Sungguh kita dikejutkan akhir-akhir ini mengenai pernyataan dari politikus senior partai Gerindra, yaitu Permadi Satrio Wiwoho, mengenai revolusi yang dilontarkannya. Permadi menyebutkan bahwa masalah-masalah di Indonesia tak dapat diselesaikan dengan konstitusi, hanya dapat diselesaikan dengan revolusi. Karena ucapan tersebut, Permadi dilaporkan ke Polda Metro Jaya.

Pernyataan paling menakutkan dari Permadi bisa dilihat dalam sepenggal petikan dari detik.com (10/5) berikut ini:

Oleh karena itu, tidak ada kata lain, kita tidak punya waktu lagi. Apa yang dikatakan ibu ini, bapak-bapak, tidak ada lagi, tidak ada waktu lagi. Begitu tanggal 22 diumumkan, pasti terjadi benturan, apakah memenangkan Jokowi atau memenangkan Prabowo, sama, pasti akan benturan, karena mereka juga siap, siap untuk mati, kita pun siap untuk mati.

Selain itu, ada pernyataan Permadi bahwa Cina yang berpenduduk sekitar 2 miliar akan menyerbu Indonesia. Pernyataan inilah bagi saya dan mungkin juga kita sangat menakutkan. Bagaimana mungkin ia berkata revolusi sedangkan kita sudah merdeka? 

Seharusnya, dengan kemerdekaan itu, kita tak perlu takut serangan asing. Rakyat sudah dipersatukan dalam bingkai kemerdekaan. Kita sudah bebas dalam membangun negeri, membenahi infrastruktur, bebas berpendapat, berekspresi dan beraspirasi, dan menciptakan kemajuan.

Baca Juga: Delusi Makar

Untuk apa lagi revolusi busuk itu? Rakyat diajak untuk melawan dan siap untuk mati. Ini sungguh menakutkan. Serangan dari Cina yang dikatakan Permadi tidak akan pernah menyerbu kita. Saya sangat yakin dengan itu!

Bersatu untuk negeri

Ucapan politikus Gerindra Permadi itu sangat menjengkelkan. Sangat tidak bergizi dan berusaha merusak otak anak bangsa untuk turun ke lapangan menyuarakan kekurangan, ketidakadilan, dan penindasan menurutnya. 

Memang, keadilan saat ini masih belum seimbang, tetapi caranya bukan bangkit menyerbu, mengumpulkan massa menyuarakan revolusi yang busuk itu. Ingatlah bahwa kita sudah dipersatukan dalam bingkai Pancasila.

Pancasila itu dibuat dari hasil konsensus bapak pendiri negara (The Founding Fathers) kita. Konsensus yang hasilnya ada lima sila dalam Pancasila itulah yang menyatukan kita, yang menjadi pedoman dalam hidup berbangsa dan bernegara. Pancasila itu adalah sumber dari segala sumber hukum yang harus jadi pedoman pula dalam setiap pembentukan peraturan perundang-undangan.

Pancasila tidak boleh diganti dengan dasar dan ideologi apa pun. Pancasila sudah harga mati sebagai ideologi bangsa dan negara Indonesia. Jadi, saya ingin menyampaikan bahwa Permadi harus sadar bahwa sudah ada Pancasila yang menyatukan dan mampu membuat kita lebih baik dan maju. Tidak ada kata revolusi yang Anda katakan tersebut.

Bangsa ini tidak butuh revolusi. Itu hanya akan menghancurkan negara ini. Kita akan bertengkar. Tidak ada lagi persatuan dan perdamaian. Rakyat turun ke lapangan, sehingga terjadi gesekan menimbulkan konflik yang besar. 

Sebenarnya, jika tidak ada menerima keadilan, sebaiknya pergunakan hukum sebagai panglima. Semua yang kita kerjakan ada hukum, nilai, dan norma yang mengaturnya.

Jika rakyat masih kekurangan, menderita, miskin, tidur di kolong jembatan, dan tersiksa akibat perekonomian rendah, sebaiknya suarakan kepada pemerintah dengan cara yang elegan. Tidak harus mengumpulkan massa. Ada wakil rakyat yang duduk di parlemen yang dipilih rakyat dari tiap Dapil di daerah seluruh Indonesia. Kepada mereka bisa disuarakan aspirasi tersebut untuk disampaikan ke pemerintah pusat.

Ada media yang memberikan ruang aspirasi atau surat pembaca yang dapat dipergunakan menyuarakan aspirasi. Dan, media juga selalu meliput ke tiap-tiap daerah di Indonesia melihat bagaimana nasib rakyat saat ini sampai akar rumput. Semua itu disiarkan dan dimuat di media, sehingga pemerintah bisa melihat kebenaran dan realitasnya.

Jadi, ada ruang secara elegan untuk meminta keadilan bagi masyarakat. Kita harus mempergunakan itu sebaik mungkin, bukan dengan revolusi busuk itu. 

Saya sendiri merinding membaca kutipan pernyataan Permadi itu. Jengkel, kesal, dan tak terima cara-cara yang ditawarkan Permadi. Itu hasutan dan ajakan berbuat keburukan dan tak perlu didengarkan.

Saatnya bangsa Indonesia bersatu meminta dan mendorong pemerintah melihat kondisi rakyat saat ini. Kita suarakan bersama-sama, bukan dengan revolusi siap untuk mati, siap untuk tidak memakai perundingan dan konstitusi dalam menyelesaikan masalah. Itu menyesatkan!

Rakyat sekalian, mari kita bersatu untuk negeri ini agar tidak bubar. Revolusi hanya bertujuan membubarkan negeri ini. Mental kitalah yang perlu berevolusi seperti Nawacita dari Jokowi waktu lalu. Kita harus berani dan bertarung mencapai cita-cita dan tujuan bangsa dan negara ini berdiri, yaitu kesejahteraan umum.

Bersama pemerintah, kita bisa mewujudkan Indonesia yang perlahan mampu bersaing dengan negara lainnya. Jangan dengarkan pernyataan Permadi yang merusak negeri, merusak otak, dan membawa kita ke ambang kehancuran. 

Kita sudah merdeka, maka jangan bangsa ini jadi penjajah selanjutnya. Tetapi, kita bersatu saja menyuarakan aspirasi, bekerja keras, dan berharap pemerintah mampu menjawab kegelisahan kita saat ini. Tolak revolusi busuk ala Permadi!