Jika ada penemuan yang paling penting bagi umat manusia, kertas seharusnya berada di urutan pertama.

Sejak ditemukan Tsai Lun 2000 tahun silam hingga hari ini, kertas menjadi benda yang paling bertanggungjawab mengakselerasi tumbuh kembangnya peradaban manusia. Teori Newton, Postulat Einstin, rekaman berbagai peristiwa bersejarah, desain pesawat dan gedung raksasa, hingga catatan kitab suci, nukleus-nukleus penting peradaban mulanya adalah coretan di atas kertas.

Dalam perkembangannya kemudian kertas tidak sekedar sarana tulis-menulis atau dokumentasi. Kertas telah menjelma menjadi bagian keseharian hidup manusia. Dari benda sederhana seperti peralatan makan, kemasan, tisu pembersih, mainan, hiasan, sampai karya seni dan uang, kertas mudah ditemukan dalam aneka rupa pemanfaatannya. Pendek kata, kertas telah menjadi sinonim untuk kata peradaban itu sendiri.

Sebagai benda multiguna, kuantitas konsumsi kertas kian hari semakin meningkat, hingga dikhawatirkan mencapai taraf tidak terkendali. Kekhawatiran inilah yang menyebabkan gaung kampanye paperless society semakin nyaring terdengar.

Di satu sisi kampanye paperless society didasari oleh kesadaran lingkungan. Mengingat bahwa bahan baku utama kertas membutuhkan waktu regenerasi yang lama. Tetapi di sisi lain slogan paperless society seolah menegasikan ketergantungan manusia terhadap kertas. Bagai kacang yang lupa kulitnya, manusia menyalahkan kertas atas berbagai perilaku kehidupannya.

Kenyataannya, ada lebih banyak bahan yang lebih merugikan dibandingkan kertas telah digunakan manusia dalam kesehariannya. Menjadi sebuah ironi jika kampanye paperless society malahan mendorong peningkatan penggunaan bahan lain yang merugikan, seperti plastik misalnya.

Alih-alih menghasilkan solusi, kampanye paperless society justru mengalihkan fokus dari masalah lingkungan yang sebenarnya, yaitu bahan sisa aktivitas manusia yang sulit terurai secara alami. Sehingga menurut hemat penulis, dibandingkan paperless society, semestinya lebih penting menggaungkan kampanye plasticless society dan mempromosikan penggunaan bahan pengganti plastik. Uniknya, kertas termasuk salah satunya.

Bertolak dari pemahaman tersebut, maka pertanyaan yang mengemuka: “bagaimana melakukan redefinisi dan revitalisasi pemanfaatan kertas di masa depan?”

Sejatinya isu lingkungan yang muncul terkait kertas justru bukan karena kehadiran kertasnya sendiri. Bagaimana pun juga sudah 2 milenium manusia memanfaatkan kertas, lebih lama dari bahan apa pun, dan tidak menemui masalah berarti. So, paper is perfectly fine!

Permasalahan yang menjadi sorotan aktivis lingkungan terkait kertas terutama menyangkut sisi produksi. Ada dua isu yang menjadi sorotan.

Pertama, industri kertas dikeluhkan malas menanam pohon dan lebih suka memanfaatkan kayu yang berasal dari hutan alam sebagai bahan baku. Tentu saja jika industri kertas menggantungkan bahan bakunya dari hutan alam, seluas apa pun hutan alam tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan kayu untuk produksi kertas. 

Suatu ketika industri kertas akan kolaps karena tidak ada lagi pohon yang bisa dimanfaatkan. Tinggal pohon-pohon di hutan lindung dan cagar alam yang tersisa, apakah itu juga dipangkas untuk selembar kertas?

Perilaku tidak ramah lingkungan itu juga akan menyebabkan industri kertas menghadapi mengalami kerugian materil. Kertas Indonesia berresiko kehilangan pangsa pasar di luar negeri. Mengingat semakin ketatnya pembatasan perdagangan produk berbahan kertas, yang asal bahan bakunya diambil dari hutan alam.

Persoalan kedua adalah adanya oknum pelaku industri kertas yang membuang limbah sisa produksinya secara tidak bertanggungjawab. Selain merugikan dari sisi lingkungan, pencemaran di sekitar area produksi akan kontraproduktif karena menyebabkan konflik dengan masyarakat sekitar pabrik.

Tujuannya barangkali efisiensi biaya, karena membangun infrastruktur pengolahan limbah tidaklah murah. Tapi akibatnya industri kertas akan menghadapi permasalahan sosial dan pemulihan lingkungan yang memakan biaya tidak sedikit. Dalam jangka panjang ini juga akan mengancam keberlangsungan industri kertas sendiri.

Sehingga sebelum membahas bagaimana revitaliasi kertas dalam kehidupan, praktik industri yang merugikan lingkungan merupakan hal yang pertama-tama harus mendapat perhatian dan diselesaikan terlebih dahulu.

Sayangnya, justru solusi bagi persoalan lingkungan industri kertas tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak pihak yang perlu duduk bersama di satu meja, lalu mengambil langkah nyata untuk kebaikan semua pihak.

Selama ini tekanan persoalan lingkungan lebih terarah pada industri kertas. Persoalan yang menjadi fokus adalah tuntutan penindakan tegas kepada industri kertas yang dinilai nakal. Padahal permasalahan industri dan lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya dengan hukuman.

