Di saat malam telah tiba, lelah menjadi obat tidur paling ampuh bagi para buruh untuk setidaknya menikmati keseharian walaupun hanya sebentar. Menikmati hidup dengan bekerja!

Bekerja yang dipaksa sedemikian rupa dengan menguras tenaga sampai batas paling rendah. Namun buruh tidak boleh dan haram hukumnya untuk menyerah. Karena mereka sadar bahwa esok hari butuh makan.

Keringat panas menetes seperti hujan di musim penghujan. Banjir bandang pun melanda pikiran akan hutang-hutang yang semakin menggenang. Selokan-selokan yang bernama upah itu tersumbat karena adanya sampah-sampah kapital yang menyumbat.

Hanya ada tenaga dan jadwal kerja dari pagi sampai sore hari. Menjalani rutinitas dengan keterpaksaan. Walaupun demikian, buruh tetap ikhlas. Meski hasilnya lebih menguntungkan para pembesar beserta koleganya.

Harta bukan jaminan bahagia. Mindset yang mulai ditanam oleh para buruh. Namun dunia butuh makan, dan harta ialah makanan paling lezat di dunia ini. Dan tetap saja harta membuat mereka merana, meski tak mempunyainya.

Segalanya itu ada harganya. Menendang harga karena memiliki harta, dan harta ialah gudangnya upah. Upah buruh berapa? Upah buruh seperti udara, ia ada namun tak terasa ada.

Kebutuhan beranak pinak, namun upah buruh tetap mandul dalam taraf minimum. Dari hari ke hari kebutuhan hidup makin meningkat, akan tetapi derajat buruh tak sama dengan manusia yang berpangkat. Pemilik modal lah yang berpangkat.

Segalanya telah berubah, namun tidak dengan upah buruh. Seperti memiliki kekuatan magic agar tetap abadi dalam taraf minimum.

Andai upah itu bisa berbicara, maka ia akan lantang mengatakan bahwa buruh harus miskin selamanya.

Berharap kepada penguasa ????

Ingatlah jika penguasa itu mereka-mereka para pemilik modal. Yang membuat aturan, yang melanggar aturan.

Mereka membeli suara demokrasi para buruh dengan dalih janji-janji mustahil untuk terwujud. Melainkan semakin memeras buruh dengan sekuat tenaga. Agar pemilik modal merasa kaya sekaya-kayanya.

Bahagia itu bukan tentang harta! Pemilik modal membuat harta membuat kebahagiaan yang sederhana semakin rumit.

Salahkan jika para buruh menginginkan pitra-putrinya agar sekolah sampai menjadi sarjana? Upah adalah jawaban.

Bukankah buruh juga di larang untuk sakit?

Dokter-dokter itu tenaganya butuh biaya, dan upah buruh bukanlah termasuk temannya.

Mengelola produksi tapi tak sanggup untuk mengonsumsi.

Nasib, takdir, nasib, takdir, nasib, takdir, nasib, takdir, nasib, takdir, nasib, takdir ; gurita kehidupan.

Manusia-manusia berpendidikan saling berebut lahan makanan, sampai-sampai jijik dengan nasib buruh.

Dunia memang kejam. Saling memukul meski saling kenal.

Buruh juga ingin melawan para pemilik modal. Tenaga buruh berada di pabrik dan rumah ialah tempat jiwa buruh berada.

Buruh juga ingin melawan kebusukkan peradaban. Namun siapa yang masih peduli dengan nasib buruh? Yang masih peduli dengan para buruh hanya mereka sendiri.

Lambat laun buruh yang tua akan digantikan oleh buruh muda, setiap tahun akan selalu begitu. Regenerasi katanya.

Bagaimana nasib buruh tua itu?

Pesangon yang tak seberapa itu telah ludes untuk melunasi hutang-hutang. Bagaimana lagi sudah terlanjur.

Maka dari itu, wahai buruh. Bersatulah. Mari bersama-sama dalam satu tubuh. Mendidihkan darah, mengencangkan otot. Lalu bergerak bersama.

Dengan satu tujuan ; melawan.

Melawan tirani, pemodal kapital, kebusukkan peradaban.

Hei para buruh. Jangan gentar. Jangan khawatir.

Ini semua demi putra putri kita agar berpengetahuan.

Hei para buruh, tak sadarkah selama ini diperas sedemikian rupa?

Buruh bukanlah sapi perah yang di perah segalanya dari pagi sampai sore, buruh juga manusia merdeka yang memiliki hak dan kewajiban yang merdeka pula.

Pabrik-pabrik itu surganya para buruh, bukan surganya pemilik modal, maka biarkan para buruh yang menguasainya.

Buruh-buruh yang memproduksi, maka buruh juga yang mengonsumsi.

Asap-asap pabrik telah meracuni paru-paru para buruh dan juga pikirannya dengan doktrin kapitalis yang meninakbobokan keberanian para buruh.

Maka lawanlah!

Lawan segala tirani kapital yang sombong dan culas itu.

Bersatulah!

Mari saling mengepalkan tangan demi kesehatan para buruh.

Rumah sakit-rumah sakit itu seperti penampungan buruh di hari tua.

Beda lagi dengan pemilik modal yang bersuka cita dengan bini mudanya.

Maka hancurkan!

Keringat-keringat buruh adalah air sungai di surga.

Sayap-sayap malaikat pun akan bergetar jika para buruh bergerak bersama.

Menandakan peradaban mulai bertekanan tinggi.

Buruh-buruh yang merdeka.

Bukanlah khayalan semata, namun itu ialah harapan.

Tangan-tangan buruh yang perkasa dan lembut.

Serta kaki-kaki yang melangkah di waktu yang lama.

Ketabahan buruh selama ini merupakan bukti bahwa para pemilik modal masih diatas angin dengan segala kebijakan yang menguntungkan mereka.

Maka melawan adalah jawaban.

Dengan bersama-sama, maka buruh memiliki kekuatan yang kuat.

Melawan kebusukkan para pemilik modal.

Dengan rakus mereka merampas tenaga buruh dengan dalih upah yang tak seberapa.

Sadarlah!

Bergeraklah sekarang! Cepat!

Hantam kedzaliman para pemilik modal.

Apakah mereka para pemilik modal itu telah dzalim? Tentu!

Kedzaliman itu banyak bentuk rupanya.

Jika bukan sekarang, maka kapan lagi?

Ini adalah saatnya membangunkan raksasa tidur “Revolusi Buruh!”