Bukan menjadi rahasia negara lagi, permasalahan sampah plastik telah mengakar di negeri ini. Mirisnya, Indonesia menjadi negara penyumbang sampah plastik terbanyak kedua setelah Cina.

Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia dinobatkan sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai 187,2 juta ton. Ditambah pada tahun 2018, jumlah impor sampah plastik ke Indonesia meningkat dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Tentunya hal ini harus menjadi fokus penting pemerintah dan masyarakat.

Di atas dengungan slogan go-green dan save the earth yang sedang gencar-gencarnya disuarakan, menjadi hal yang membingungkan lantaran permasalahan sampah plastik masih terus berkembang biak. Padahal, munculnya aturan mengenai pembatasan penggunaan produk yang berbahan plastik sekali pakai disambut positif oleh sebagian besar masyarakat. 

Contohnya adalah penggunaan tas belanja, sedotan logam, dan tumbler yang sudah sangat lazim kita temui saat iniBukankah hal ini menunjukkan adanya peningkatan kebiasaan di masayarakat? Bukankah hal ini juga menunjukkan peningkatan pengelolaan sampah oleh pemerintah?

Menurut penulis, permasalahan sampah plastik yang masih terus berkembang biak di negeri ini disebabkan oleh persoalan ini yang seakan akan masih dipandang sebelah mata jika dibandingkan dengan masalah radikalisme, penghapusan ujian nasional, Menteri Menteri kontroversial, dan larangan dalam mengucapkan salam di hari natal. 

Solusi yang ada pun diasumsikan dapat berjalan sendiri mengatasi permasalahan sampah plastik yang belum usai hingga saat ini. Ditambah dengan kurangnya kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat, hal tersebut menambah keruhnya permasalahan ini.

Jika kita menengok ke dasar samudra, menurut World Wide Fund for Nature (WWF), 600 spesies terumbu karang dan 2000 spesies ikan terganggu dengan keberadaan sampah plastik. Pada tahun 2018, sampah plastik ditemukan di perut paus sperma yang terdampar di pulau Kapota. Tidak hanya datang dari lautan, di daratan juga dihebohkan dengan kematian seekor jerapah di Kebun Binatang Surabaya yang di perutnya ditemukan gumpalan sampah plastik.

Yang lebih penting lagi, jika permasalahan sampah plastik dibiarkan terus berkembang, maka hal tersebut akan berdampak pada kerusakan lingkungan yang berlanjut pada kerusakan manusia itu sendiri. Berkaca dari dampak yang diakibatkan, tentunya permasalahan sampah plastik harus ditangani secara serius dengan solusi yang tepat sasaran dan bukannya hanya sekadar asumsi belaka.

Solusi dan Pemerintah

Pemerintah merupakan faktor penting dalam upaya mengurangi permasalahan sampah plastik. Sudah sepantasnya kita mengapresiasi kinerja pemerintah yang sudah sekuat tenaga memberikan terobosan dalam upaya mengurangi pemasalahan yang ada. 

Mulai dari pengelolaan sampah plastik hingga penerbitan aturan pembatasan penggunaan produk yang terbuat dari plastik sekali pakai. Ditambah dengan pengenaan tarif di setiap penggunaan kantong plastik sekali pakai dan program Indonesia bebas plastik menunjukkan pemerintah sudah berkerja secara maksimal.

Hanya saja, pemerintah terlalu cepat untuk berasumsi bahwa solusi tersebut dapat berjalan sendiri sehingga seperti apa yang kita lihat hari ini tidak adanya pengawasan akan program tersebut yang berdampak pada masyarakat yang tidak mematuhi peraturan. 

Seharusnya, selain menciptakan terobosan , pemerintah juga harus ingat untuk memelihara terobosan itu melalui pengawasan, baik melakukan investigasi ataupun memberikan sanksi yang tegas kepada para pelanggarnya.

Tidak kalah penting, masalah impor sampah juga menjadi faktor penyebab tingginya permasalahan sampah plastik di Indonesia. Peningkatan impor sampah yang terjadi pada tahun 2018 menunjukkan penurunan sistem pengelolaan sampah impor. 

