1 tahun lalu · 192 view · 6 menit baca · Pendidikan 85466.jpg
http://catatansunyil.blogspot.co.id

Reuni dan Remah-Remah Kenangan
Mengenang 3 Tahun di MAN Rengel

            Sudah hampir tujuh tahun, Aku menanggalkan seragam putih abu-abu. Enam tahun sudah, ku lewati perjalanan ini di Jakarta. Entah sampai kapan, umurku bertahan. Dahulu, dulu sekali, Aku tidak pernah menyangka akan hidup di Ibukota. Menghirup polusinya, mengakrabi kemacetannya, memeluk kesemrawutannya. Berusaha mencintainya meski terkadang ia menyakiti.

            Tiap orang, pernah mengenal oranglain. Ada kalanya, pertumbuhan seseorang, ditemani sekelompok oranglain dalam proses yang relatif sama. Tiga tahun masa SMA, bukan waktu yang lama. Terlebih, bila dijalani dengan suasana yang tidak mendukung bakat seorang anak manusia.

            Tiap tahun, Aku pulang. Aku adalah penyu. Sejauh apapun lautan kehidupan yang ku arungi, Aku tetap memiliki ikatan sejarah pada tanah kelahiranku. Akar budayaku, ada di bumi Ronggolawe. Kota wali, yang katanya lumbung para santri. Di Kabupaten inilah, Aku tumbuh menjadi anak manusia yang dikelilingi banyak artefak berharga yang belum tergali.

            Pekuwon, MAN RENGEL, Beron, Tuban, semua menyusun alam ingatan yang masih rekat melekat, entah kemanapun aku pergi dan berlari. Dulu, Aku pernah bersatu dalam nama yang sama. Tiga tahun lamanya, sangat sedikit apa yang ku peroleh, selain sisa-sisa kenangan yang Aku coba ingat-ingat kembali.

            Cinta, cambukan, persahabatan, pertengkaran, kejar-kejaran, persaingan, semua hanya tinggal remah-remah kenangan. Saat tengah malam, sebelum terlelap, sering Aku mencoba untuk menggali. Mencoba merajut ingatan, memilah mana kenangan yang indah, dan mana yang menyakitkan.

            Dahulu, Aku berlagak seolah Aku stasiun tujuan akhir. Dan teman-teman, yang tiap pagi menyapa, menemani belajar, dihukum membaca Jus Amma, berlari bareng ketika dikejar Satpam Sekolah, bersama-sama menggoda gadis-gadis yang lewat depan kelas, hingga berbuat ulah dengan konyolnya. Mereka adalah kereta yang ku pikir bakal menambatkan diri bersamaku, menemaniku selama sepanjang Aku masih ada.

            Oh tidak. Ternyata Aku salah. Aku hanyalah stasiun persinggahan. Yang dikunjungi hanya sekilas. Kereta yang jelas-jelas bakal segera berlalu, tapi Aku malah berharap ia menetap selamanya. Aku naif, Pengecut dan takut kehilangan kebersamaan.

            Ada banyak orang mencoba, mengikat kembali ikatan-ikatan yang terlanjur terserak. Beberapa antusias menyelenggarakan reuni, mencoba menggandeng kembali tangan-tangan lepas, menyatukan keteruraian, menjadi kesatuan yang coba dibangun laiknya tujuh tahun silam. Tapi Aku, masih tidak yakin. Aku tidak yakin, hati yang terlanjur ditelan kilasan waktu, dapat kembali polos lucu seperti dulu.

            Bukan hanya waktu yang kejam. Tapi, ingatan pun sama jahatnya dengan keterlemparan anak manusia dari rumahnya. Siapa yang menyangka, Aku, Si bocah desa, miskin dan tiada sisi prestasinya ini, masih harus menanggung kutukan waktu. Waktu, membuatku terpelanting dan terasing dari akar sejarahku.

            Seiring berjalannya waktu, satu per satu, orang yang ku kenal mati. Beberapa sangat ku kenal, beberapa hanya ku ketahui bahwa dia teman satu sekolah. Beberapa sibuk membangun rumah tangga, beberapa melanglangbuana mengejar cita-cita. Beberapa hancur dalam permainan yang dia mainkan secara buruk. Beberapa tersungkur dan tertelungkup dihantam dosa masa lalu.

            Ada yang sudah lebih dulu kembali. Tapi, masih banyak yang terus mencoba hidup, bertahan, maju, berlari dan melanjutkan perjalanan. Aku, tentu saja masih ingin melanjutkan pengembaraan. Berharap, suatu hari nanti, Aku tidak mati sakit-sakitan diatas kasur. Aku ingin mengakhiri kehidupan ini, dengan cara ala Pejuang. Pejuang kehidupan yang mati bukan karena korengan, tapi tebasan pedang.

            Terkadang, Aku menyesal. Menyesal, karena dulu tidak sempat menjadi seorang yang total. Jagoan paling nakal bukan, siswa rajin berprestasi membanggakan juga bukan. Mungkin, inikah penyesalah seorang remaja yang hidupnya serba nanggung?

            Sekolah, wajah-wajah silih ganti keluar-masuk. Ratusan lulus, ratusan mendaftar. Ratusan bebas, ratusan terkekang. Ratusan membangun kenangan, ratusan menghapus ingatan. Aku tidak terlalu paham, apa sesungguhnya yang diinginkan oleh Sang waktu. Dengan romantisnya ia mempertemukan, tapi, secara kejam ia memisahkan.

            Kejam, jahat, sadis. Sekelompok anak manusia, tiga tahun bersama, menjalani suka maupun duka. Tanpa alasan yang pasti, memisahkan segala. Semuanya, hanya tersisa remah-remah kenangan yang sudah sulit sekali untuk dipungut dan dipersatukan.

