Digitalisasi hadir di saat yang tepat

Era digitalisasi disambut antusias, terutama karena ia adalah pintu gerbang bagi menguatnya kesadaraan akan kesetaraan dan pentingnya saling belajar dan bekerja sama. Seseorang dapat terhubung dengan siapa pun di belahan dunia mana pun untuk bersama melakukan praktik kolaborasi mewujudkan sebuah proyek, atau sekadar berbagi informasi.  

Digitalisasi menghadirkan ruang-ruang eksesif sekaligus inklusif. Di kanal-kanal YouTube, anak-anak dengan mudahnya dapat belajar bagaimana membuat nasi goreng, atau saling berbagi tutorial membuat adonan slime (adonan kenyal mainan anak-anak) atau berbagi strategi tertentu dalam permainan PUBG dan Mobile Legend. 

Digitalisasi dianggap hadir di saat yang tepat, kala dunia dilanda pandemi covid-19. Tak hanya distribusi informasi yang bisa berlangsung cepat, lebih dari itu, mekanisme kerja daring (work from home) bisa jadi pilihan alternatif untuk tetap produktif, saat harus taat social distancing. Dengan kondisi yang terbatas, pelajar dapat terus melanjutkan pembelajaran dari rumah dengan dukungan sejumlah platform aplikasi belajar.

Di tengah keterbatasan akibat pandemi, orang-orang tetap bisa saling mendukung dan berbagi kegembiraan melalui grup-grup chating. Siklus ekonomi memang secara makro mengalami pukulan hebat. Negara-negara maju seperti Singapura, Jerman, Korea Selatan dan Hongkong melaporkan resesi sebagai dampak pandemi (detik.com, 30/7/2020)

Pemerintah Indonesia saat ini sedang mengambil langkah taktis demi untuk terhindar dari jurang resesi, dengan mendorong pelaku usaha kecil melalui stimulus bantuan keuangan, juga peluncuran program prakerja. Di daerah, kita menyaksikan pengusaha kecil, terutama yang bergerak di bidang kuliner, tetap bertahan berkat dukungan platform kurir online.    

Otentitas dan pertukaran budaya 

Teknologi digital tak hanya membantu manusia untuk hidup lebih efisien dan efektif, yang juga tak kalah penting adalah menghubungkan lebih banyak manusia, sebuah peradaban yang terbuka. Kini, dengan dunia yang kian terbuka, membawa iklim pergaulan yang tak lagi terbatasi oleh batas teritori negara. 

Tatanan global demikian memungkinkan terjadinya pertukaran budaya yang lebih intens, peluang untuk terjalinnya kolaborasi kian besar. Meski demikian, tentu ada prasayarat yang harus dipenuhi, yakni kemampuan, pengetahuan yang luas dan karakter.

Karakter tumbuh dari otentitas sebagai perwujudan dari kearifan lokal, sesuatu yang diidentikan dengan kebudayaan lokal. Pembentukan karakkter tumbuh dari proses internalisasi terhadap nilai yang terkandung di dalam interaksi dan praktek keseharian.

Apa pentingnya karakter otentik dalam ranah global? Pada kenyataannya, kita menyaksikan interaksi yang terjadi lebih sering terjadi dalam situasi yang tak berimbang. Determinasi budaya populer telah jauh masuk ke dalam ruang-ruang privat, yang pada tingkatan tertentu berpotensi mengaburkan identitas budaya.

Ruang inklusif di sisi lain menghadirkan interaksi yang kian meluas, namun di sisi lain menghadirkan tantangan berupa ketimpangan budaya. Larut dalam budaya populer, berpotensi bagi individu untuk perlahan-lahan menanggalkan akar budayanya, yang akhirnya membuatnya kehilangan jati diri. 

Di atas layar gawai, melalui mekanisme kerja algoritma, anak-anak bisa menemukan apa saja, meniru siapa saja, atau bermimpi menjadi apapun. Di kalangan pelajar muncul kebiasaan-kebiasaan atau istilah-istilah baru, yang lahir dari keseringan menonton drama Korea, atau karena kecanduan main game.  

Digitalisasi telah menghadirkan laju perubahan berlangsung begitu cepat, dengan proses transformasi budaya kian kompleks. Pertukaran budaya yang dapat terjadi secara intens, namun jika tak disertai dengan karakter kuat, akan menimbulkan cultural lag (ketimpangan). Jika itu terjadi, kita akan segera menyaksikan kebudayaan yang otentik akan semakin terpinggirkan, atau digiring ke ruang-ruang distorsif.

Pertanyaan kritis kita adalah: Bagaimana merespon perubahan cepat ini? Bagaimana menyiapkan diri agar tidak kehilangan identitas? Bagaimana melakukan revitalisasi, guna menemukan kembali otentitas budaya, tanpa harus menarik diri dari interaksi global?

