Sebuah mobil mewah tiba-tiba parkir di restoran padang kami. Dua orang turun, dan segera mengambil meja paling bersih yang ada. Satu seorang Bule dengan rambut putih dan yang lain seorang  Indonesia dengan wajah lebih muda. Orang yang lebih tua memberikan kode pada yang lebih muda. Pelayanpun datang segera mencatat semua pesanan mereka. Tak tanggung-tanggung mereka memesan banyak sekali makanan untuk porsi dua orang.

Dalam sekejap, meja mereka pun mulai penuh dengan berbagai masakan padang yang ada. Mulai dari rendang, ayam pop, cumi gulai, kakap , kembung, paru, otak dan masih banyak lagi. Setelah pelayan pergi, mereka segera melahap habis makan-makan di depannya.  Sungguh rakus dua orang keren itu, batin sang pelayan yang melihat mereka berdua. Selesai makan, merekapun memanggil kembali pelayan yang melayani mereka.

Pelayan itupun, menyodorkan tagihan yang cukup fantastis, mengingat pesanan mereka yang memenuhi meja. Melihat bill yang ada, yang lebih tua member kode pada yang lebih muda. Iapun segera berdir dan mulai bicara pada pelayan.

“Tidak tahukan kamu siapa Beliau ini?” Tanya orang itu.

Sang pelayan hanya melirik ke arah pria bule gendut yang duduk kekenyangan. Ia menggeleng.  

“Ia adalah Duta Besar dari Negara Sahabat!” teriaknya.

“Dan beliau merasa sangat terhina!.”

Pelayan tadi hanya melongo.

“Pertama, kursi ini tak memenuhi standar sama sekali! Ke-dua meja di sini jelek, kotor, murahan, makanan pun rasanya tidak enak!. Tidak bersih.  Kamu menyuruh kami membayar semua ini! Ini adalah penghinaan. Kami bisa menuntut anda atas semua penghinaan ini!”

Mendengar semua itu, sang pelayan ketakutan dan meninggalkan mereka. Dua orang berjas itupun bangkit dari tempat duduknya. Namun, sang kasir mendatanginya.

“Maaf, apakah Tuan Duta Besar sudah membayar semua ini?” Tanya sang kasir sambil menunjuk semua piring kosong di meja mereka.

“Kami tidak akan membayar semua penghianan ini!”

Kasirpun tersenyum. Ia mengeluarkan Tab Besar miliknya. Ia mencari nomor dan mulai menelepon.

“Halo, Iya Pak Presiden, Tamu kehormatan Bapak, sudah datang. Beliau sudah menghabiskan semua makan yang di pesan, namun Beliau tidak mau membayar semua pesanan makana ini…”

Mendengar percakapan itu. Pelanggan yang lebih muda segera meminta sang kasir menghentikan percakapannya. Ia mengeluarkan uang dan memberikannya pada kasir itu. Ia pun segera pergi. Melihat kasir itu kembali dengan sejumlah uang, sang pelayan menanyainya. Bagaimana ia bisa membuat dua pelanggan berkelas itu membayar semua makanan yang sudah mereka lahap habis. Kasir itu pun tersenyum dan menunjukkan bahawa ia pura-pura menelepon presiden.

Kata bijak : Bayarlah apa yang harus kamu bayar!