Di mana tempat paling mudah mendapat sumber cerita untuk diangkat jadi film layar lebar atau serial untuk tayang di layanan streaming OTT (over the top)? Laman dan aplikasi Wattpad, tempat mengunggah dan membaca novel digital, kini jadi favorit. “Friendshit” yang tayang di Genflix semula novel bersambung di Wattpad.

Di tengah alam ketidakpastian, Wattpad atau aplikasi sejenis memberi sedikit kepastian. Bagi penerbit buku, misalnya, novel digital yang dibaca jutaan kali jadi petunjuk kalau dicetak akan ramai dibeli orang. Bagi produser, sineas maupun penyedia OTT, mengadaptasi novel Wattpad yang laris jadi cara instan meraup penonton.

Wattpad menyediakan angka pembaca item novel atau cerita yang diunggah. “Friendshit” yang ditulis seseorang dengan nama akun QueenNakey misalnya, telah dibaca 51,2 juta kali. Dengan berasumsi 10 persen pembaca Wattpad-nya nonton juga versi serialnya akan didapat angka 5,12 juta. Bila 10 persen dirasa terlalu optimistis, lima persennya berarti sekitar 2,5 juta pembaca. 

Kebanyakan novel Wattpad yang laris dibaca berjenis teenlit atawa bacaan untuk remaja. Lebih khusus lagi teenlit tersebut tentang kisah cinta remaja usia sekolah, entah SMA atau masa kuliah. Tidak terkecuali “Friendshit”.

Mereka yang berusia 15 hingga 25 tahun saat ini nyaris tak membaca media cetak, buku fisik maupun TV nasional gratis. Untuk mendapatkan informasi dan hiburan, mereka mengandalkan media online, media sosial, situs berbagi video, serta kini layanan video streaming OTT yang kian terjangkau, malah ada yang gratis tanpa berlangganan.

Pasar ini yang ingin disasar pengelola OTT.

***

Data pembaca di Wattpad sejatinya hanya pembuka jalan, semacam modal dasar untuk mengukur berapa kira-kira penonton serialnya kelak. Namun, hasil akhirnya tetaplah produk yang sudah selesai dibuat.

Produser sekaligus sutradara Ichwan Persada membagi cerita “Friendshit” ke dalam season atau musim tayang. Season pertama berjumlah enam episode dengan durasi masing-masing sekitar 10-12 menit. Bila dijumlahkan, total durasi satu season “Friendshit” yaitu 60-72 menit atau dua pertiga dari film panjang berdurasi 1,5 jam.

“Friendshit” bercerita tentang dua remaja Arlan dan Kana. Di episode pertama kita bertemu Arlan kecil yang baru saja kehilangan orangtuanya. Lalu datang Kana kecil menghiburnya. Dari situ, persahabatan dua insan dimulai.

Hingga kuliah Arlan (Ian Meyer) dan Kana (Sonya Soraya) tak terpisahkan. Kana digambarkan sangat bergantung pada Arlan. Di lain pihak, Arlan juga begitu peduli pada Kana. Melihat Kana seolah tak bisa hidup tanpa bantuan Arlan, orangtua Kana sampai meminta Arlan menikahi putrinya, tak peduli Arlan belum selesai kuliah, tak punya pekerjaan, dan masih tinggal bersama neneknya.  

Sukar dipercaya ceritanya? Memang. Tapi nyatanya cerita itu dibaca jutaan kali. Hal itu sudah menjadi justifikasi untuk mengadaptasinya ke medium lain: serial untuk tayang di layanan streaming.

Di episode pertengahan kita baru dikenalkan pada konflik utamanya. Arlan punya pacar. Sedang Kana, yang trauma pada lelaki selain Arlan, menutup pintu hatinya. Ia tak cemburu Arlan punya pacar. Ia malah meminta Arlan mengadopsinya kelak.

Meski sudah punya Selly yang jelita, Arlan tak bisa mengabaikan Kana. Ketika Kana sakit, ia lebih memilih merawat Kana daripada jalan bareng pacar. Belakangan, Arlan akhirnya memutuskan hubungan kasih dengan Selly.

Season pertama berakhir dengan kemunculan seorang pemuda kaya mendekati Kana. Arlan kelihatan cemburu pada pemuda itu.

***

Andai kisah yang sulit dipercaya ini digarap dengan baik, mungkin terasa “believable” bagi penonton, terutama saya. Namun, Ichwan tampak kurang leluasa menggarap miniserinya ini. Beda dengan “Asya Story” yang ia buat dengan format serupa, miniseri 9-10 menit per episode. Setiap episode “Asya Story” enak diikuti karena akhir yang bikin penasaran dan konflik yang kian memuncak di setiap episodenya.       

“Friendshit” tak punya itu. Cerita dibangun bata demi bata namun tak membuat saya bersimpati pada tokohnya. Dua bintang anyar, Ian Meyer dan Sonya Soraya tidak cukup memperlihatkan chemistry sebagai “kakak-beradik” berbeda darah. Karakter Arlan hanya berfungsi sebagai pemberi nasihat, sedang Kana difungsikan semata sebagai cewek gemuk, pemalas, main HP setiap waktu, dan selalu tampak lesu, mengantuk dan kurang bergairah.

Di versi novelnya, Kana dikatakan sebagai penulis novel. Namun, di serialnya tak digambarkan Kana tengah menulis novel. Hanya sekali kita melihat Kana mentraktir Arlan usai honor penjualannya novelnya cair. Di sepanjang cerita, kita lebih sering melihat Kana yang pasif.

Apa memang demikian tuntutan cerita aslinya? Mungkin. Yang jelas, pilihan kreatif Ichwan atas karakter Kana rasanya kurang tepat. Di mata penganjur feminisme, misalnya, Kana yang perempuan selalu menggantungkan hidupnya pada Arlan yang laki-laki, termasuk urusan sepela macam membereskan pakaian dalam, bisa dibaca sebagai penyerahan diri perempuan pada kesentosaan budaya patriarki.

Saya berharap Ichwan mengoreksi hal itu di season kedua. Tidak mengapa tak terlalu setia pada novelnya, atau bila tidak pun, kemandirian Kana sebagai penulis, misalnya, kian ditonjolkan.

Buat saya, “Friendshit” sebetulnya sudah cacat sejak dalam pikiran ketika masih berwujud cerita di Wattpad. Melihat kenyataan bahwa cerita yang melanggengkan patriarki itu (yakni, seolah perempuan tak berdaya bila tak ada lelaki yang mengurusnnya) dibaca puluhan juta orang bikin hati saya miris.

Mengangkatnya ke dalam bentuk serial tanpa mengoreksi hal tersebut membuat saya sedikit kecewa sebagai penonton.

Saya percaya Ichwan Persada tak punya niat jahat melanggengkan budaya patriarki dengan mengangkat kisah “Friendshit” ke layar OTT. Ia justru melanggar pakem dengan mengasting perempuan dengan potongan biasa saja, tidak langsing dan tidak tinggi semampai bak model sebagai tokoh utama.

Oleh karena itu saya percaya “Friendshit” season dua bakal lebih asyik.  

Episode 1-6 “Friendshit” season pertama bisa disaksikan di Genflix. **