Baru-baru ini, kata revolusi akhlak sering tampil di berbagai media, baik di media cetak maupun media televisi. Revolusi akhlak pun menjadi topik pembicaraan di warung-warung kopi maupun di pengajian-pengajian.

Revolusi terkesan memberi arti ada upaya konkrit untuk mengubah secara cepat dan mendasar terkait kondisi tertentu menuju ke kondisi yang dikehendaki. Revolusi akhlak terkesan memberikan upaya untuk merubah secara cepat dan mendasar kondisi akhlak suatu masyarakat kepada kondisi akhlak tertentu sesuai yang dikehendaki.

Persoalannya sekarang adalah mengapa mesti harus melakukan revolusi akhlak? Lalu siapa yang harus melakukannya? Dan kapan memulainya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, perlu  dijawab terlebih dahulu pertanyaan ini, perlukah revolusi akhlak itu?

***

Persoalan akhlak sebenarnya persoalan yang sangat dekat dengan kehidupan sosial mayarakat Indonesia dalam berbangsa dan bernegara. Akhlak terkait dengan nilai moral, nilai sopan santun, nilai adab kesopanan dan nilai baik buruknya perilaku dalam sebuah masyarakat.

Tentu saja, kata akhlak mirip dengan sopan santun, moral, dan etika. Walaupun demikian tentu saja tidak seratus persen sama. Mirip bukan berarti sama. Namun, tulisan ini tidak mempersoalkan apa persamaan dan perbedaan kata tersebut. Biarlah persoalan itu dibicarakan dalam ranah yang lain.

Persoalan akhlak sudah jelas diperdengarkan melalui ceramah dan khutbah para pemuka agama. Semua agama di Indonesia  bahkan di dunia, sangat menekankan akhlak ini dalam setiap ceramah, khutbah, atau apapun istilahnya dalam agama masing-masing.

Masing masing agama sangat menganjurkan kepada umatnya untuk berbuat baik kepada sesama, kepada binatang, atau kepada tumbuhan, bahkan kepada makhluk yang kasat mata sekalipun.

Kalau ditanya kepada semua agama, apakah mencuri itu baik?, apakah memukul orang itu baik?, apakah merundung orang itu baik?, apakah buang sampah sembarangan itu baik?, apakah merusak fasilitas umum baik?, apakah mengumpat itu baik? Tentu saja jawabannya seragam, yakni tidak baik.

Sebaliknya, apakah memberi itu baik?, apakah mengasihi orang itu baik?, apakah tertib dalam antrian itu baik?, apakah berkata sopan dan santun itu baik?, apakah menyapu halaman itu baik?, apakah disiplin itu baik? Apakah jujur itu baik? Tentu saja jawabnya juga seragam, yakni iya, itu semua baik.

Pertanyaan selanjutnya adalah, mengapa masih ditemukan ada sebagian atau sekelompok manusia yang terkesan tidak berakhlak? Memang pada kenyataannya, masih ditemukan sebagian orang yang mencuri. Masih ada sebagian orang yang merundung orang lain, dan masih ada orang yang melakukan perbuatan tidak baik lainnya.

Beranjak dari pertanyaan dan jawaban di atas, lalu apa yang mau direvolusi? Persoalan akhlak sudah jelas dan konkrit. Sangat mudah dimengerti dalam pemikiran yang sederhana sekalipun. Tentu saja, bukan konsep akhlaknya yang direvolusi namun bagaimana konsep itu menyatu dalam kehidupan sehari-hari.

***

Akhlak pada dasarnya sudah diajarkan secara formal sejak SD sampai perguruan tinggi. Enam tahun jenjang pendidikan SD, selama itu pula materi akhlak telah diajarkan. Logikanya, masyarakat Indonesia yang sudah menempuh pendidikan SD tentunya sudah paham tentang akhlak. Apalagi yang sudah lulusan perguruan tinggi.

Jika melihat materi akhlak di sekolah SD saja, apa yang terlihat? Materinya memang sangat baik, jelas, sistematis, dan sesuai yang diharapkan. Namun, materi yang baik dan berkualitas saja tidak cukup menjadi formula untuk membentuk pribadi manusia yang berakhlak.

Materi akhlak hanya sebuah bahan yang akan diajarkan. Pelaku yang mengajarnya bahan itu pun menjadi salah satu kunci pokok dalam menentukan apakah internalisasi akhlak kepada siswa itu berhasil baik atau tidak.

Para pengajar akhlak, para penceramah akhlak, para pemberi nasihat akhlak cenderung hanya mengajarkan tentang konsep akhlak. Tapi menafikan bagaimana akhlak itu dapat mengkristal secara konsisten dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Semestinya, akhlak tidak hanya dipahami sebagai sebuah konsep ajaran agama saja. Tetapi akhlak harus menjadi satu kesatuan yang hablur, solid dan tak terpisah dengan peri kehidupan berbangsa bernegara.

Oleh karena itu,  yang perlu direvolusi bukan konsep akhlaknya, namun bagaimana akhlak itu diinternalisasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ini. Perlu perombakan yang mendasar dan menyeluruh terkait materi dan para pengajarnya selama ini.

Materi akhlak di sekolah misalnya, jangan sampai hanya berupa konsep perbuatan yang baik dan buruk. Jangan sampai hanya menekankan kepada pengertian jujur, pengertian sabar, pengertian memaafkan, dan lain sebagiannya.

Materi akhlak hendaklah materi yang dapat memberi makna yang nyata dalam kehidupan sehari-hari. Materi yang dapat memberikan contoh yang riil. Contoh riil yang langsung bersentuhan dengan kehidupan nyata.

Memberi makna materi akhlak tersebut, dapat dilakukan oleh seorang pengajar yang kreatif dan tidak monoton dalam mengajarkan akhlak. Akhlak dapat diajarkan melalui permainan dan melalui perhatian kepada persoalan sosial yang ada di sekitar.

Pengajaran akhlak selama ini cenderung masih terpusat pada buku bacaan akhlak itu sendiri. Sehingga ketika sang pengajar meminta siswanya untuk tidak berteriak, dia pun menghentikan itu dengan berteriak yang lebih keras lagi.  

Revolusi materi dan pengajar akhlak memang menjadi PR bersama. Jika mengubahnya dimulai dari diri sendiri, usaha itu terlalu lama. Perlu usaha yang cepat dan mendasar dari peraturan Mas Menteri Pendidikan dan Kebudayaan untuk dengan cepat mengubah muatan materi akhlak dan pola pengajarannya yang selama ini berlangsung, khususnya di sekolah.