Siapa yang tidak familiar dengan Sate Klathak? Masakan khas Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta ini memang sedang naik daun. Cara memasak dan memakan yang berbeda dengan sate-sate pada umumnya membuat banyak orang penasaran untuk mencicipi masakan ini.

Sate yang memiliki banyak keunikan ini banyak dijumpai di Jalan Imogiri, Kecamatan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Berbeda dengan sate lainnya, Sate Klathak tidak ditusuk dengan tusuk sate yang terbuat dari bambu, melainkan dengan jeruji sepeda dan memiliki ukuran potongan daging yang lebih besar dibandingkan sate pada umumnya .

Selain itu, Sate Klathak juga dibakar hanya dengan bumbu yang sederhana, seperti garam serta bumbu dapur lainya, dan tidak dihidangkan dengan bumbu kacang, tetapi sebagai gantinya Sate Klathak cocok dihidangkan dengan kuah gulai kambing sebagai pendamping.

Cita rasa yang berbeda dan unik akan sangat memanjakan lidah pencinta wisata kuliner. Daging kambing muda yang dibakar sampai empuk menambah kelezatan yang tidak akan membuat pengunjung, khususnya penggemar Sate Klathak kecewa.

Pencinta wisata kuliner mungkin hanya mengenal Sate Klathak sebagai masakan khas Bantul yang menjadi primadona karena keunikan dan cita rasanya. Di balik ketenaran Sate Klathak saat ini, ternyata resep Sate Klathak menyimpan banyak cerita dan sejarah yang menarik.

Jika Anda bertanya kepada para penjual Sate Klathak di sepanjang Jalan Imogiri, mungkin banyak dari mereka yang mengeklaim bahwa generasi merekalah yang memelopori adanya Sate Klathak. Hal tersebut mendorong adanya sebuah penelitian apakah resep Sate Klathak merupakan sebuah contested heritage.

Baca Juga: Filosofi Sate

Menurut Kok, (2018) contested heritage adalah posisi warisan yang diperebutkan sebagian besar pewaris selanjutnya dan tergantung pada bagaimana orang menyimpulkan makna objek budaya itu sendiri dan bagaimana seseorang memilih untuk menyimpan kenangan historis dalam ingatan mereka.

Setelah dilakukan observasi, didapatkan dua penjual Sate Klathak yang dianggap sebagai pioner dalam eksistensi masakan tersebut, yakni Pak Pong dan Pak Bari. Selain dianggap sebagai pioner, Sate Klathak Pak Pong dan Sate Klathak Pak Bari adalah dua warung Sate Klathak yang paling ramai didatangi oleh wisatawan pecinta kuliner.

Jika Anda mengaku sebagai penggemar Sate Klathak, pasti Anda sudah tidak asing dengan dua warung Sate Klathak tersebut. Warung Sate Klathak Pak Pong mulai banyak terdengar di kalangan masyarakat sejak terbitnya artikel mengenai warung beliau di media Kompas

Ditambah dengan adanya bencana gempa bumi pada tahun 2006 membuat Sate Klathak Pak Pong makin ramai didatangi oleh pengunjung yang merupakan relawan dari berbagai penjuru.

Beda halnya dengan warung Sate Klathak Pak Bari yang mulai terkenal sejak tahun 2000, adanya artikel pertama di media cetak Minggu Pagi Kedaulatan Rakyat merupakan titik awal ramainya pengunjung warung Sate Klathak Pak Bari.

Pak Pong mengatakan bahwa generasi pertama beliau, yakni kakek Pak Pong sendiri, sudah mulai berjualan sejak tahun 1960-an. Pak Pong yang melihat adanya peluang bisnis dalam berjualan Sate Klathak di Bantul akhirnya memutuskan untuk berjualan dengan resep turun-temurun sejak tahun 1997.

Berbeda cerita dengan Pak Pong, Pak Bari mengaku bahwa generasi pertama beliau, yakni nenek dari Pak Bari sendiri, sudah mulai berjualan sejak sebelum Indonesia merdeka. Berjualan di bawah pohon waru, nenek Pak Bari menamai masakan tersebut Sate Uyah. Dirasa kurang memikat, akhirnya Pak Bari mengganti nama Sate Uyah menjadi Sate Klathak yang terinspirasi dari nama biji buah melinjo.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Pak Pong dan Pak Bari, didapatkan fakta bahwa resep Sate Klathak Pak Pong dan Pak Bari sama-sama berasal dari generasi pertama mereka masing-masing dan diwariskan secara turun-temurun. Resep yang diwariskan secara turun-temurun tersebut tetap mereka pertahankan cita rasanya walaupun mengalami sedikit perubahan seiring berkembangnya zaman dan selera masyarakat. 

Hal menarik lainnya yang didapat dari wawancara bersama Pak Pong dan Pak Bari adalah keduanya sama-sama mengatakan bahwa konsep penggunaan jeruji sepeda sebagai tusuk sate dipelopori oleh masing-masing generasi pertama mereka. Hal tersebut menunjukan bahwa tidak hanya resep, melainkan juga cara memasak Sate Klathak yang dihargai sebagai suatu warisan budaya keluarga karena masih dipakai dan dipraktekan sampai saat ini.

Baik Pak Pong dan Pak Bari memaknai resep turun-temurun mereka sebagai suatu warisan budaya keluarga yang harus dijaga dan dipertahankan karena memilki kenangan historis dalam ingatan mereka masig-masing. Hal tersebut menjadikan resep Sate Klathak Pak Pong dan Pak Bari termasuk contested heritage.

Sate Klathak yang mempunyai banyak cerita di dalamnya tidak hanya menarik untuk diburu oleh wisatawan pecinta kuliner, tetapi sejarah dan cerita di balik resep Sate Klathak sebagai contested heritage adalah sesuatu yang sayang untuk dilewatkan, khususnya oleh wisatawan budaya.