Tulisan ini saya buat dalam konteks kasus perkosaan laki-laki pada perempuan. Karena mayoritas kasus yang tercatat adalah seperti itu, meskipun kenyataannya banyak pula terjadi kasus kejahatan seks sesama jenis dan sebagainya.

Pada 2 April 2016 lalu, seorang pelajar SMP bernama Yuyun menemui nasib yang tragis. Ia diperkosa secara bergilir oleh 14 remaja  kemudian dibunuh lalu mayatnya dibuang di sebuah jurang.

Saat kasus ini terungkap di media, ramailah masyarakat beserta para tokoh mengutuk insiden tersebut. Terutama para tokoh, yang seolah mendapatkan panggung gratis untuk kampanyekan agendanya, yang dibuat seolah relevan, bahkan sebagai panasea untuk segala kebejatan moral yang berpotensi merenggut korban seperti Yuyun.

Agenda-agenda mereka antara lain:

1. Miras harus dilarang
2. Wanita harus lebih menutup aurat
3. Sensor di internet harus lebih diketatkan 
4. Film, sinetron, game yang dianggap memicu impuls kekerasan dan seksualitas harus dilarang. 
5. Dan seterusnya.

Apakah data-data yang dijadikan landasan untuk agenda mereka valid? Well.. Saya berikan satu saja data di bawah ini terkait korelasi antara miras dengan angka perkosaan:

Peta di atas, selain menunjukkan korelasi sangat kecil antara miras dengan perkosaan, juga mengatakan kepada kita betapa rendahnya kasus perkosaan di negara-negara yang terkenal suka mengumbar aurat baik di film, majalah atau di kehidupan sehari-hari. Bahkan di antaranya merupakan produsen besar pornografi!

Kok bisa begitu? Bukankah penyebab utama perkosaan adalah libido? Seharusnya tempat di mana aurat tertebar dan pornografi tersebar maka tingkat perkosaannya semakin tinggi dong? Dan semestinya tempat di mana wanita diwajibkan berpakaian tertutup, dilarang berduaan dengan lawan jenis dan ada segregasi berdasarkan jenis kelamin di ruang publik maka angka perkosaannya semakin rendah dong?

Ya, begitulah logika yang sering diajarkan kepada kita.

Penekanan berlebihan pada aurat sebagai penyebab nafsu tak terkendali pria, menempatkan kaum hawa seolah turut bertanggung jawab dalam kasus-kasus pelecehan dan penyerangan seksual terhadap mereka. Dan secara implisit malah mengesankan para pelaku sebagai pihak pasif yang terprovokasi.

Contoh penekanan berlebihan pada aurat, yang menganalogikan tubuh wanita sebagai permen

Contoh penekanan berlebihan pada aurat, yang menganalogikan tubuh wanita sebagai permen


Saya jarang mendengar penekanan pada pria untuk tidak melecehkan wanita, walaupun fisik/pakaian/gaya lawan jenis yang mereka lihat begitu menggiurkan. Ini sama jarangnya dengan digarisbawahinya kata CONSENT (suka sama suka dengan kesadaran penuh) dalam berhubungan seks.

Yang sering kita dengar adalah wanita harus menutupi tubuhnya, harus menjaga perilakunya, agar tak memprovokasi libido kaum adam.

Kita harus membalik kebiasaan berpersepsi seperti ini. Perkosaan dan pelecehan adalah murni kesalahan pelaku. Korban tidak boleh disalahkan. Begitupun faktor eksternal seperti miras/narkoba/pornografi jangan sampai dijadikan alasan yang meringankan pelaku karena dianggap mengurangi kesadarannya dalam melakukan kejahatan itu.

   

Victim blaming dianggap sebagai kewajaran, bahkan juga dilakukan oleh sesama kaum wanita

Victim blaming dianggap sebagai kewajaran, bahkan juga dilakukan oleh sesama kaum wanita
 

Jadi, menurut hemat penulis, agar masyarakat lebih suportif dalam pencegahan tindak kejahatan seks dan pemulihan korbannya, kita harus menyadari beberapa hal. Pertama, inisiator dan pemicu tindak kejahatan pemerkosaam ada pada diri pelaku. Berhenti melempar tanggung jawab pada korban. 

Kedua, faktor eksternal yang diasumsikan memicu tindak kejahatan (miras, narkoba, pornografi, dsb.) sangat sedikit korelasinya. Jangan terlalu fokus mengurusi faktor ini, karena korelasinya kecil. Ketiga, jangan terlampau menekankan pembatasan ekspresi wanita (pakaian, kesopanan, dsb) di ruang publik. Tapi imbangi dengan menanamkan kesadaran bahwa tak seorang pun layak dilecehkan apapun pakaian, penampilan dan perilakunya. Titik beratkan pada konsep CONSENT. 

Contoh Penjelasan Konsep Consent

Contoh Penjelasan Konsep Consent 

Dengan analogi yang sederhana: bisakah pemilik kendaraan disalahkan atau dianggap turut bertanggung jawab dalam kasus curanmor karena mobil mahalnya menimbulkan keinginan mencuri dalam diri sang maling?