Setiap negara memang memiliki ideologinya masing-masing. Ideologi tersebut cenderung berawal dari idealisme yang diembuskan oleh seseorang. Secara definisi, ideologi adalah kumpulan ide atau gagasan, yang digabungkan sebagai cara memandang segala sesuatu secara umum, sedangkan idealisme adalah salah satu aliran filsafat yang memandang “mental ideasional sebagai hakikat realitas”.

Pada dasarnya, kita terkadang merasa bingung dalam memilih naungan maupun pijakan untuk diri? Dan mungkin saja pijakan terbaik adalah dengan hidup tanpa naungan negara, serta menghancurkan sekat-sekat hirarki yang membatasi.

Ini adalah sebuah konsepsi tanpa hierarki, dan acap kali dilabeli dengan nama Anarkisme. Akan tetapi, mendengar kata Anarkisme saja, sepertinya sudah banyak orang yang merasa gelisah dan cemas. Lalu, terbayang suatu kelompok manusia beringas yang siap menebarkan keonaran, kekacauan, dan malapetaka.

Meskipun pada umumnya orang hanya secara intuitif, tanpa menggali lebih jauh secara saksama, tentang apa yang disebut sebagai pandangan anarkis tersebut. Namun, istilah anarki sendiri sudah terlanjur menimbulkan kemarahan dan terlanjur secara luas disimpulkan, bahwa anarkisme adalah sebagai suatu paham yang menakutkan karena jahat. Orang pun, tanpa berpikir panjang, percaya bahwa anarkisme adalah negatif dan berbahaya, titik.

Panjang kata, dalam memandang anarkisme, tidak hanya aparatus negara, bahkan masyarakat akademik juga bersepakat bahwa anarkisme adalah musuh umat manusia. Dengan demikian, keyakinan yang mendominasi pemikiran masyarakat luas adalah bahwa anarkisme tidak lebih dari penyakit sosial. Serta bertentangan dengan segala norma sosial yang baik, dan pantaslah jika anarkisme dianggap musuh masyarakat. 

Oleh karena itu, ada anggapan wajar untuk memberantas anarkisme sampai ke akar-akarnya. Anjuran untuk senantiasa waspada terhadap segala bentuk anarki saat ini hampir menjadi sebuah kesepakatan sosial. Singkatnya, anarkisme perlu diamputasi atau dilenyapkan, untuk selamanya.

Lantas, mengapa Anarkisme menjadi paham yang sangat ditakuti, sehingga perlu diberantas habis? Jangan-jangan letak persoalannya hanya karena kita tidak paham betul, apa yang sebenarnya menjadi cita-cita anarkisme. Atas alasan itu semua, maka perlu adanya forum kajian untuk merenungkan dan mempertimbangkan anarkisme. 

Sehingga akan melahirkan sikap kritis masyarakat, sebagai alternatif dari sikap apriorimenerima, maupun apriori menolak, ataupun membenci secara membabi buta, dan sikap secara taklid buta untuk menerima atau menolak tanpa suatu kesadaran, mengapa dan untuk apa.

Oleh sebab itu, lahirnya sikap dan kesadaran kritis yang didorong oleh suatu keterbukaan dalam dialog kritis adalah sesuatu yang yang harus difasilitasi, bukan? Lantas, apa sebenarnya dan mengapa anarkisme begitu kontroversial?

Sejatinya, pandangan filosofis dan pemikiran anarkis itu menyuarakan satu keyakinan, bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang secara alamiah mampu hidup secara harmoni dan bebas tanpa intervensi kekuasaan siapapun, maupun dominasi dari pihak manapun. 

Lalu, dari mana datangnya persepsi bahwa anarkisme sama dengan kehancuran, kekacauan, dan keberantakan?

Padahal sangat jelas dari pengertian di atas, sesungguhnya bahwa anarkisme sama sekali tidak identik dengan keyakinan para pecinta kehancuran. Bahkan tidak ada indikasi, bahwa anarkisme serta-merta merupakan cita-cita yang menjurus ke arah kekacauan, kehancuran dan keberantakan. 

Namun, yang jelas memang anarkisme merupakan suatu pemikiran utopis tentang keinginan sebuah orde atau tatanan yang bersifat spontan. Mereka umumnya menolak segala pranata sosial serta prinsip otoritas politik, dan pada saat yang sama “kaum anarko” sangat percaya bahwa keteraturan sosial, niscaya akan terwujud secara alamiah tanpa harus ada otoritas politik.

