Revolusi Industri 4.0 merupakan hal yang digadang-gadang akan berpengaruh besar terhadap peradaban dunia. Sedang hangat dibahas kajiannya oleh kaum intelektual muda, sebuah gebrakan dunia yang begitu menggemparkan, hingga mau tidak mau Indonesia pasti terkena imbasnya.

Seperti namanya, Revolusi Industri 4.0 ini bermula dari revolusi angka sebelumnya secara bertahap. Ditandai dengan penemuan mesin uap, komputer, hingga jaringan internet yang dikenal dengan urutan Revolusi 1.0, 2.0, dan 3.0.

Revolusi Industri 4.0 merupakan perubahan besar-besaran di segala bidang. Ia mengurangi sekat-sekat antara dunia fisik dan dunia digital. 

Keadaan inmendeskripsikan bahwa teknologi informasi dan komunikasi menjadi central dalam kehidupan manusia. Segala hal menjadi bordeless tanpa batas dengan penggunaan daya tak terbatas. Akibatnya, beberapa aktivitas manusia mulai terdisrupsi.

Revolusi Industri 4.0 pertama kali diperkenalkan oleh Jerman saat pameran dagang terbesar di dunia, Hannover Fair, tahun 2011 lalu. Dalam pertemuan tersebut, era ini dikaitkan dengan merevolusi rantai nilai organisasi dunia dengan cara menciptakan Smart Factories.

Artinya, akan ada pemanfaatan teknologi super canggih di dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa di antaranya adalah Artificial Intelligence, Internet Of Things, Blockchain, Big Data, Robotic, Rekayasa Genetika, hingga Komputer Quantum.

Beralih ke cerita kertas. Kertas merupakan barang yang paling mudah dijumpai di dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga kalangan intelektual, semuanya adalah kaum yang berkerabat dengan sesuatu berbau kertas.

Sebagian orang beranggapan bahwa kertas merupakan sesuatu yang merepotkan, kurang sesuai dengan perkembangan zaman. Era digital menjanjikan kemudahan dan keinstanan yang sampai saat ini belum ada tandingan.  

Beberapa pihak khawatir, merambahnya Revolusi Industri 4.0, terutama di bidang sistem informasi, lama-kelamaan akan menggeser eksistensi kertas.

Di zaman sekarang sudah jarang ditemui buku-buku, berkas-berkas dalam bentuk hard file, dan lain-lainnya. Karena sistem informasi telah merambah ke penggunaan big data yang bahkan bisa menyimpan data dalam jumlah sangat besar. 

Beberapa file penting pun tak lagi dicetak. Cukup disimpan saja dengan bantuan digitalisasi media. 

Disinggung dari segi historis, dulu juga kertas tak dikenal. Beberapa sejarah peradaban telah mencatat bahwa beberapa bangsa telah mengabadikan suatu peristiwa melalui tulisan. Mereka menulis di atas batu, kulit hewan, dan kayu. Contohnya bangsa Sumeria, mereka mulai menulis di atas batu sejak tahun 3.000 SM.

Bangsa besar Romawi pun tercatat menggunakan perunggu untuk menulis kira-kira pada abad 9 SM. Sedangkan bangsa Mesir kuno telah menggunakan Papyrus untuk menulis dan menggambar yang dikenal oleh bangsa Barat dengan sebutan Paper (Kertas).

Ts’ai Lun, seorang yang tercatat sebagai penemu kertas pada abad ke 2 Masehi. Ia menyumbangkan penemuan besar dalam peradaban dunia. Sejak saat itu kertas dikenal meluas di seluruh wilayah Cina.

Cina menjadi satu-satunya negara yang mengekspor produk kertas. Mereka memproduksi kertas dengan cara yang tersembunyi dan rahasia. Hingga tahun 750 M, tak ada satupun bangsa di dunia mengetahui bagaimana caranya membuat kertas (Rudi Kasandra, Qureta, 2017)

Kini kertas sangat berpengaruh besar dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, kesehatan, hiburan, dan pengabadian dokumen-dokumen penting. Meskipun digitalisasi telah merambah dan berperan besar, namun sejatinya kertas takkan tergantikan.

Beberapa peran kertas memang sejatinya bisa digantikan oleh perangkat-perangkat elektronik, misalnya saja e-book. Akan tetapi, masih banyak kok yang membeli buku. Beberapa orang menilai bahwa membaca via digital memiliki banyak efek negatif, salah satunya adalah merusak mata.

