Kalian tidak akan masuk surga sebelum beriman, dan kalian tidak akan beriman sebelum saling mencintai. Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu amalan yang membuat kalian saling mencintai? Yakni sebarkanlah salam di antara kalian.” (H.R Bukhari Muslim)

Sebetulnya, keterangan dalam hadis tersebut cukup jelas adanya. Bahwa modal masuk surga tidak cukup hanya dengan keimanan, dia mengharuskan semacam “verifikasi sosial”: manusia dan kemanusiaan.

Sayangnya dalil itu dengan gampang dapat saja dibatalkan oleh klaim kebenaran teologi yang dihasilkan atas dasar apa yang mereka sebut dengan “keharusan membela kebenaran agama”. Gus Dur menyebutnya dengan istilah “Mental Banteng”, cara berpikir yang telanjur menganggap bahwa islam sudah mapan, sempurna, dan kebenarannya bersifat absolut. 

Segala hal yang lain (berada di luar nomenklatur islam) haruslah dihapuskan, ditolak atau bahkan diperangi.

Padahal, Islam sebagai sebuah agama bukanlah sekadar serangkaian ajaran teologi. Kebenaran islam tidak cukup diukur hanya dengan kalkulasi keimanan. Definisi mapan agama yang hanya terbatas dalam definisi tentang seperangkat dogma yang “paten” justru akan menjerumuskan satu promosi terhadap cara pandang yang cenderung eksklusif.

Islam bukanlah “Agama Mitologi”, yang mengharuskan pengikutnya tunduk pada postulat-postulat formal agama. Islam menghendaki dan meghargai manusia sebagai satu entitas individu yang patut dihargai hak-hak mendasarnya.

Sebabnya, islam juga memungkinkan pemeluknya menggunakan pikirannya dalam memberikan interpretasi terhadap ajaran agama. Dua dalil teologi mendasar agama seperti materialisme dan spiritualisme dalam hal ini dimungkinkan.

Dalam islam, dua hal tersebut haruslah diletakkan sebagai serangkaian cara berpikir yang utuh, tidak terpisah-pisah. Islam hendak mendalilkan bahwa spiritualisme tak akan dicapai jika manusia enggan menggunakan dalil-dalil materiil, sebab itulah keduanya merupakan dalil yang sama-sama diperlukan untuk mencapai satu konsep tentang “Islam yang aplikatif”.

Uraian tersebut akan sampai pada satu muara akan kebenaran “Islam Radikal” tentu tidak sebagai dogma, akan tetapi “Radikal” sebagai inti dan substansi dari pesan-pesan yang hendak disampaikan islam: Perdamaian dan petunjuk manusia. Islam aplikatif yang saya maksud di awal tidak lain dan tidak bukan bermuara pada bagaimana islam dapat mengontekstualisasikan dirinya terhadap pergulatan dan dinamika peradaban.

Maksudnya, islam hendaklah dipahami sebagai “agama universal”. Konsep ini memungkinkan bahwa nilai-nilai islam adalah ditujukan untuk semua umat manusia tanpa tendensi sekat-sekat keyakinan akan kebenaran “sektarian agama”.

Agaknya, dalil universalisme inilah yang gagal dipahami oleh apa yang kemudian Gus Dhofir sebut dalam catatannya beberapa waktu lalu sebagai “kaum cuti nalar” yang belakangan menjamur dalam kancah isu publik kita. Euforia tentang obsesi menjadikan islam sebagai “monumen utuh” yang wajib hukumnya dibela sampai mati-matian bahkan berdarah-darah pada akhirnya hanya sampai pada upaya “memanipulasi” umat islam agar seolah-olah mereka terpisah dari kelompok “manusia” yang lain.

Padahal bukankah umat islam merupakan bagian dari keluarga universal manusia? Dia dipersatukan oleh rasa cinta sesama dan kemanusiaan itu sendiri.

Jika kita percaya bahwa semua manusia di muka bumi ini merupakan ciptaan tuhan, apa susahnya mempercayai bahwa Tuhan juga mencintai semua makhluknya tanpa memandang apa identitas agama, suku, maupun rasnya?

Upaya memanipulasi pesan-pesan perdamaian agama berhasil mereka bungkus dengan dalil-dalil sentimen dan klaim “membela sakralitas agama”. Obsesi imajiner tentang kebenaran identitas tunggal islam mengantarkan mereka pada euforia tentang klaim serampangan: Membenarkan perilaku pembunuhan dan pemenggalan kepada mereka yang dianggap “mengganggu” atau bahkan kepada mereka yang bukan bagian dari islam. Semua atas nama kebenaran tunggal dan “keharusan membela agama”.

Pada akhirnya tagline “Revolusi Akhlak” yang diagung-agungkan (minimal oleh pengikutnya) itu tampak parsial. Di satu sisi, mereka hendak membawa misi-misi yang sekilas kelihatan agung, setidaknya dapat diwakili oleh frasa “akhlak”. Namun di sisi lain, laku dan ucapan imam besar mereka agaknya sama sekali tak mencerminkan makna sesungguhnya dari tagline “Revolusi Akhlak” tersebut.

Di titik ini patut kita curiga, jangan-jangan Revolusi Akhlak yang dibangga-banggakan (sekali lagi, minimal oleh pengikutnya) itu sudah gagal bahkan sejak dalam pikiran sang Imam Besar?

Jujur saja, sejak tagline itu muncul, saya sudah menaruh rasa “Apasih!” sama tagline ini, ya gimana. Bagaimana mungkin kita “dipaksa” patuh dan percaya kepada dalil ulama hanya karena dia punya klaim Habaib, sementara sikap dan ucapannya sama sekali tak mencerminkan perilaku Habaib?

Saya sih ogah!

Upaya menormalisasi kekerasan dan kebencian tidak pernah dibenarkan dalam agama mana pun, apa pun alasannya. Saya meyakini seutuhnya bahwa islam disebarkan atas dasar perdamaian.

Jika kemudian ada klaim islam dalam sejarahnya disebarkan dengan peperangan dan ekspansi, kita harus kembali pada dalil yang saya sampaikan di awal bahwa “Islam aplikatif” mengharuskan islam sebagai kekuatan politik pada masa lalu melakukan ekspansi dan perluasan wilayah, namun islam sebagai ajaran tidak pernah disebarkan dengan jalan kekerasan. Ini tentu dua hal yang berbeda.

Justru islam selalu menghargai setiap perbedaan, mengedepankan dialog daripada membenarkan kekerasan. Dakwah dalam sejarah islam selalu menghendaki pemberian penghargaan agung kepada manusia dan kemanusiaan. 

Jika ada ulama yang gagal memahami ini, apalagi menggunakan frasa-frasa seperti “penggal”, “bunuh”, dan frasa kekerasan lainnya untuk kemudian membenarkan perilakunya, saya curiga sepertinya dia tidak hanya gagal memahami perbedaan, agaknya dia juga sedang gagal menjadi manusia.

Pada akhirnya, mari kita pikirkan kembali pemahaman keagamaan kita. Membaca kembali lembar sejarah islam, barangkali ada yang sama-sama kita lewatkan dalam memahami islam.

Eksistensi dan sakralitas islam saya kira tidak dilihat dari seberapa “ngotot” umatnya membela islam, sakralitas islam dilihat dari seberapa besar dia mampu menjawab wacana-wacana kemanusiaan dan ketimpangan. Menurut saya, itulah esensi cara berpikir “Islam Radikal” yang sesungguhnya.