Problematika dan prinsip pencegahan HIV/AIDS di lihat dari tinjauan umum problem HIV/AIDS merupakan sebuah fenomena luar biasa yang terjadi dalam dunia modern. Penyakit yang menghancurkan sistem pertahanan tubuh manusia dan kehidupan sosial seseorang.

Pengertian HIV/AIDS merupakan akronim dari Human Immunodeficiency Virus. Virus HIV/AIDS merupakan virus yang menyebabkan berbagai penyakit komplikasi yang kemudian disebut sebagai AIDS (Acquired Immunodefiency Syndrome).

HIV/AIDS muncul berupa berbagai penyakit komplikasi yang memberat dikarenakan sistem imun yang lemah dikarenakan virus HIV/AIDS telah menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

Jika tidak diobati dengan menggunakan ARV atau peredam pergerakan virus maka fase menuju AIDS kisaran lima hingga sepuluh tahun.

Teori asal usul HIV/AIDS dari segi teori Kera Hijau menurut Robert Gallo, seorang ilmuwan medis yang bergerak di bidang penanganan AIDS di dunia, dan menjadi rujukan beberapa ahli ahli virus kanker terpandang dan ahli edimologi pemerintah AS, menurutnya HIV/AIDS bermula dari kera hijau di Afrika.

Teori kera chimpanse pertama kali menginfeksi manusia di sub-Sahara Afrika pada kurun pertama abad ke-20. Terjadi penularan Virus HIV/AIDS dari chimpanse ke manusia melalui darah chimpanse.

Ketika melakukan pemburuan dan penyembelihan daging, yang menyebabkan penularan melalui darah ke area kulit yang terbuka.

Teori pencemaran vaksin, teori ini mengatakan bahwa virus HIV/AIDS berasal dari vaksin polio terkontaminasi dengan virus binatang seperti kera dan chimpanse, yang disuntikkan kepada penduduk Afrika pada akhir dasawarsa 1950-an.

Teori penyakit buatan manusia, pada bulan Oktober 2004, ahli biologi dan ekologi Wangari Mathai mendapat hadiah Nobel untuk perdamaian.

Pada acara penerimaan hadiah, ia mengejutkan para wartawan dengan mengumumkan bahwa dalam pandangannya, HIV/AIDS adalah sebuah penyakit ciptaan manusia.

Sejarah dan Perkembangan Kasus HIV/AIDS dimulai pada tahun 1979 di Amerika Serikat yang diketahui ditemukan oleh dua orang lelaki dengan keadaan mengalami Pneumocystis Carini dan Sarcoma Kaposi.

Kemudian di tahun 1981 ditemukan seorang laki laki dengan kerusakan sistem imun atau kekebalan tubuh. 21 Di Inggris dan juga terjadi di Amerika Utara, epidemik pertama kali merebak pada kelompok gay (homoseksual).

Selanjutnya penyebaran virus juga terjadi terhadap pemakai narkoba yang memanfaatkan injeksi (jarum suntik) non-steril yang digunakan secara bergantian. HIV/AIDS juga menginfeksi kalangan heteroseksual yang berganti-ganti pasangan.

Perilaku seks bebas dengan tanpa menggunakan alat kontrasepsi berupa kondom merupakan media utama transmisi penularan virus HIV/AIDS. Di Indonesia sendiri, kasus HIV/AIDS untuk pertama kalinya diketahui sejak April 1987 di Bali yang merupakan warga negara Belanda.

Jumlah akumulasi penderita HIV/AIDS tercatat dari tahun 1987 hingga 2011 terjadi di beberapa provinsi besar di Indonesia, yaitu 368 (73,9%) dari 498 kabupaten/kota di seluruh (33) provinsi di Indonesia.

Jumlah ini menjadi catatan penting adanya lonjakan yang cukup signifikan berdasarkan hasil laporan data kasus HIV/AIDS di Indonesia yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 

Jumlah penderita HIV/AIDS setiap tahunnya terus mengalami peningkatan sangat signifikan antara tahun 2009 hingga 2010.

HIV/AIDS : problem medis dan sosial-keagamaanproblem terpenting HIV/AIDS dalam konteks sosial-keagamaan setidaknya dapat diidentifikasi melalui dua hal.

Pertama, masalah stigma Sudah menjadi rahasia umum bahwa masyarakat memandang bahwa AIDS adalah bentuk penyakit kutukan yang disebabkan oleh penyelewengan sang penderita.

Biasanya mereka menggunakan argumentasi agama untuk mendukung stigma tersebut. Berbagai pandangan moral yang bersumber dari teks-teks agama digunakan untuk menyerang sang korban. Mereka menilai bahwa penderita HIV/AIDS adalah orang-orang yang berdosa dan tidak menjauhi larangan Tuhan.

Oleh karena itu, secara sosial-keagamaan hal ini menjadi problem ketika para pengidap harus merasakan sakit berlapis, yakni menderita secara biologis dan juga menderita secara psikologis dan sosial. Tentu permasalahan ini membutuhkan penyelesaian yang segera.

Kedua, masalah peran sosial dan agama. Secara problematis agama hingga saat ini masih sangat minim peranannya dalam menanggulangi permasalahan HIV/AIDS.

Terlihat masih sedikitnya program-program terpadu yang secara khusus dimaksudkan sebagai upaya preventif maupun kuratif terhadap permasalahan HIV/AIDS.

Kepekaan agama dan juga para pemimpin agama dalam rangka membawa issu HIV/AIDS dalam konteks keberagamaan dapat dikatakan tidak ada.

Untuk itulah, dibutuhkan seperangkat gagasan dan upaya sungguh-sungguh dalam rangka mengarusutamakan pemikiran dan upaya agama dalam mengurusi masalah HIV/AIDS di tengah kehidupan masyarakat.

Transmisi HIV/AIDS dan fenomena gunung es diantaranya, transmisi seksual penularan melalui interaksi seksual, baik Homoseksual juga Heteroseksual. Cairan semen dan caira vagina merupakan medium penularanya.

Transmisi non seksual, terbagi menjadi tiga bagian, yaitu penularan oleh orang tua (transmisi parental), penularan melalui transfusi darah atau produk darah dan transmisi plasenta. Odha dan fenomena gunung es intinya, jumlah pasien yang dilaporkan hanya sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya.

Prinsip pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS melalui perspektif kesehatan, pendidikan dan sosial diantaranya, tidak melakukan seks ( puasa seks), saling setia pada pasangan, dan penggunaan kondom merupakan cara efektif untuk mencegah penyebaran.

Kemudian dengan cara hindari penggunaan jarum suntik yang tidak steril atau terinfeksi, dan pendidikan seks serta informasi yang tepat tentang HIV/AIDS.

Pencegahan HIV/AIDS pada Al-Qur’an dalam perspektif Al-Qur’an adalah pedoman kehidupan umat islam yang berisi ajaran-ajaran yang berbentuk perintah, himbauan, larangan dan kisah. Begitu pula dalam kaitannya dengan upaya pencegahan HIV/AIDS dalam konteks medis dan sosial keagamaan.

Pencegahan penyebaran HIV/AIDS dapat dilakukan dengan mewujudkan nilai-nilai universal dan kemanusiaan. Dengan kata lain, Al-Quran menguraikan pesan moral tentang perlindungan manusia, termasuk perlindungan dari penyakit endemik seperti HIV/AIDS.