            Oh sang waktu, kejamnya engkau. Merayuku untuk membuka pelukan, menawarkan jabat tangan, lalu, seenaknya kau pisahkan persahabatan yang terlanjur tumbuh pelan-pelan.

            Setelah bertahun-tahun terasing, terlempar, terburai, tiba-tiba turun dari langit gagasan tentang penyatuan kembali. Berharap, luka sejarah dan coretan lembar kenangan, dapat terobati dengan suatu pertemuan. Tapi, bukankah tidak ada reuni yang benar-benar menyatukan kembali?

            Entahlah. Tidak ada yang salah. Kalaupun terpaksa mencari biang keladi, tentu, Akulah yang tidak benar. Siapa suruh datang ke pertemuan, bila takut akan datangnya perpisahan? Bukankah hukum alam memang begitu. Siapa datang, dia harus pergi. Siapa menyatu, harus siap berpisah. Siapa masuk, harus keluar pada waktunya.

            Kata orang, yang sudah lewat, tidak perlu disesali. Menangisi masa lalu, hanya akan menarik derita ke masa yang akan datang. Meratapi apa yang sudah menjadi takdir, hanya akan mengundang penyesalan datang, dan tak mau pergi lagi. Mungkin ada benarnya. Bahwa, lebih baik mensyukuri remah-remah kenangan yang tersisa, dari pada mengutuk sesuatu yang sudah terlanjur pergi.

            Terkadang, sejarah memaksa kita untuk kembali mengingat-ingat. Dan bila dipaksa untuk membongkar kembali tumpukan bingkai kejadian, ada ribuan hasrat, minat, rasa dan niat yang tidak selesai. Masa tiga tahun, bukanlah waktu yang lama. Waktu yang berjalan singkat tersebut, memaksaku untuk membatalkan rencana-rencana yang sebelumnya terlintas dibenak.

            Tiga tahun, menjadi amat singkat. Terlebih, bila hidupmu habis hanya untuk tunduk dan patuh pada ketentuan-ketentuan, pada peraturan yang seringkali tidak pernah Anda pahami untuk apa. Hampir, tidak ada yang mampu menjelaskan secara memuaskan, bahwa, segala yang kita lakukan dulu, akhirnya berguna untuk apa pada masa kini.

            Ada yang salah memang. Seharusnya, pertama kali masuk ke kawah candradimuka, ada penanaman ideologi yang tuntas. Pola pikir yang dibangun, tidak mempunyai landasan yang kokoh untuk modal pada masa yang akan datang. Dengan selesainya internalisasi tujuan pendidikan, seorang siswa menjadi mampu menjawab pertanyaan yang pasti datang kepadanya; ‘’mau ke arah mana hidupmu?’’.

            Diatas tumpukan rongsokan pesimisme, beberapa orang mencoba berhenti dari mengutuk. Disadari, ocehan dari jauh, tidak pernah membuat segalanya menjadi baik. Kritik terhadap kehidupan, yang terlalu keras dan nyaring tanpa diikuti usaha konstruktif, akan meruntuhkan segalanya yang tersisa. Aku, tentu saja, tidak terlalu suka tinggal di wilayah radikal.

            Segalanya, sudah berlalu. Waktu tujuh tahun, sudah teramat jauh untuk kita kembali memasukinya. Tujuh tahun, sudah menjadi kuburan kenangan yang tidak mungkin kita bangkitkan. Tapi, masih ada sisa-sisa ingatan, yang barangkali itu meski tidak mungkin menjadi penebus, setidaknya dapat menghibur meski hanya beberapa saat.

            Entah ini hanya igauan malam hari, atau khayalan jiwa terasing. Seandainya Aku hidup seribu tahun lagi, Aku berjanji, tidak akan pernah menyesali apapun yang terjadi tujuh tahun silam. Aku lebih mencintai apa yang tersisa, dari pada menyumpah serapah apa yang hilang. Biar, biarlah yang pergi menjauh dari hadapan. Kita masih punya hari esok yang cerah dan tiada guna larut dalam penyesalan.

            Masa lalu, memang diperintahkan untuk berlalu. Masa kini, ditugaskan untuk berjalan pelan dan memberi waktu kita untuk merenungi yang sudah lewat. Masa depan, sedang dibangun, dipoles, dicat, diwarnai dan dipersiapkan untuk kita tinggali.

            Bicara masa lalu, tiba-tiba, Aku tak pernah merasa sebijak ini. Biar, biarlah malam ini Aku menjadi seorang Pembijak. Meski kedewasaanku hanya berlangsung beberapa menit. Jujur, pada umurku yang segini, ada kalanya Aku rindu masa kanak-kanakku. Masa MTs, Aliyah, bermain air, mengejar layang-layang, memancing, mencuri mangga tetangga, semuanya. Aku rindu semua itu. Aku rindu di desa.

            Entahlah. Malam ini terasa amat panjang. Jangkring berderik, dedaunan tertiup angin, gemericik air jatuh dari keran yang bocor depan rumah, auman anjing liar di kejauhan. Semua seolah menemaniku dalam sepi malam ini. Dalam gelap, wajah-wajah sunyi malu-malu menampakkan rahasianya. Aku makin tenggelam, dalam bunyi laptop tua, dua jariku menekan kesana-kemari seolah aku memijatinya.

            Mataku mulai memerah. Tenggorokanku butuh air bening. Punggungku mulai bilang, kalau dia butuh rebahan. Mungkin, sampai disini saja ingatanku membelayang jauh melintasi putaran waktu. Aku berharap, reuni yang akan datang, mereka yang pernah ku kenal, datang dan meluangkan waktu, menyapa kawannya yang dia kenal dari masa lalu.