Instansi Pendidikan merupakan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, baik dari tingkat paling dasar atau pra-dasar hingga paling tinggi. Lembaga itu juga yang mengatur kebijakan tentang pendidikan baik dari pusat seperti KEMENDIKBUD hingga di daerah-daerah. 

Selain itu juga ada yang formal dan diakui negara/pemerintah karena ikut dalam aturan dan sesuai standarisasi atau lembaga informal seperti kursus-kursus, pelatihan, taman baca dan pondok pesantren serta TPQ.

Tiada dipungkiri bahwa setiap instansi memiliki kegiatan, perencanaan, keuangan dan staf atau siswa (peserta didikan dan santri), structural pengurus dan sebagainya, selain secara garis besar pasti dibalut dalam kerangka besar Visi dan Misi lembaga tersebut.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBO) visi dimaknai sebagai pandangan atau wawasan ke depan. Sedangkan misi adalah tugas yang dirasakan seseorang sebagai suatu kewaji ban untuk melakukannya. Sederhananya visi adalah pandangan (Vision) dan misi atau Mission adalah pelaksanaan dari suatu visi.

Biasanya perencanaan soal Visi Misi dibentuk dan dibuat atau disahkan itu beragam; ada yang 5 tahun sekali sejak pendirian atau organisasi terkadang setahun sekali. Perubahan kadang terjadi demi tercapainya atau penyesuaian dengan perkembangan zaman yang semakin maju.

Dalam kaitannya dengan sekolah visi biasanya dimaknai sebagai wawasan atau pandangan suatu sekolah ke depan berupa agenda dan program yang terstruktur. Visi bisa dipandang sebagai warna sekolah yang terlihat oleh masyarakat ke depan. Sedang misi biasanya tindakan-tindakan yang menjadi prinsip sekolah dalam mewujudkan suatu visi.

Sebagai contoh suatu sekolah memiliki visi menciptakan lingkungan yang agamis maka misi yang bisa diwujudkan adalah melaksanakan shalat berjamaah, membaca doa setiap awal belajar dan membiasakan salam setiap bertemu antar siswa, sesama guru atau guru dengan siswa. 

Bukan hanya soal pendidikan, boleh jadi sebuah sekolah memiliki cita-cita besar bagi murid-muridnya maupun orang-orang yang bergelut di sekolah tetapi maju di bidang selain pendidikan seperti skil-skil tambahan seperti kesehatan, lingkungan, sosial keagamaan dan  bahkan teknologi digital.

Namun, di sisi lain, terkadang ada para guru, siswa, bahkan kepala sekolah bisa saja tidak hafal atau bahkan tidak mengetahui visi dan misi sekolah, mereka lupa akan visi misi dengan kesibukan lain. 

Padahal warna dan gambaran sekolah yang bisa dipandang oleh para siswa atau orang tua murid selaku masyarakat yang ingin memasukkan anaknya di suatu sekolah bisa jadi atas dasar visi dan misi sekolah yang menarik dan relatif mampu membina anaknya menjadi lebih baik ke depan.

Bagaimana jadinya bila di lain fihak sekolah malah tidak benar-benar mewujudkan atau menjalankan organisiasi sekolah yang searah dengan visi misi sekolah.

Dampak buruk dari kurangnya sosialisasi “slogan” visi dan misi sekolah beberapa diantaranya adalah; pertama kepala sekolah akan gagap dalam melaksanakan tugasnya sebagai pimpinan sekolah kemana sekolah akan diarahkan ke depan.

Kedua guru juga akan kurang serius mengarahkan anak-anaknya dalam proses pembelajaran. Mereka akan cenderung monoton pada mata pelajaran yang mereka ampu.

Terakhir siswa pun demikian. Mereka (khususnya di tingkat SLTA) tidak akan menyadari bahwa sekolah mempunyai rencana besar atau Master Plan terhadap pengembangan diri mereka.

Oleh sebab itu, penting sekali untuk merevitalisasi visi misi sekolah melalui sosialisasi di awal masa orientasi peserta didik baru. Mengingatkan kembali kepada para guru di awal atau tengah tahun pelajaran, atau mungkin lebih dari itu. 

Dan seiring dengan perkembangan dan realita sosial kekinian, maka visi dan misi sekolah bukan-lah hal yang sakral yang tidak bisa diubah. Tetapi ia bisa direvisi demi kemajuan pendidikan di sekolah tersebut kearah yang lebih baik.

Lebih jauh, misi yang menjadi indikator pelaksanaan visi harus searah dengan program-program sekolah yang diramu dan dirancang sedemikian rupa dalam program kerja tahunan. 

Sehingga masyarakat mampu mengkontrol dan mengawasi sekaligus memberi kritikan maupun saran melalui majlis sekolah (biasanya diakomodir oleh pihak komite sekolah) jika program-program sekolah tidak searah dengan pendidikan secara umum atau tidak sesuai dengan visi sekolah tersebut secara khusus.

Harapannya adalah semoga  semua ini menjadi jalan terbaik atau golden bridge jika mengambil istilah Prof. Dedi Djubaedi dalam memulai atau merevisi kembali langkah kita dalam mencerdaskan generasi bangsa. Sebab dalam tonggak sebuah peradaban, ukuran atau barometer yang bisa dilihat dalam menentukan negara tersebut maju dan sejahtera adalah sisi pendidikannya.

Terakhir adalah nilai-nilai sinergitas semua lini pendidikan baik dari pusat dan daerah, mulai dari bawah dan paling bawah hingga tingkat luhur di perguruan Tinggi, serta kerjasama sosial masyarakat baik di formal dan informal. Jika sinergi tersebut bisa ditingkatkan level integral dan juga sisi moral integritasnya, maka jangan heran tujuan-tujuan yang ingin tercapai dan tercantum dalam Visi akan menjadi kenyataan yang mampu digapai.