,7 % sebagai area penggunaan lain. 

Dari sana dapat kita simpulkan bahwa  kepedulian kita akan lingkungan sangatlah minim dan akibat dari tindakan egois itu adalah kerusakan ekosistem. Saat ini ada banyak ahli yang sedang gencar-gencarnya untuk mencari lingkungan baru di luar sana seperti mars maupun planet-planet lain yang dapat menopang kebutuhan hidup manusia. 

Dan seluruh tindakan egois tersebut telah merusak tindakan '' kealtruisan''  dari berbagai spesies lain  kepada spesies kita namun kebaikan itu kita balaskan dengan mengucapkan selamat tinggal dan membiarkan eksistensinya di alam semesta lenyap begitu saja.

Pada masa ini, telah banyak terobosan menarik demi mengatasi masalah tersebut, seperti iklan layanan masyarakat tentang pentingnya menghemat kertas dan banyak lagi yang bertebaran di segala tempat, serta insan yang sadar akan bahaya tersebut juga memikirkan cara yang lebih efektif mendapat kertas baru tanpa harus menebang pohon, yaitu mendaur ulang kertas. 

Selain cara diatas, salah satu cara efektif lainnya yaitu pembuatan kertas berbahan dasar nonkayu. Dan cara ini, merupakan salah satu senjata pamungkas bagi kita. Bagaimana tidak, daripada kita merusak alam, lebih baik kita memanfaatkan limbah dari tanaman yang telah didomestikasi oleh nenek moyang kita sejak 10.000 SM. 

Contohnya, padi yang telah didomestikasi oleh spesies kita sejak 9.500 SM atau ubi yang telah didomestikasi nenek moyang kita sejak 2500 SM, hanya segelintir bagiannya yang betul-betul dimanfaatkan dengan efektif, hanya bulir padinya atau hanya umbi dari ubinya. 

Padahal kulit dari umbi ubi tersebut atau jerami dari padi tersebut mengandung selulosa yang cukup tinggi dan memiliki potensi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai bahan baku pulp sehingga deforestasi akibat penebangan pohon dapat terkurangi.  

Seharusnya, cara-cara seperti inilah yang harusnya diperbuat oleh insan kita ini, bukan membasuh tangan akan perbuatannya dan fokus untuk mencari tempat persinggahan baru di masa depan, akan tetapi secara gentleman  bertanggung jawab akan ulahnya dan mengubah fokusnya untuk menyelamatkan bumi kita tercinta.

Namun, untuk mencapai kesadaran tersebut tidaklah mudah, karena jika hanya satu dari seribu orang yag peduli akan lingkungan, maka bebarapa dekade kemudian kita hanya akan melihat jutaan kepunahan. 

Maka hal terpenting saat ini bukanlah menyalahkan pihak egois, ataupun mengutuki perbuatan mereka. Namun lebih kepada menyadarkan diri masing masing dan mulai berpikir untuk kebaikan anak cucu kita agar dunia ini dapat lebih baik di masa depan.