Antimicrobial Resistance (AMR) merupakan salah satu masalah kesehatan di Dunia maupun di negara Indonesia yang sangat serius dan harus segera ditangani.

Beberapa ilmuan menyatakan jika masalah resistensi antibiotic terus dibiarkan, maka diprediksi penggunaan antimikroba di Indonesia akan mengalami pengingkatan yang cukup signifikan.

Terjadinya resistensi terhadap antibiotik dapat menimbulkan kerugian dalam berbagai aspek, baik dalam aspek kesehatan, ekonomi, psikologis, dan lain seterusnya.

Hal tersebut membuat menanganan masalah resistensi terhadap antibiotik harus dilakukan dengan adanya kerjasama antar lintas sektoral terkait.


Kenapa Resistensi Antibiotik bisa terjadi?

Hal yang melatarbelakangi munculnya permasalahan resistensi antibiotic adalah masyarakat yang sering kali melakukan penyalagunahan dalam menggunakan atau mengkonsumsi antibiotik.

Pengobatan penyakit menggunakan antibiotic sampai saat ini masih marak terjadi dikalangan masyarakat umum. Mengingat belum adanya kebijakan yang jelas tentang tata cara pemakaian atau penggunaan antibiotik.

Pahadal kenyataannya tidak semua jenis penyakit membutuhkan mengobatan dengan menggunakan antibiotik.

Diketahui bahwa Antibiotik merupakan obat yang berguna untuk mencegah serta mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri atau mikroba. Oeh sebab itu penyakit yang disebabkan infeksi virus tidak dapat diobati menggunakan antibiotik.

Adapun beberapa faktor yang menjadi penyebab utama terjadinya masalah Antimicrobial Resistance (AMR) adalah:

Pertama, praktisi kesehatan yang seringkali memberikan resep antibiotik hanya berdasarkan diagnose klinis atau berdasarkan pengamatan terhadap gejala klinis yang dialami oleh pasien tersebut, tanpa melakukan pengujian diagnotik atau penegakan diagnose melalui pemeriksaan laboratorium terlebih dahulu.

Kedua, cara mengkonsumsi antibiotik yang tidak sesuai aturan pakai. Jadi resistensi terhadap antibiotik dapat disebabkan oleh terjadinya low maupun over konsumsi antibiotik.

Ketiga, menggunaan antibiotik secara bebas di masyarakat yang disebabkan oleh mudahnya akses untuk membeli atau mendapatkan antibiotik tersebut, dan lain seterusnya.


Dampak terjadinya Resistensi Antibiotik  

Resistensi terhadap antibiotik membuat penyakit yang awalnya dapat disembuhkan dengan mengkonsumsi jenis antibiotik tertentu kini menjadi tidak bisa lagi digunakan.

Jika dulu diketahui terdapat beragam jenis antibiotik, kini hanya tinggal beberapa antibiotik saja yang dapat digunakan atau direkomendasikan oleh Rumah Sakit. Hal tersebut akhirnya membuat anbiotik menjadi langkah dan harganya juga menjadi mahal.

Berdasarkan data Word Bank (2017) diketahui bahwa kasus AMR atau resistensi antibiotik ini dapat menyebabkan kenaikan beban layanan kesehatan pada penanganan penyakit Tuberkolosis di US dan India. Bahkan kenaikan tersebut mencapai lebih dari 10 kali lipat dari beban penanganan penyakit Tuberkolosis tanpa kasus AMR.

Berdasarkan penelitian Thorpe et al. (2018) yang di publish di jurnal Health Affairs memaparkan bahwa kasus AMR menyebabkan terjadinya peningkatan biaya pengobatan sebesar 1.383 USD per pasien.

Sedangkan menurut penelitian Naylor et al. (2019) yang di publish di Jurnal PLoS ONE menyebutkan bahwa di negara Inggris masalah AMR pada kasus resistensi Sefalosporin generasi tiga menyebabkan terjadinya peningkatan biaya beban kesehatan sebesar 420 pounds per kejadian infeksi.

Wozniak et al. (2019) menyebutkan ada beberapa katagori biaya atau kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari terjadinya kasus AMR ini, yaitu biaya langsung, tidak langsung dan biaya tidak teraba.

Pertama, Biaya langsung dapat meliputi biaya medis dan non medis, yaitu biaya perawatan, biaya obat dan biaya transportasi yang harus dikeluarkan oleh pasien menuju fasilitas layanan Kesehatan.

Kedua, Biaya tidak langsung yaitu terjadinya penurunan produktifitas pasien karena sakit serta waktu produktifitas yang hilang dari keluarga karena harus merawat pasien.

Ketiga, Biaya tidak teraba yaitu dampak psikologis yang timbul akibat penyakit yang diderita oleh pasien.

Sehingga penting untuk dilakukan upaya pencegahan dan penanggulangan masalah resitensi antibiotik. Mengingat banyaknya dampak yang ditimbulkan akibat masalah tersebut, baik dalam aspek kesehatan, ekonomi, psikologi dan lain seterusnya.

 

Pencegahan Resistensi Antibiotik

Adapun upaya untuk mengendalikan resistensi terhadap antimikroba (AMR) adalah dengan meminimalisir penggunaan atau konsumsi antibiotik.

Jadi setiap orang tidak diperbolehkan mengkonsumsi atau meminum atibiotik jika tidak benar-benar dibutuhkan dan atau tanpa resep dokter karena kita tidak bisa melakukan eradikasi.

Upaya tersebut dapat didukung dengan peran dokter dalam memberikan resep atau sebisa mungkin menghindari membeikan resep antibiotik pada seorang pasien. Jadi dokter hanya akan memberikan resep antibiotik jika diagnose berdasarkan hasil laboratorium benar-benar menunjukkan adanya infeksi mikroba.

Penanganan persoalan resistensi terhadap antibiotik juga harus dilakukan dengan melibatkan lintas sektor dan harus dikuatkan dengan adanya kebijakan yang jelas dari pemerintah

Jadi perlu dibuat suatu kebijakan yang dapat mencakup serta menaungi semua bidang atau sektor terkait. Sehingga tidak ada sekat atau penghalang dalam langkah pencegahan maupun penanggungan AMR.

Diharapkan adanya keterbukaan informasi, serta terjalinnya sinergitas dari masing-masing sektor terkait dalam menangani masalah AMR ini.

Masalah AMR ini akan dapat terasi dengan baik jika terdapat komitmen yang kuat, baik dari praktisi kesehatan maupun masyarakat secara umum, serta adanya dukungan dan regulasi kebijakan yang jelas dari pemerintah.

Selain itu juga penting dilakukan sosialisasi terhadap masyarakat terkait dengan jenis penyakit dan penyebabnya, apa itu antibiotik, bahaya resistensi terhadap antibiotik, dan seterusnya. Sehingga masyarakat menjadi teredukasi dan lebih bijak dalam menggunakan dan atau mengkonsumsi antibiotik.