Secara sepintas dapat dilihat, bahwa musuh gerakan anarki adalah segala bentuk otoritas, maupun segala bentuk simbol otoritas, dan bagi kaum anarkis sangat jelas bahwa otoritas absolut adalah otoritas yang dimiliki oleh negara-negara modern. 

Itulah sebabnya bagi kaum anarkis, negara dipandang me-monopoli otoritas kekuasaan dan itu perlu dibatasi. Misalnya seperti kekuasaan teritorial dan kekuasaan yurisdiksi atas rakyat, termasuk kekuasaan menguasai kekayaan sumber daya di dalam wilayah yang negara kuasai.

Kekuasaan negara juga muncul dalam bentuk pemanfaatan sistem hukum positif (pidana, perdata, dan lain-lain) yang eksistensinya serta merta menundukkan dan menyingkirkan semua bentuk hukum yang dianggap negatif, seperti hukum adat dan banyak hukum lainnya. 

Dan hasilnya adalah ketidakadilan, dominasi lahan, kriminalisasi, konflik agraria, dan lain sebagainya. Akhirnya, gagasan bangsa sebagai suatu bentuk puncak, dari politisasi masyarakat juga menghancurkan segala bentuk kelompok-kelompok masyarakat. 

Semua otoritas tersebut dipelihara melalui monopoli penguasaan alat-alat pertahanan dan keamanan, bahkan negara memonopoli cara untuk menundukkan rakyat.

Sebaliknya, anarkisme memang mengidamkan suatu visi sosial tentang masyarakat alami, yakni suatu masyarakat swakelola yang mandiri dari para individual yang secara swadaya membentuknya. Anarkisme bahkan menjadi sikap politik yang menyatakan, bahwa pemerintahan selain tidak perlu juga destruktif

Ini memang sesuai dengan makna harfiah anarki, yang secara etimologi asal kata-nya memang berakar dari Bahasa Yunani, artinya tanpa aturan atau tanpa hirarki dan memang dalam perkembangannya telah digunakan. Namun apa sebenarnya pandangan, visi dan pendirian filosofis dari kaum anarkis?

Anarkisme mengambil berbagai bentuk dan spektrum, yakni dari anarkisme aliran kiri dan ekstrim kiri, maupun anarkisme aliran kanan, bahkan sampai anarkisme ekstrim kanan yang berwatak individualistik. Anarkisme memang kelihatannya berawal dari mimpi di siang bolong, bernafas kebebasan individual yang liberal, dan tentu saja dapat kita tebak bahwa lokasi konflik pahamnya justru pada titik yang terletak antara negara dan masyarakat.

Meskipun terdapat berbagai pendirian yang berbeda-beda, terkait lokasi konflik diantara negara dan masyarakat tersebut. Namun, pendirian-pendirian kaum anarki secara sederhana dapat dikategorikan kedalam “Anarki-Individualistik” dan “Anarki-Sosialistik”

Anarki-individualistik berangkat dari cita-cita kebebasan individual, serta berpangkal juga dari kedaulatan individual atas kepemilikan harta dan kekayaan serta kepemilikan privat. Dengan demikian arah anarki individualis ini, adalah suatu bentuk dari “anarki-kapitalisme” atau “anarki-sayap kanan”.

Sementara, “anarki- sayap kiri” yang berwatak sosialistik justru berangkat dari penolakan kekayaan pribadi dan negara, yang menurut mereka sebagai sumber penyebab dari ketidakadilan sosial. Golongan “anarki-sosialistik” ini justru berpendirian, perlunya pembatasan kekuasaan dan keperkasaan negara atas individu dalam kelompok-kelompok masyarakat. 

Pendek kata, paham ini adalah per-kawinan antara paham bercorak liberalistik dengan yang berhaluan sosialistik. Itu menjadi sebuah alasan, mengapa mereka juga lazim disebut sebagai “Sosialisme-Libertarian” dikenal juga dengan nama “Social-Liberalism”.

Kalau kita telaah perkembangan pemikiran dan gerakan-nya, anarkisme memang sudah lama hadir diantara kita, serta terus berkembang hingga saat ini dengan nama, gaya dan bentuk yang berbeda-beda. Anarkisme pada dasarnya adalah suatu paham yang bertujuan untuk memusnahkan otoritas dan segala bentuk hirarki didalamnya. 