Padahal, pemerintah sendiri belum secara maksimal mengelola sampah domestik, lalu apa konsiderasi pemerintah dalam peningkatan impor sampah? Seharusnya, dengan peran pemerintah sebagai agen pembuat regulasi bisa menciptakan regulasi yang dapat membatasi dan menekan masuknya sampah plastik ke negeri ini.

Kurangnya kolaborasi antara pemerintah dengan masyarakat juga menjadi penyebab tingginya permasalahan sampah plastik yang ada. Padahal, dalam pengembangannya, banyak terobosan masyarakat yang membutuhkan uluran tangan pemerintah. 

Salah satu contohnya ialah inovasi plastik organik yang dibuat oleh Kevin Kumala asal Bali. Dengan bantuan pemerintah dalam hal kebijakan atau suntikan dana untuk pendistribusian plastik organik ini tentunya akan menjadi kolaborasi yang hebat dalam upaya mengurangi permasalahan sampah plastik yang ada.  

Solusi  dan Masyarakat  

Inisiatif sebagian masyarakat dalam mengurangi penggunaan produk yang terbuat dari plastik sekali pakai merupakan pertanda bahwa masyarakat mengerti pentingnya menjaga lingkungan. Munculnya gerakan sosial seperti pembersihan sampah plastik di pantai dan di daerah tertentu serta pemanfaatan kembali sampah plastik melalui program ecobrick menjadi sisi putih di balik sisi hitam masyarakat yang kerap membuang sampah plastik secara sembarangan. 

Padahal mereka tahu dampak yang diakibatkan jika membuang sampah sembarangan, namun tetap saja ada oknum yang melakukan hal tersebut demi kepentingan personal.  

Terlihat jelas bahwa tindakan membuang sampah sembarangan merupakan gambaran dari pemeliharaan mentalitas dan kebiasaan yang kurang baik. Lingkungan sekitar seperti keluarga dan sekolah menjadi faktor yang memengaruhi mentalitas dan kebiasaan setiap orang.

Melihat dari apa yang terjadi, keluarga dan sekolah mempunyai peran penting dalam pembentukan mentalitas dan kebiasaan karena keluarga dan sekolah merupakan agen yang pertama dan utama dalam proses sosialisasi di masyarakat.

Jika kita menelisik permasalahan ini lebih dalam, tentunya kita akan mendapati bahwa permasalahan ini sama peliknya dengan masalah lain yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan di Indonesia. Hanya saja, permasalahan sampah plastik ini masih dipandang sebelah mata oleh pemerintah maupun masyarakat. Padahal permasalahan ini hampir setiap hari ditemui di kehidupan bermasyarakat.

Oleh karena itu, langkah hebat yang harus dilakukan untuk mengurangi permasalahan sampah plastik yang ada adalah menyelaraskan pemerintah dan masyarakat. Keselarasan yang dimaksud, yaitu pemerintah dan masyarakat sama-sama bergandengan tangan memerangi permasalahan sampah plastik yang ada. Upaya tersebut bisa diwujudkan melalui kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat.

Keselaran tersebut juga bisa berarti bahwa pemerintah dan masyarakat membenahi masalah laten yang menggerogoti masing masing komponen. Artinya, pemerintah sebagai agen pembuat regulasi fokus terhadap pembuatan dan pengawasan regulasi, sedangkan masyarakat yang mempunyai masalah di mentalitas dan kebiasaan yang buruk fokus terhadap pembentukan mentalitas dan kebiasaan yang baik.

Setiap orang harus mendukung upaya dalam mengurangi permasalahan sampah plastik yang ada. Di sisi lain, pemerintah dan masyarakat juga harus saling membenahi diri masing masing. Apabila masyarakat dan pemerintah sudah membenahi permasalahan yang ada di dalam komponen masing-masing, maka langkah perubahan akan dimulai. Harapan selanjutnya, permasalahan sampah plastik bisa berkurang.