Kemudian, di sisi lain, meskipun era digital siap menggeser posisi kertas, kertas tetap akan dibutuhkan. Seberapapun kencangnya era digital berusaha menyaingi, tetapi tetap dokumen-dokumen penting akan disimpan dengan rapi di atas media yang disebut kertas.

Meskipun menulis bisa menggunakan digital, akan tetapi penjualan kertas untuk buku tulis tetap saja tinggi. Karena para pelajar tetap membutuhkan kertas sebagai media yang akan menemani mereka dalam setiap proses pembelajaran.

Bersama kertas, akan selalu ada hal yang menyenangkan. Pada dasarnya setiap penulis pun berawal dari tulisan tangan mereka. Tiada yang akan benar-benar bisa hidup tanpa kertas. Karena kertas bisa bertahan bukan karena kebutuhan, tetapi karena nilainya yang takkan pernah tergantikan.

Nilai yang akan membuat kertas selalu dibutuhkan, nilai yang membuat kertas selalu jadi incaran, nilai yang akan membuat kertas akan selalu bertahan di tengah majunya teknologi dunia. Era Digital mungkin saja menyaingi, tapi tidak jika untuk menggantikan.

Hingga saat ini, didapatkan data dari segi industri pulp and paper. Bahwa Indonesia merupakan produsen kertas ke-6 dan ke-9 di dunia untuk pulp pada tahun 2015. Percetakan dan reproduksi Produk Domestik Bruto (PDB) mampu mencapai Rp87,7 triliun.

Peluang di dalam negeri juga mampu didorong dengan meningkatnya pendidikan masyarakat dan kegiatan ekonomi lainnya yang membutuhkan kertas, seperti kertas tulis cetak, kertas kemasan pangan, kertas kantong semen, kertas bungkus.

Industri pulp and paper, seperti APP Sinar Mas, misalnya, juga telah memberikan pertumbuhan besar terhadap ekonomi Indonesia; sebagai penyumbang devisa terbesar ke-7 dari sektor non-migas di Indonesia. Dan juga telah membantu menyerap sebanyak 260 ribu tenaga kerja langsung serta 1,1 juta tenaga kerja tidak langsung.

Fakta mengatakan bahwa 40-55% dokumen bisnis di seluruh dunia masih dalam bentuk kertas. 50% lebih pengguna kartu kredit masih menerima tagihannya melalui kertas. Serta jumlah halaman yang dicetak seluruh dunia pada tahun 2013 mencapai 3,5 triliun serta meningkat 1,6% setiap tahunnya. 

Zaman semakin berkembang. Revolusi Industri 4.0 telah di depan gerbang. Pola pikir pun semakin terbuka. Jika pada waktu dulu menulis cukup dengan batu dan kayu, namun dengan seiring kompleksnya perkembangan manusia dimodifikasi dan lahirlah bentuk kertas yang dikenal sekarang beserta inovasinya.

Jangan jadikan Revolusi Industri 4.0 menjadi momok serta ancaman akan hilangnya kertas, melainkan jadikan era ini sebagai teman. Bagi industri kertas, jadikan motivasi untuk terus maju dan berkembang serta tak lupa berbenah, terus berkreativitas, dan menyesuaikan dengan kebutuhan zaman. 

Jangan mau kalah dengan perkembangan digitalisasi media serta Revolusi Industri 4.0. Secanggih apa pun zaman dan semaju apa pun dunia digital, meskipun ada kertas elektronik, tapi percayalah bahwa peran kertas tidak akan pernah tergantikan di masyarakat dunia.

Sensasi menulis di kertas tidak akan pernah didapatkan melalui kertas digital. Membaca buku cetak akan berbeda dengan keasyikan membaca pada buku elektronik. Sejatinya Revolusi Industri 4.0 hanya mempermudah saja, namun belum sepenuhnya mampu menggantikan posisi kertas secara keseluruhan.

Berharap semua industri kertas seperti APP Sinar Mas dapat menjadikan ini sebagai momentum untuk membakar semangat dan terus maju. Semakin canggih kemajuan zaman, kertas diharapkan mampu menyesuaikan diri dengan apa yang diinginkan pencinta kertas.

Kertas adalah barang bernilai yang mampu mengubah peradaban dunia. Bayangkan saja, jika tidak ada kertas, bagaimana proklamasi Indonesia dicatat; jika tidak ada kertas, bagaimana para ilmuwan mengabadikan karyanya. Karena sejatinya suatu barang yang bernilai sampai kapan pun akan tetap bernilai.