Anarkisme adalah anak pemikiran dari seorang Bapak Anarkisme, yang bernama lengkap Mikhail Alexandrovich Bakunin. Beliau adalah tokoh politik Rusia, dan diakui oleh dunia sebagai pemikir anarkis terbaik. Bahkan banyak dari kaum anarkis percaya bahwa, dalam darah Bakunin mengalir energi revolusi yang selalu menjadi pembakar semangat perjuangan mereka.

Berbicara tentang paham anarkisme, tentu kita tidak dapat melupakan begitu saja tokoh anarkis lain yaitu Pierre-Joseph Proudhon, karena Bakunin merupakan penganut ajaran Proudhon yang pada dasarnya mengadopsi gagasan koperasi sosialis

Proudhon melihat kekuasaan negara dan kekuasaan modal adalah sinonim. Sehingga mustahil menurut Proudhon, jika menggunakan negara dengan tujuan untuk memperjuangan kaum proletar

Sedangkan, Mikhail Bakunin membawa gagasan tersebut ke level yang lebih tinggi, karena menempuh jalan pengambil-alihan secara revolusioner dan kekerasan untuk membangun kolektivisme. Bahkan dalam taraf yang lebih ekstrim, Bakunin selalu bermimpi untuk memusnahkan negara.

Tokoh anarkis lain ialah Peter Kropotkin, yang mana beliau adalah salah seorang pengikutnya Bakunin. Namun, ia melanjutkan gagasan Bakunin secara lebih komunistik, yakni dengan menganjurkan gagasan bahwa segala sesuatu milik setiap orang, dan pembagiannya didasarkan pada kebutuhan tertentu masing-masing. Perkembangan praktik anarkisme terus berlanjut, pun terus bertambah juga para penentang dan penolak paham anarkisme.

Di satu sisi, para pendukung anarkisme serta sebagian besar buruh mulai mengadopsinya, kemudian melahirkan suatu sempalan baru yang dikenal dengan nama “Anarko-Sindikalisme” atau “Revolutionary-Syndicalism”.

Sempalan itu memaparkan, bahwa fungsi serikat buruh secara tradisional biasanya hanya memperjuangkan kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja yang dianggap sudah tidak layak lagi. Menurut kaum sindikalis, serikat buruh harus menjadi organisasi militan untuk sekaligus menghancurkan kapitalisme dan negara. 

Sederhananya, buruh harus mengambil alih pabrik-pabrik dan menguasainya. Dengan demikian, serikat buruh juga dituntut untuk mampu menjadi pengelola manajemen yang kompeten pada saat pasca-revolusi. Lebih lanjut, bagi mereka serikat buruh pada dasarnya berfungsi sebagai “badan perlawanan”.

Sehingga, pada era pasca-revolusi serikat buruh harus juga berfungsi dalam administrasi terkait manajemen untuk mengelola industri. Untuk menjaga stamina militansi, juga merawat suasana perlawanan secara terus menerus. Kaum anarkis-sindikalis di masa lalu sangat percaya, bahwa suatu aksi perlawanan yang masif dan terus menerus, pasti mampu melumpuhkan negara dan bahkan sistem kapitalisme yang tiran.

Akhirnya, kita dapat memahami bahwasanya paham Anarkisme tidak se-sederhana itu. Tidak sebatas, se-sempit, se-negatif itu, seperti yang dipersepsikan oleh banyak orang yang tidak mendalaminya secara elaboratif. Karena pada hakikatnya, anarkisme juga memiliki anatomi dan bentuk gerakan yang bermacam-macam. 

Sehingga, menganggap tunggal anarkisme adalah suatu kebodohan yang nyata, bahkan dapat memunculkan suatu kesalah-pahaman yang tidak perlu. Karena, memang paham anarkisme dalam perkembangannya, pernah menjadi pendorong perubahan sosial menuju suatu masyarakat yang bebas dari otoritarianisme, serta membawa pada suatu tatanan masyarakat egalitertanpa dominasi apapun, maupun dari siapapun. 

Secara kesejarahan, beberapa karya seorang anarkis bahkan memberi inspirasi bagi berbagai upaya pembaharuan pemikiran, dekonstruksi akal sehat, realisasi kesejahteraan buruh, bahkan metodologi pendidikan. Terlebih-lagi, sudah lama masyarakat luas menjadi semakin manusiawi dan beradab, justru karena inspirasi dari para pemikir anarkis.