Pertanyaan-pertanyaan di atas penting diajukan, tidak hanya karena kita butuh memahami posisi budaya kita dalam arus global, hal penting lainnya adalah harus segera diupayakan rekonstruksi epistemik serta dimensi aksional terkait eksistensi budaya kita.

Kita percaya nilai-nilai warisan budaya bersifat universal. Ketika terjadi kesenjangan dengan apa yang terjadi hari ini karena massifnya desakan budaya populer digital, tentu dibutuhkan upaya serius untuk melakukan reinventarisasi untuk menjaga otentitas. Selanjutnya dilakukan revitalisasi tentang bagaimana warisan budaya terinternalisasi untuk menguatkan karakter, dan akhirnya secara kontekstual mampu menjawab tantangan dalam arus global.  

Revitalisasi pangadereng

Kemudahan dan keterbukaan yang menyertai gelombang digitalisasi kenyataannya memunculkan budaya massa-populer, yang pada kondisi tertentu akan mengalami benturan dengan budaya lokal. Pada tahap ini, tentu saja dibutuhkan kekuatan, sebuah penegasan terhadapan identitas. Dibutuhkan kontekstualitas, untuk mendekatkan perspektif generasi kini dengan apa yang bisa mereka pahami tentang budaya. 

Pemahaman budaya salah satunya bisa dibaca dalam bentuk ekspresi bahasa dan perilaku sehari-hari. Karena itu, sejauhmana sebuah masyarakat masih merujuk petuah leluhur (Bugis: Pappaseng) ketika terlibat dalam interaksi atau pada momen menghadapi persoalan, menunjukkan seberapa dalam budaya itu diserap dan diartikulasikan.  

Dibutuhkan tidak sekadar mengkampanyekan perlunya kembali menemukan jati diri, melalui pelestarian budaya, baik sebagai bangsa, atau entitas dengan otentitas budaya masing-masing. Bagaimana upaya menemukan poin untuk menggagas pentingnya revitalisasi budaya pangadereng sehingga, generasi kita memiliki karakter kuat untuk dapat terlibat dalam kompetisi global, tanpa harus kehilangan identitas. 

Karena itu, urgensi dari revitalisasi pangadereng, sangat ditentukan oleh sejauhmana generasi kini mampu memahami unsur-unsur yang dikandungnyaselaku akar budaya, serta bagaimana mengaktualkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Unsur-unsur Pangadereng

Pangadereng adalah khasanah budaya yang merupakan konsep tatanan dan pola interaksi masyarakat Bugis. Pangadereng merupakan produk norma masyarakat Bugis yang di dalamnya berisi unsur-unsur yang keseluruhan mengatur pola perilaku, bahasa, aturan, interaksi dan tatanan sosial, dan aspek religius. 

Unsur-unsur Pangadereng dibangun dari lima unsur yakni Ade, Bicara, Rapang, Wari, dan Sara’. Kelima unsur tersebut memiliki penjabaran yang berbeda namun saling terkait dan merupakan sebuah kesatuan terintegrasi.  

Ade'Aturan adat yang mengikat atau tata tertib yang berlaku di tengah masyarakat Bugis. Misalnya: Larangan mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya; Larangan mengatakan sesuatu yang tidak benar atau tidak sesuai dengan adat;  

Bicara, adalah aspek hukum atau peradilan. Berisi penjelasan hukuman atau sanksi bagi yang melanggar. Misalnya: Jika seseorang berbuat salah dan merugikan masyarakat umum, dia akan dikenai sanksi dipoppangi tana (dikucilkan atau diusir dari kampung).

Rapang, adalah pesan atau petuah leluhur, biasanya berupa perumpamaan atau perbandingan. Rapang seringkali hadir dalam bentuk bahasa yang halus atau kalimat-kalimat puitis, seperti pantun. Misalnya: Lele bulu tellele abiasang, artinya: perubahan hanya bisa diwujudkan dengan kebiasaan; Dua kuala sappo, unganna panasae, belona kanukue, maknanya: saya memegang dua prinsip, yakni kejujuran (lempu) dan suci (paccing)

Wari', adalah penataan dan pola hubungan-hubungan dalam kehidupan sosial. Misalnya: Mengatakan tabe dan menurunkan tangan kanan saat melintas/berjalan di hadapan orang lain. Menghormati yang tua menyayangi yang muda (Memanggil puang ke orang yang dituakan, memanggil nak kepada atau anri kepada yang lebih muda)

5. Sara' (syariat), adalah pembauran (akulturasi) budaya dengan syariat agama (islam). Misalnya: Dalam upacara perkawinan, budaya mengatur tentang uang panaik, sementara syariat mengatur tentang syarat sah pernikahan (wali, mas kawin, ijab kabul). Kewajiban melaksanakan syariat agama Islam: puasa, zakat, dll, inklud di dalam adat dan tatanan hidup masyarakat Bugis.