Jika kita perhatikan, saat ini kita belum melihat penghargaan yang layak untuk industri kertas yang mampu memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat. 

Penghargaan yang dimaksud bukan sekedar piagam atau piala yang diberikan setiap tahun, melainkan berupa bantuan, insentif, atau kemudahan yang diberikan guna membantu industri kertas dari sisi tata kelola bahan baku, proses produksi maupun marketing.

Idealnya, adanya penghargaan yang layak akan merangsang pelaku industri kertas untuk berlomba memberikan kontribusi bagi lingkungan. Keseimbangan antara hukuman yang tegas dan penghargaan tentunya akan menjadi solusi yang konstruktif. Karena bagaimanapun juga industri kertas adalah salah satu industri yang sangat dibutuhkan dan berjasa menggerakkan roda perekonomian.

Dalam melakukan revitalisasi kertas bagi kehidupan, perlu dipertimbangkan solusi-solusi progresif sebagai upaya mengurangi beban lingkungan. Kita ketahui selama ini produksi kertas terpaku pada penggunaan kayu sebagai bahan baku industri. 

Data Kementerian Perindustrian dan Perdagangan tahun 2013 menunjukkan hanya 0,0004% bubur kertas berasal dari bambu, yang menjadi urutan kedua bahan baku produksi kertas. Padahal secara praktis bahan baku kertas tidak hanya kayu dan bambu, bahan seperti tandan kosong sawit, merang, ampas tebu, tersedia melimpah dan dapat digunakan untuk membuat kertas.

Untuk itu pemerintah perlu mengembangkan penelitian dan mendorong industri kertas untuk memproduksi kertas dari bahan non kayu. Pengembangan tanaman produksi yang mudah dikembangkan sebagai tanaman sela bagi pohon utama untuk produksi kertas juga dapat menjadi solusi yang patut dipertimbangan.

Banyaknya pilihan bahan baku selain kayu akan memudahkan produksi kertas untuk memproduksi kertas yang spesifik sesuai produksi kertas. Tujuan lainnya adalah peningkatan produksi kertas dengan seminimal mungkin menggunakan kayu sebagai bahan baku untuk mengurangi tekanan terhadap lingkungan.

Hari ini kita mengetahui pemanfaata kertas sebagai sarana komunikasi atau dokumen tidak lagi menjadi kebutuhan utama dengan kehadiran internet dan dokumen digital. Kebutuhan kertas bergeser lebih banyak untuk pemakaian rumah tangga dan kemasan, dan konsumsinya diperkirakan akan terus meningkat. 

Sesuai pemanfaatannya tersebut kertas juga tidak lagi harus berwarna putih bersih atau bertekstur halus. Kertas dapat menggunakan warna dan tekstur alami sehingga menekan biaya produksi dan menghasilkan kertas yang lebih murah namun ramah lingkungan.

Ketika produksi kertas ramah lingkungan yang murah sudah membanjiri pasar, tidak ada lagi alasan untuk tidak mengalihkan pemanfaatan plastik kepada kertas. Karena realita saat ini menunjukkan pemanfaatan plastik lebih dikarenakan harganya yang murah dan kepraktisannya dibandingkan fungsinya. 

Industri maupun pribadi sebagian besar menggunakan plastik untuk penggunaan sekali pakai. Praktis dan murah, tetapi harga yang harus dibayar sangat mahal. Keberadaan plastik yang tidak terurai alami terbukti menyebabkan banyak bencana lingkungan.

Kita masih mengingat peristiwa 14 tahun lalu, 21 Februari 2005, ketika tempat pembuangan sampah (TPA) di Leuwigajah Cimahi longsor. Menelan 157 korban jiwa, karena terkubur di gunungan sampah plastik. Bahkan awal Mei 2019 ini penyelaman di Palung Mariana, 11 km di bawah permukaan laut, menemukan kantong plastik, yang keberadaannya mengganggu ekosistem dasar laut.

Penemuan plastik biodegradable, bahkan plastik tersebut dapat dimakan, masih belum menjadi solusi persoalan plastik. Utamanya karena terkendala investasi dan harga produk yang tidak terjangkau. Meskipun tidak bisa menggantikan seluruh fungsi plastik, kertas bisa mengambil alih peran plastik sebagai kemasan sekali pakai. 

Lalu jika digunakan sebagai kombinasi dengan plastik biodegradable, pada gilirannya dapat menjadi faktor penarik tumbuhnya industri plastik biodegradable di negara kita. Dan perlahan kita akan mampu menyingkirkan plastik konvensional.

Tantangan terbesarnya tinggal menjalankan produksi kertas yang murah dan ramah lingkungan dalam skala produksi massal. Itu tidak mudah. Karena biaya untuk kebutuhan riset dan investasi menghabiskan biaya yang besar, sementara industri tidak akan melakukan investasi untuk sesuatu yang bersifat coba-coba, atau belum terbukti keberhasilannya. 

Di sinilah pentingnya peran pemerintah dalam memberikan bantuan dari sisi regulasi, maupun proses di hulu hingga ke hilir, guna mendukung pengembangan industri kertas. Sekaligus meringankan investasi yang harus ditanggung pelaku industri kertas.

Uraian yang penulis kemukakan memang tidak sederhana, bahkan mungkin sangat mahal. Tetapi berapa pun harganya, itu jauh lebih murah daripada masa depan lingkungan dan anak cucu kita. Jika revitalisasi plastik tidak segera dilaksanakan hari ini, kapan lagi?