Tanpa perlu melihat kalender, merah putih yang mulai meramaikan lingkungan sekitar sudah memberi tanda pada kita. Hari untuk mengenang revolusi besar pada tahun 1945 sebentar lagi tiba. 

Berbagai macam perlombaan mulai diselenggarakan dalam rangka menyambut hari bersejarah tersebut. Hari di mana kita resmi merdeka dari penjajahan bangsa asing. Walaupun istilah ini mulai dipertanyakan kembali, ketika intervensi asing pada politik dalam negeri bukan hal yang asing lagi.

Hari kemerdekaan umumnya digambarkan seperti puncak dari revolusi. Seakan-akan hari itu adalah hari di mana perjuangan untuk kemerdekaan telah selesai, titik di mana kita cukup menikmati hasil dari perjuangan masa lampau, lalu kita cukup hidup normal memenuhi kebutuhan sehari-hari dan turut meramaikan 17-an untuk menghargai para pejuang terdahulu.

Saya anggap tidak, dan sebaiknya kita mulai berhenti menganggapnya demikian. Mengapa?

Revolusi bagaikan sebuah kendaraan yang mengantarkan kita menuju kehidupan berbangsa yang lebih baik dan menjauhi keterpurukan. Tapi kendaraan ini butuh bahan bakar dan pelumas yang berkualitas agar terus melesat menembus ruang dan waktu. Bahan bakar itu adalah kesadaran, kecerdasan, dan tenaga kita, terutama para pemuda dengan semangatnya yang tinggi.

Bukan sekadar patriotisme buta atau nasionalis radikal yang membungkam siapa pun yang mengkritik. Kita butuh kepala yang kritis, yang haus akan ilmu, yang mampu memberi gagasan. Kita butuh pemuda yang memiliki ide dan ruh yang revolusioner. 

Jika mereka tidak memiliki ruh tersebut, maka tanamkanlah sejak dini, tanamkanlah melalui media masa, melalui lembaga pendidikan, melalui mulut ke mulur. Kita butuh bahan bakar untuk terus maju, untuk menjauh dari keterpurukan.

Tentunya revolusi 45 tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya campur tangan rakyat, terlebih para pemuda yang setia di garis depan. Juga yang terpenting adalah kesadaran akan pentingnya persatuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia.

Kesadaran itu akan sukar diperoleh tanpa ilmu pengetahuan, terutama di masa kini di mana banyak kabar miring yang memengaruhi massa, sementara suara rakyat menjadi elemen penting dalam perubahan. Daya nalar masyarakat akan sangat menentukan ke mana suara itu akan pergi. Bahkan jika mampu, rakyat sendiri yang mengemudikan kendaraan itu.

Sejak dahulu, jurnalisme sangat berpengaruh dalam pergerakan. Terlebih lagi di masa kini, di mana rakyat dapat dengan mudah mengakses bahkan menyebarkan opininya ke publik melalui media sosial. Pembentukan opini mereka sangat dipengaruhi pula oleh media massa yang mampu menggiring opini masyarakat.

Jika di masa lalu kendala dalam menyampaikan semangat revolusi adalah pemerintah kolonial, di masa kini sedikit berbeda. Seperti yang pernah disampaikan Bung Karno dalam pidatonya, bahwa lawan kita adalah bangsa kita sendiri, dan itulah yang terjadi sekarang.

Publik dicekoki dengan beragam informasi yang sering kali kontradiktif, akibat dari usaha menggiring opini publik demi kepentingan segelintir orang. Perdebatan yang timbul pun hanya membela kepentingan segelintir orang tadi, yang kemudian melahirkan perpecahan dan mengubur revolusi 45, menjadikannya sebatas formalitas semata.

Usaha untuk membangkitkan kesadarannya pun dipersulit oleh aparat bahkan rakyat sendiri. Misalnya lapak baca yang beberapa kali dibubarkan oleh aparat dan toko buku yang didatangi ormas kemarin. Tindakan mereka tidak lepas dari berita miring tentang isu kebangkitan PKI, yang juga tidak lepas dari kepentingan golongan tertentu.

Sungguh ironis melihat para elite memanfaatkan media massa untuk menggiring opini publik demi kekuasaan mereka, tanpa memedulikan kenyataan bahwa rakyat makin bodoh dan terpecah akibat ulah mereka.

Namun di sisi lain, usaha para pegiat literasi yang makin ditekan justru makin memopulerkan buku ke dalam dunia pemberitaan. Para kelompok yang berusaha memadamkan api mereka pun bagai senjata makan tuan, dimakan oleh kebodohan mereka sendiri.

Bangkitnya gerakan literasi ini juga mengingatkan saya dengan kesusastraan yang juga berperan besar dalam membangun kesadaran pada masa perjuangan kemerdekaan. Misalnya "Max Havelaar" karya Eduard Doues Dekker alias Multatuli yang juga berarti (aku sudah cukup menderita).

Max Havelaar hanyalah buku, sebuah kisah yang mewakili kekesalan penulis yang tak terbendung. Tapi siapa sangka kalau buku tersebut mampu menggetarkan kerajaan Belanda? Bukan hanya itu, respons dari kerajaan Belanda, walaupun kecil, ternyata merupakan awal dari perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Adalah politik etis, kebijakan yang memberi akses edukasi bagi pribumi, walaupun hanya bagi kaum ningrat, namun ini mampu melahirkan satu generasi yang melek literasi. 

Dengan pengetahuannya, generasi ini pun menyadari bahwa ada yang terjajah, dan ada yang dijajah. Berkat pengetahuannya pula, mereka mampu menemukan identitas mereka sebagai bangsa Indonesia dan menanam bibit pembebasan yang perlahan tumbuh dan pecah puluhan tahun kemudian.

Kemudian perjuangan pun diwarnai dengan kesusastraan melalui angkatan balai pustaka, pujangga baru, hingga angkatan 45, 66, dan angkatan reformasi.

Sejarah kita sempat gelap di era Orde Baru. Era yang melahirkan narasi sejarahnya sendiri, juga ikut melahirkan generasi dengan aneka pemahaman yang makin kontradiktif. 

Lembaga pendidikan era Orde Baru cenderung melahirkan generasi yang menjadikan Pancasila sebatas pajangan dan memandang revolusi 45 sebatas "Hari Kemerdekaan". Melahirkan generasi yang memandang pendidikan hanya sebatas syarat untuk mendapatkan pekerjaan yang layak, mengubur perjuangan panjang dan cita-cita revolusi 45.

Reformasi 98 merupakan awal dirajutnya benang yang tadinya putus. Jangan sampai hanya berakhir di 98, jangan biarkan benang-benang revolusi 45 putus akibat literasi yang rendah. Jika bangkitnya dunia pendidikan adalah awal dari perjuangan dahulu, maka bangkitnya kesadaran literasi adalah awal dari bangkitnya revolusi 45. 

Jadikanlah 17 Agustus besok sebagai pengingat bahwa revolusi belum selesai.