Revitalisasi untuk penguatan karakter

Tulisan ini mencoba mempelajari gejala terjadinya pergeseran dalam hal penafsiran simbol-simbol, ekspresi bahasa maupun pelaksanaan upacara-upacara adat, dalam kaitannya dengan pemaknaan Pangadereng

Ketika pemahaman pangadereng berhenti pada simbol dan ritual, dalam pergaulan global ia bisa menghadirkan kesenjangan, sehingga ekspresi budaya tak lagi otentik. Karenanya, revitalisasi ini dimulai dengan kontekstualitas, terkait bagaimana unsur-unsur budaya dalam pangadereng mampu beradaptasi, lebih jauh lagi mampu bertransformasi dalam tatanan global.

Bagaimana wujud revitalisasi pangadereng?

Tanpa revitalisasi makna dan otentitas budaya, maka arus budaya yang kosmopolit, segera akan menghadirkan tendensi budaya yang determinan. Revitalisasi budaya warisan leluhur dalam hal ini Pangadereng seharusnya memiliki kemampuan untuk tetap eksis, dengan jalan mendorong lahirnya dialog-dialog yang konstruktif dengan produk-produk budaya digital yang kian progresif dan massif. 

Karenanya, kita perlu menemukan pendekatan yang efektif dalam mengawal proses transformasi sosial tanpa kehilangan otentitas kultural berupa nilai-nilai yang terkandung dalam konsep pangadereng. Revitalisasi pangadereng bisa dimulai dengan mengajak seluruh komponen untuk bersama mewujudkan beberapa langkah di bawah ini: 

1) Melakukan inventarisasi (perekaman) dalam bentuk tulisan maupun audiovisual terkait unsur-unsur Pangadereng. Riset dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi. Selanjutnya melakukan penyusunan berupa rekaman tertulis maupun virtual memudahkan untuk dilakukan konfirmasi, yang memungkinkan proses transformasi budaya bisa berjalan lebih baik dan terarah.

2) Revitalisasi makna dan kontekstualitas unsur-unsur Pangadereng, dibutuhkan untuk membangkitkan kembali nilai-nilai budaya terutama untuk generasi milenial di tengah pergaulan global. Sementara kontekstualitas adalah bentuk tafsir budaya untuk menghindari reduksi dan pemaknaan yang distorsif. Dibutuhkan kajian mendalam setiap unsur pangadereng yang dapat dirasionalisasi sebagai produk akal.  

3) Penguatan kebudayaan Indonesia harus dimulai dengan mendukung tumbuhnya ekosistem bagi perkembangan kebudayaan lokal. Misalnya dengan mempopulerkan bahasa lokal di rumah juga di lingkungan sekolah.

4) Mengoptimalkan tatakelola kelembagaan bidang kebudayaan. Pendekatan struktural diharapkan dapat menguatkan citra local genius, yang penting bagi penguatan identitas budaya. Dalam tataran praktis, perlu inisiasi untuk penyusunan Rancangan Peraturan Daerah, yang bisa dimulai dengan riset dan policy paper.  

5) Menyusun desain konstruk kebijakan budaya lokal, yang memungkinkan keterlibatan masyarakat dalam hal pemajuan kebudayaan. Keterlibatan masyarakat dalam proses transformasi budaya, adalah hal yang terpisahkan dari upaya menjaga otentitas. Konstruk kebijakan diwujudkan melalui penyesuaian muatan kurikulum lokal di setiap jenjang sekolah.

Penutup

Demi menjaga eksistensi dan otentitas, budaya tidak boleh dilihat hanya sebagai produk warisan leluhur. Budaya harus terus menerus dibedah, dikaji, dipelajari dengan sungguh-sungguh, sehingga proses transformasi antar generasi tidak melahirkan cultural lag. 

Masyarakat umumnya, dan pelajar khususnya, perlu memahami bagaimana mereka mengartikan sekaligus mengaktualkan unsur-unsur pangadereng dalam kehidupan sehari-hari. Hal penting lainnya, adalah bagaimana mereka mengidentikkan diri sebagai bagian dari kebudayaan Bugis di tengah pergaulan global.   

Kita menyadari bahwa gelombang digitalisasi adalah ruang yang terbuka, yang menghubungkan manusia-manusia di dalam rimba dunia. Agar tidak tersesat dalam arus digital itu, maka kita butuh pijakan kuat, sebuah kompas yang akan menjaga agar tetap fokus. Pangadereng adalah adat istiadat dan tradisi, ia adalah bagian dari identitas, yang membantu kita untuk tidak tersesat dalam dunia global.