51429_17403.jpg
Politik · 4 menit baca

Respons Amerika Serikat terhadap Kasus Pembunuhan Jamal Khashoggi

Dunia internasional telah dihebohkan atas kasus pembunuhan Jamal Khashoggi, reporter asal Arab Saudi keturunan Turki pada Oktober 2018. Topik tersebut menjadi pembahasan masyarakat internasional karena ada beberapa kejanggalan mulai dari penyebab kematiannya hingga keberadaan jasad yang sampai saat ini masih menjadi misteri.

Peristiwa ini memang menarik perhatian banyak negara dan masyarakat internasional secara luas. Beberapa kebijakan baru negara lain bahkan turut ditentukan sebagai bentuk sikap adanya peristiwa pembunuhan Khashoggi yang terjadi di dalam Konsulat Saudi di Istanbul, Turki. Sebut saja Jerman, Firlandia, dan Denmark yang memutuskan untuk menghentikan penjualan senjata ke Arab Saudi.

Kendati demikian, Amerika Serikat menjadi negara yang hubungan diplomatiknya dengan Arab Saudi tetap terjaga. Tak ada pengaruh antar keduanya meskipun sempat ada kabar bahwa Presiden Amerika, Donald Trump menekan Arab Saudi agar segera membeberkan faktar seputar pembunuhan reporter senior berusia 59 tahun tersebut.

Sejatinya sikap Amerika Serikat terhadap pembunuhan Khashoggi memang kian berubah. Awal munculnya pemberitaan terbunuhnya Kashoggi dan adanya rasa curiga terhadap Arab Saudi, Trump meminta masyarakat internasional untuk tidak buru-buru menuduh putra mahkota Arab Saudi. Selanjutnya Trump terpaksa harus menjilat ludah karena mengungkapkan hal berbeda setelah ditemukan beberapa bukti.

Amerika Serikat memang merasa dilema atas peristiwa terbunuhnya Kashoggi dan dugaan kuat bahwa MBS adalah otak di balik kasus tersebut. Amerika tak bisa menutup mata atas berbagai fakta yang diungkapkan banyak pihak namun harus berusaha untuk tetap menjaga hubungan baiknya dengan Arab Saudi. Pasalnya hubungan diplomatic Amerika dan Arab Saudi telah terjalin selama puluhan tahun dan Arab menjadi ladang penjualan senjata terbesar khususnya sejak tahun.

Diwartakan beberapa media Tanah Air dan luar negeri, Donald Trump mengaku mendesak Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed Bin Salman (MBS) untuk bertanggungjawab atas kematian sang reporter. Namun sayang hal tersebut tak berlangsung lama dan rasa curiga presiden ke-45 Amerika Serikat ini kepada pemerintah Arab Saudi pudar setelah beberapa jawaban yang diberikan sang putra mahkota. Tak sedikit pula parlemen Amerika yang menuding secara terang-terangan adanya keterlibatan putra mahkota Saudi sebagai otak pembunuhan Khashoggi.

Tak bisa dipungkiri bahwa pembunuhan Jamal Kashoggi di gedung konsulat Saudi di Turki adalah salah satu pelanggaran hukum internasional. Pengakuan tersebut disampaikan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Mike Pompeo yang diikuti dengan penjelasannya terkait sikap pemerintahan Amerika Serikat atas kasus tersebut. 

Meskipun mengakui bahwa pembunuhan Kashoggi telah melanggar norma hukum internasional namun Amerika Serikat tidak ingin hal tersebut untuk merusak hubungan diplomatiknya yang telah berlangsung puluhan tahun dengan kerajaan Arab Saudi.

Kerjasama Arab terjalin puluhan tahun karena keuntungan yang mampu diraup keduanya. Sebagai Negara super power, Amerika melakukan produksi senjata secara terus menerus dan membutuhkan pasar yang mana pilihan tersebut jatuh pada Negara Arab. Selain itu, Arab juga menjadi ladang kuat Amerika untuk mendapatkan impor minyak.

Amerika Serikat mengimpor minyak ribuan barel per harinya sampai saat ini. Eksportir minyak Arab Saudi ke Amerika sebanyak 1.338.000 barel per hari pada tahun 2017. Sementara itu Amerika menjadi Negara terbesar yang mendapatkan ekspor senjata dari Arab Saudi. Keduanya saling mengalami ketergantungan sehingga memiliki hubungan langgeng.

Sejak hubungan bilateral keduanya terbentuk belum ada satupun kejadian yang mampu menggoncang kemesraan dua Negara tersebut. Jauh sebelum peristiwa terbunuhnya Jamal Khashoggi, Amerika dan Arab mengalami peristiwa kurang nyaman yakni peristiwa 11 September pada tahun 2001. 

Namun nyatanya hal tersebut tidak lantas membuat hubungan diplomatic keduanya terganggu. Fakta ini cukup menunjukkan bahwa Amerika Serikat dengan Arab memang kawan sejati yang sulit dipisahkan karena keduanya sama-sama meraih keuntungan dengan jumlah besar atas kerjasama tersebut.

Hal tersebut memang wajar karena kepemilikan Arab Saudi terhadap minyak yang mencapai angka 18% dari cadangan minyak di dunia. Sementara Amerika kaya akan produksi senjata dan Arab dipilih sebagai salah satu pasar terbesarnya. Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir, Amerika dan Arab terus meningkatkan kerjasama menjadi lebih dari US$350 miliar. Pada tahun 2017, Arab dan Amerika menandatangani kesepakatan persenjataan senilai lebih dari US$110 miliar atau Rp 1.667 triliun.

Lebih lanjut ada kerjasama yang dijalin Arab dan Amerika Serikat dengan jumlah besar yakni di bidang ekonomi. Demi memenuhi infrastruktur Amerika yang sudah semakin tua, Arab menyiapkan Rp 266 Triliun untuk hal tersebut pada tahun 2017. Tak heran Amerika menjadi Negara yang tak akan mampu memutuskan hubungan harmonis dengan Negara penghasil minyak terbesar di dunia itu.

Banyak kepentingan yang dimiliki Amerika terhadap Arab begitu pula sebaliknya. Sejarah panjang keduanya sebagai Negara partner membawa dampak pada eratnya hubungan Amerika dan Arab baik dalam bidang ekonomi, militer, bahkan keamanan. Ekspor impor Amerika dan Arab harus terus terjadi sehingga kekuatan keduanya akan terus terpupuk. Selain itu, Amerika tidak bisa melepaskan hubungan diplomatiknya dengan Arab, salah satunya demi menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah.

Fakta-fakta pentingnya hubungan Amerika dengan Arab tersebut cukup menjawab alasan Negara super power itu untuk tidak mengambil banyak resiko dalam menyikapi kasus kematian Khassoghi. Pasalnya perjalanan bisnis dan keamanan Amerika di bawah kerajaan Arab dirasa lebih penting jika dibandingkan dengan urusan kemanusiaan seorang wartawan asal Arab yang bekerja di salah satu media yang terletak di Amerika.